Tak mau kalah, Dea ikut menatap tajam pada wanita yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ini sangat tidak sopan, apalagi Dea adalah tuan rumah di sini. Bagaimana bisa seorang tamu berani bersikap tidak sopan padanya.
“Apakah dengan mengetahui siapa aku, sangat penting buatmu?” tanya Dea dengan menghempas cengkeraman wanita di depannya.
“b***h! Apa kau tidak tau siapa aku? Beraninya kamu bersikap sombong di hadapanku!”
“Why not?”
“Jalang!” tangan perempuan itu melayang ke udara bersiap menampar pipi Dea. Namun, tiba-tiba ada tangan kekar yang menahannya.
“Baby...” lirih Aiden dengan sorot mata elangnya. Wanita itu langsung gelagapan. Sedangkan Dea menatap tajam suaminya tanpa bergeming sedikit pun.
‘Jadi dia adalah Wendy? Sangat memuakkan!’ benaknya ketika melihat scene romantis sepasang kekasih itu. Bukan romantsi karena lelaki itu menatap tajam kekasihnya, sedangkan wanita terintimidasi.
“Dia duluan By. Dia tidak sopan kepadaku,” adu Wendy dengan puppy eyes andalannya. Aiden melirik Dea sekilas lalu menghela napasnya pelan.
“Kamu tunggu sebentar ya, aku ingin bicara dengannya terlebih dahulu.” Lelaki itu mengarahkan Wendy untuk kembali duduk di sofa. Tanpa menunggu lebih lama Dea langsung melangkahkan kakinya ke kamar. Ketika akan membuka pintu, tiba-tiba Aiden sudah menahannya. Dahi berkerut dan tatapan tajam tak luput dari lelaki itu.
“Dari mana saja kamu?” interogasinya.
“Keluar.”
“Bukankah aku sudah melarangmu untuk keluar? Kenapa kamu keras kepala seperti ini?”
“Ada hal penting yang harusku lakukan.”
“Memang hal penting apa yang bisa kamu lakukan? Wanita bodoh sepertimu hanya bisa bersenang-senang saja bukan?” tuduh Aiden. Ia sangat mengetahui jika selama ini hidup istrinya hanyalah berfoya-foya, nongkrong, traveling, shopping, dan rebahan. Dea sangat tersinggung dengan ucapan suaminya. Ia menoleh dan menatap balik Aiden dengan sorot mematikan.
“Jika aku bodoh lalu kamu apa? CEO berengsek!”
Mata pria itu langsung melebar, wajahnya berubah menjadi merah padam.
“Kamu berani melawanku?” tanyanya tak terima dengan ucapan Dea.
“Kenapa tidak?”
Mereka pun beradu tatapan tajam, seakan ingin berkelahi. Tak gencar sedikit pun, Dea menyorot manik Aiden dengan beringas, dingin, sekaligus membara. Entahlah, itu sangat sulit dijelaskan.
“Ekhem!” deham Aiden menghentikan interaksi menegangkan ini.
“Sudahlah. Wanita sepertimu memang sangat sulit diatur.”
“Memang siapa yang memintamu untuk mengaturku? Kau terlalu percaya diri,” sanggah Dea yang tak ingin kalah. Aiden mendengkus napasnya dengan kasar. Beradu mulut dengan Dea terasa sangat melelahkan. Semua perkataan perempuan itu terpaut dengan telak tak tergoyahkan.
“Jangan pernah sakiti Wendy. Jika tidak, kamu akan mendapatkan balasannya,” ancam Aiden. Wanita itu hanya memberikan senyum mengejek padanya.
“Aku menyakiti Wendy? Bukankah sebaliknya? Wendy yang menyerangku terlebih dahulu. Kamu bisa cek di cctv. Gunakan otak kecoamu itu sialan!” Dea langsung masuk ke dalam kamarnya. Tangan Aiden mengepal dengan erat saat mendapat cemooh dari istrinya.
“Wanita kurang ajar!” dengusnya kesal. Tak lama kemudian, Aiden langsung kembali pada Wendy yang sedang menunggunya di ruang tamu.
“Ayo,” ajaknya seraya menggandeng tangan wanita itu. Wendy tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari kekasihnya.
Ketika berada di perjalanan, hati Wendy gusar memikirkan wanita yang ada di rumah Aiden.
“Em... Sayang?” panggilnya manja.
“Iya Baby?”
“Perempuan tadi siapa? Kenapa aku tak mengetahuinya sama sekali,” tanya Wendy hati-hati.
“Dia sepupu jauhku.” Aiden mengelus rambut kekasihnya dengan lembut.
“Sepupu? Kenapa dia serumah denganmu?” wanita itu masih penasaran dengan Dea. Apalagi orang yang dikenalkan Aiden sebagai sepupunya ini begitu berani berhadapan padanya.
“Dia lagi kuliah, karena jarak rumahku dan kampusnya sangat dekat jadi Mama memintaku untuk menampungnya.”
Wendy menganggukkan kepalanya beberapa kali, tanda paham dengan ucapan lelaki di sampingnya. Namun, di benaknya ada rasa tak suka dengan kehadiran Dea. Apalagi perempuan itu tinggal seatap dengan Aiden.
‘Aku akan mengusirmu jalang! Tunggu saja pembalasanku,’ batin Wendy. ‘Sekali saja kulihat Aiden tertarik kepadamu, maka kematian adalah hal yang pantas engkau dapatkan!’ Tangan Wendy mengepal erat menahan emosinya yang ingin membludak.
***
Di kamar benuansa cream dengan ranjang putih di tengah, Dea merebahkan tubuh yang baru saja ia bersihkan. Berendam dalam bath up setelah melakukan kegiatan yang panjang di siang hari membuat badannya lengket sekaligus pegal. Lampu gantung dengan aksesoris kristal bertengger di langit-langit kamar.
“Sangat indah,” pujinya ketika melihat lampu itu. Matanya perlahan menutup, rasa kantuk kian menyerang Dea.
Tok... tok... tok... suara ketukan pintu membuyarkan rasa ngantuknya.
“Ish, siapa sih yang menggangguku,” desis Dea yang kesal karen mendapat gangguan mendadak.
“Siapa?” teriaknya.
“Nyonya, ini saja Asih.”
“Buka saja Bik. Kamu bawa kunci kamarku kan?!” teriak Dea. Ia enggan berdiri hanya untuk membukakan pintu.
Ceklek! Daun pintu sudah terbuka, menampilkan wanita paruh baya dengan beberapa orang di belakangnya.
“Saya mengantarkan makan malam untuk Nyonya,” jelas Bik Asih. Dea langsung duduk menunggu troli makanan itu mendekat padanya. Plattingnya sangat cantik dan terlihat menggiur. Aroma daging dan pasta memanjakan hidung Dea hingga membuat perutnya bergemuruh hebat. Wanita itu lupa jika sedari siang tak melahap sesuap makanan pun ke dalam mulutnya.
“Terima kasih,” ucapnya pada pelayan yang sedang membuka dan menata alat makan di depannya. Senyuman tulus pun tak lupa diberikan Dea pada mereka.
“Selamat menikmati makan malamnya Nyonya,” ucap Bik Asih dan langsung pergi dari kamar Dea.
Ketika akan menyuapkan potongan danging ke mulutnya, lagi-lagi ada gangguan. Ponselnya berdering.
“Astaga! Penguntit ini terus-terusan menerorku!?” pekiknya. Ia membiarkan panggilan itu hingga berhenti sendiri. Sepotong daging terasa sangat empuk dan juicy. Sangat pas dengan cita rasa yang diinginkan Dea.
Ting! Sebuah pesan masuk membuat Dea mengerang keras.
“Argghhh! Kenapa tidak ada hari yang tenang untukku!”
Ia segera menyambar benda pipih tersebut. Ternyata dari penguntit.
[Selamat menikmati makan malam yang indah]
Tulis pesan tersebut dengan satu lampir foto dirinya yang sedang menyantap hidangan di meja. Mata Dea terbelalak melihatnya. Foto itu nampak di ambil dalam jarak yang dekat dari sisi jendela berkaca lebar. Ia langsung mengecek keadaan di sekitar. Nampak sangat sepi. Dan ketika melihat mencari penguntit itu, ia tak menemukannya. Namun, pikirannya langsung tertuju pada gedung bertingkat tinggi yang jaraknya cukup jauh dari rumah Aiden.
Karena merasa kesal, Dea memberikan jari tengahnya ke sana. Dia tahu jika orang tersebut sedang memantaunya di salah satu jendela gedung tinggi tersebut. Wanita itu langsung membalikkan badan dan menutup jendela itu dengan gorden.
“Dasar penguntit m***m!” gerutunya. Nafsu makannya langsung berubah signifikan.
[Hahaha... kau sangat lucu Dea.] Tak lupa melampirkan foto dirinya sedang menunjukkan f**k.
“What the duck! Dia benar-benar gila. Aku sangat kesal menghadapinya.”
[Jangan menutup semua jendela kamarmu. Kalau begini aku tidak bisa memantau keadaan di sekitar. Apa kau tau jika keselamatanmu sedang terancam sekarang?]
Alis Dea berkerut ketika membaca pesan itu. Ia tak mengerti Mr.Bad adalah orang yang jahat atau baik untuknya. Tapi ini membuatnya merinding hebat.
[Bukalah sedikit, setidaknya hanya memperlihatkan pintu kamar itu. Ini demi keamananmu.]