Kedua orang yang akan berkelahi itu sontak menoleh ke arah Dea. Suara perempuan itu berhasil memecah keributan yang terjadi.
“Jaga etika kalian, kita sedang berada di rumah sakit,” omel Dea lagi.
“Maaf Nyonya, tapi pria ini yang memaksa untuk masuk ke ruangan Pak Hando. Saya menjalankan tugas sesuai dengan perintah Nyonya, jadi saya mencegahnya agar tidak masuk,” jelas Toni. “Namun pria ini terus memaksa saya,” lanjutnya.
Supir pribadinya ini tampak ketakutan melihat tatapan tajam yang dikeluarkan Dea.
“Bagus, kamu bisa dipercaya Ton,” puji Dea pada Toni. Lelaki itu tersenyum puas, mendapatkan pujian dari majikannya adalah hal yang sangat bagus. Bisa saja ia akan mendapatkan bonus yang lebih banyak dari Dea.
Sepersekian detik berikutnya, wanita itu menatap berang pria yang ingin menerobos ke ruang Pak Hando.
“Siapa kamu? Berani-beraninya mau masuk ke ruangan saya,” tegas Dea dengan mata melalang menyorotkan kebencian.
Lelaki asing itu terpaku melihat perempuan di depannya.
“Hey!” panggil Dea. Kesadaran lelaki asing itu pun kembali.
“Oh! Aku mau menjenguk kakekku, Hando,” jawab pria itu.
“Maaf! Tidak bisa,” tolak Dea. Ia tak ingin seorang pun masuk ke dalam ruangan ini selain dirinya. Hal ini ia lakukan demi menjaga keamanan teman lama ayahnya.
“Bagaimana tidak bisa! Aku ini cucunya, apakah menjenguk kakek yang sedang sakit itu sebuah tindakan kriminal?” sungut lelaki itu menggebu-gebu.
Perempuan itu mengernyitkan dahinya dan tersenyum licik.
“Apakah kamu benar-benar cucunya? Bisa saja kamu adalah penyusup yang ingin membunuh Pak Hando,” balas Dea.
“Apa kau gila?!” Emosi lawannya tersulut karena mendengar ucapan Dea yang tajam.
“Pergilah!” usir perempuan itu.
“Apa aku terlihat seperti pembunuh?” tanya lelaki itu menahan emosi.
“Ya! Kamu persis pembunuh. Matamu berapi-api, raut wajahmu yang menahan emosi, dan lihatlah tanganmu mengepal erat seperti itu,” Dea menjelaskan hasil observasinya tak lupa menunjuk telapak tangan berurat lelaki itu.
Lelaki itu semakin geram. Sedangkan Dea terlihat santai.
“Pergilah sebelum aku memanggil security dan mengatakan jika kamu adalah penguntit!” ancam Dea dengan tatapan dingin. Tatapan itu mampu mengintimidasi lawannya dengan telak.
“Baiklah! Aku akan pergi, tapi kamu harus ingat! Jika terjadi sesuatu yang menyeramkan pada kakekku, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Camkan itu!” ancam balik pria itu.
“Ya, silakan pergi,” sahut Dea yang mulai jengah melihatnya.
Sebelum pergi, lelaki itu sempat melirik tajam Toni dan keduanya beradu tatapan ingin saling membunuh. Dea dengan sigap menyeret Toni agar menjauhi pria itu dan masuk ke kamar Pak Hando.
Lelaki itu masih saja memperhatikan kedua orang asing yang merawat Pak Hando.
Padangannya tak bisa terlepas dari Dea.
“Hah! Siapa perempuan itu!?” pekiknya.
Di sisi lain, kini Aiden sedang berada di kantornya. Ia berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk akibat dia yang absen selama beberapa hari untuk mengurus pernikahannya dengan Dea.
“Huft...” napasnya terdengar sangat melelahkan. Ia merasa capek mengerjakan semua tugasnya.
“Permisi Pak. Ada Pak Elvaro ingin berkunjung di ruangan Anda,” jelas Bella, sekretaris pribadi Aiden.
“Suruh masuk,” jawab Aiden yang masih memijit kepalanya yang terasa ingin meledak.
“Baik Pak.” Bella langsung melangkahkan kakinya dengan anggun meninggalkan ruangan CEO itu.
Ceklekk... Pintu ruangan itu terbuka menampilkan pria berjas rapi tetapi dengan muka kusut. Matanya nampak sayu dan kelelahan. Dia adalah Elvaro, direktur keuangan di perusahaan Aiden.
Lelaki itu langsung menutup pintunya rapat-rapat lalu mendekat kepada bosnya.
“Gawat!” pekik Elvaro. Aiden langsung mengerutkan alisnya, ia merasa ada hal buruk yang sedang terjadi.
“Ada masalah besar yang menimpa perusahaan!” lanjut Elvaro dengan penuh ketegangan.
“Apa?” tanya Aiden penasaran. Elvaro menjelaskan permasalahan hingga detail tanpa tersisa. Sedangkan Aiden memutar otaknya memahami konflik yang terjadi di perusahaannya.
Mereka berbincang hingga sore hari, memikirkan jalan keluar dari masalah yang sedang terjadi. Setelah mencari jalan keluarnya, Elvaro segera mengundurkan diri dan menjalankan perintah Aiden.
“Kenapa semakin banyak masalah yang terjadi di perusahaanku?” keluh Aiden yang semakin frustrasi memikirkan nasib perusahaannya.
“Hahhh... Aku mau pulang dulu,” ujarnya dan langsung menelpon Lastro.
“Pak, stand by di parkiran ya. Saya ingin pulang sekarang,” perintah Aiden pada supirnya.
Setelah memberikan perintah Aiden segera mengemasi barang-barangnya dan pulang.
Bik Asih sudah menunggunya di halaman rumah. Dengan sigap wanita itu langsung mengambil tas Aiden.
“Dea di rumah?” tanya Aiden pada Bik Asih.
“Maaf Tuan, tapi Nyonya sedang keluar bersama Toni,” jelas Bik Asih.
“Sejak kapan?” Dahi Aiden berkerut.
“Siang Tuan.” Bik Asih berjalan beriringan dengan majikannya.
Langkah kaki pria itu terhenti, “Sampai sekarang belum pulang?”
“Belum Tuan.” Bik Asih menelan salivanya, ia sangat mengenal majikannya yang dingin itu. Lelaki itu akan marah besar jika perintahnya diacuhkan oleh orang lain. Dan tadi pagi Aiden sudah memperingati Dea untuk tidak keluar dari rumah.
Aiden langsung mengambil ponselnya di saku jas miliknya. Mencari nomor supir pribadi istrinya.
Tutt... tutt... tutt...
“Selamat sore Pak,” jawab Toni.
“Kamu di mana sekarang?” tanya Aiden tanpa basa-basi.
“Sedang di rumah sakit Pak,” jawab Toni yang sempat terjeda beberapa detik.
“Cepat pulang! Sekarang!” perintah Aiden dengan tegas.
“B-baik Pak,” jawab Toni gugup. Aiden langsung memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas masuk ke dalam kamar membersihkan tubuh yang lengket karena keringat.
Setelah menerima telepon dari majikannya, Toni merasa gugup dan menghampiri Dea yang sedang berbincang dengan Pak Hando.
“Permisi Nyonya,” ucap Toni dan langsung berbisik, “Pak Aiden meminta Anda segera pulang.”
Raut wajah perempuan itu langsung berubah drastis. Rasa kesalnya kembali menyeruak dalam dirinya.
“Ya, tunggulah di luar,” usir Dea.
Lelaki itu langsung keluar dari ruang inap Pak Hando. Setelah pintu ditutup, Dea kembali berbincang dengan pria tua di depannya. Ada beberapa hal penting yang disampaikan Hando. Tanpa terasa Toni sudah menunggu majikannya selama 30 menit, ketika akan masuk ke ruangan ternyata Dea sudah keluar.
“Ayo,” ucap Dea dan langsung berjalan mendahului Toni. Ekspresi yang tersemat dalam wajah Dea sangat sulit dijelaskan.
Ketika dalam perjalanan, Toni kembali mendapat telepon dari Aiden. Dea melirik supirnya dengan datar.
“Apa dia menerormu?” tanya Dea.
“Tidak Nyonya, Pak Aiden hanya menanyakan lokasi kita,” jawab Toni.
“Hm, jangan mengatakan apa pun soal pertemuan ini padanya,” perintah Dea.
“Baik.”
Mobil kini sudah terparkir di halaman, Dea melenggangkan tubuhnya memasuki rumah. Ketika melewati ruang tamu ia melihat ada seorang wanita dengan pakaian dress selutut sedang menatapnya tajam.
Melihat respon yang tidak ramah dari tamu membuatnya menatap balik wanita itu dengan dingin seraya melangkahkan kakinya menuju kamar.
Grep! Tiba-tiba tangan Dea dicengkram kuat oleh wanita yang sebelumnya duduk manis di sofa.
“Siapa kamu?!” tanya perempuan itu dengan tatapan mata tajam yang penuh kebencian.