11

1168 Kata
‘Apa-apaan dia!’ Tanpa pikir panjang, Dea langsung merampas ponsel lelaki itu. Dan bersamaan pada saat itu pula, Toni tengah berlari di tengah koridor menghampiri majikannya yang sedang bersama lelaki lain. “Stop!” hanya kata itu yang keluar dari mulut wanita itu. Jarinya langsung memutus dering telepon tersebut. Alis Devano berkerut kare smartphonenya tiba-tiba dirampas oleh Dea. “Balikkan ponselku.” Lelaki itu berusaha mengambil telepon miliknya. “Kenapa kamu sangat menyebalkan?” “Justru kamu yang menyebalkan.” “Aku?” Dea berusaha mengatur napasnya. Badannya masih lemas karena psikisnya tiba-tiba down. “Bagaimana bisa orang asing seperti kamu melarang cucu kandung Mr.Hando menjenguk kakeknya sendiri! Dan hari ini, kamu bahkan tidak tau malu sampai mendengarkan percakapan intim keluarga kami!” lontar Devano yang diselimuti amarah. Dea ingin menyahuti perkataan lelaki itu, tapi fisiknya tak sanggup. Akhirnya ia hanya bisa menyandarkan punggungnya ke dinding dan mengatur napasnya lagi. Devano semakin kesal karena wanita di depannya melakukan drama murahan. “Berhenti berakting, aku sudah muak melihat drama murahan seperti ini.” Ekspresi lelaki itu nampak agresif. Namun Dea tak merespon apa pun, justru keningnya muncul keringat dingin. Ia menunggu kedatangan supirnya. ‘Kenapa Toni lama sekali,’ keluhnya yang sedikit lagi akan pingsan. Matanya sudah berkunang-kunang, dadanya sesak, dan kepalanya semakin nyeri. Ini adalah perpaduan yang sangat nikmat. “Madam!” dari kejauhan nampak Toni tengah berjalan cepat menghampirinya. Ekspresi lelaki itu nampak khawatir melihat majikannya yang tak berdaya. Ditambah ada Devano, menjadi ancaman keselamatan Dea. “Madam! Are you okay?” tanya Toni cemas, sedangkan Dea melirik tajam lelaki itu. Pertanyaan yang dilontarkan supirnya terdengar konyol. Jelas-jelas keadaannya sekarang sedang tak berdaya bagaimana bisa Toni menanyakan apakah kondisinya masih baik-baik saja? Supirnya langsung mengeluarkan obat-obat an dalam pouch. Tak lupa ia membuka tutup botol minuman kemasan untuk majikannya. “Ini Madam.” Toni menyondorkan beberapa pil pada Dea. Setelah semua obat itu tertelan, air minum yang baru saja dibukanya langsung diberikan pada wanita itu. Meskipun keadaan Dea tak langsung membaik, tapi rasa cemas wanita itu semakin berkurang karena ada yang menemaninya. “Tarik napas... keluarkan. Tarik napas... keluarkan...” Toni memandunya untuk merelakskan tubuh yang tegang. Sedangkan Devano sedari tadi terpaku melihat drama di depannya. Ia tak bisa berkata ataupun melakukan apapun, sedari tadi Devano hanya penonton aksi penyelamatan korban gangguan jiwa. ‘Ternyata itu bukan akting!’ batin Devano yang gelisah. Ia nampak salah tingkah. Toni yang baru menyadari ada orang lain di antara mereka segera pasang badan melindungi majikannya. “Kamu apakan Madam!?” sungut Toni dengan kedua tangan yang terlentang lebar seperti pagar pembatas antara Dea dan Devano. Lelaki yang dianggap musuh langsung mundur beberapa langkat, karena Toni nampak tersulut-sulut menyadari kehadirannya. “Aku tidak ngapa-ngapain.” Devano menjawab pertanyaan Toni dengan ekspresi kesal. Hari ini semua orang menyalahkannya, ini membuat perasaan lelaki itu tak nyaman. Kakeknya, Aiden, dan sekarang supir wanita asing itu!? Apakah ini adalah hari sial Devano? “Tidak mungkin!” Anak buah Dea masih tak percaya jika musuhnya tidak melakukan apa-apa kepada majikannya. Kewaspadaan lelaki itu semakin meningkat karena sebelumnya dia pernah baku hantam dengan Devano. “Tanya saja pada w************n itu,” hina Devano. Toni langsung menarik kerah baju Devano setelah mendengar julukan w************n untuk Dea. Harga dirinya ikut diinjak-injak lelaki itu karena merendahkan pimpinannya. “Jaga mulutmu b*****t! Dia adalah wanita baik-baik, bukan seperti yang kau kira!” sungut Toni dengan mata melotot. Gertakan gigi terdengar di akhir kalimat. “Oh ya?” Devano menaikkan salah satu alisnya. “Lalu kenapa dia menggoda kakekku yang tua renta? Apa itu bukan disebut wanita murahan.” “Kau!” Toni bersiap meninju wajah Devano. Namun, tangannya melayang di udara karena ada yang menghentikannya. “Sudahlah. Ayo pulang, aku sudah lelah,” pinta Dea menarik baju Toni. “T-tapi Madam, kita harus memberi pelajaran pada laki-laki ini.” toni mencoba menolak ajakan majikannya pulang karena masih kesal dengan Devano. “Biarkan saja,” ucap Dea lemas. “Lepaskan dia.” Terpaksa Toni menuruti perintah majikannya, padahal amarahnya masih membara bagai gunung krakatau yang siap meletus menghancurkan tubuh musuhnya. “Kalau kamu memang cucu Mr.Hando, tolong jaga dia hari ini. Kalau dia menanyakan keberadaanku, bilang saja kalau besok aku akan menjenguknya lagi,” ucap Dea dengan tatapan dingin. Devano diam seribu bahasa. “Ayo.” Dea mulai melangkah pergi dan Toni segera memapah tubuh lemah wanita itu. Di sisi lain, Aiden menatap layar ponselnya dengan cemas. Setelah kunjungan Triyo dan Jamono, ia harus melaporkan hal ini pada ayah mertuanya. Drrttt... drrrttt... getaran benda pipih itu sukses membuyarkan lamunan pria berusia 29 tahun. “Hallo.” “Hallo Aiden, bagaimana?” tanya Wijaya di seberang telepon. “Sesuai intruksi Daddy. Mereka langsung datang ke rumah tadi siang.” “Apa Dea mengikuti pertemuan itu juga?” “Iya Dad.” “Bagus. Ikuti saja alur yang mereka jelaskan.” “Baik.” “Lalu, apakah keadaan putriku baik-baik saja?” tanya lelaki paruh baya tersebut. Kekhawatirannya pada putri sulung tak bisa ditahan, apalagi selama 27 tahun ia menjaga Dea dengan ketat. Kini ia harus melepaskan anak perempuannya bersama Aiden, jelas membuatnya sangat rindu dengan putrinya. “Dia baik-baik saja. Meskipun...” Aiden menggantung kalimatnya. “Meskipun apa?” “Tidak Dad. Dia baik-baik saja.” “Yakin. Jangan coba membohongi Daddy.” Aiden menenggak salivanya paksa, “Em... kami sempat bertengkar kecil. Ini karena dia pergi tanpa izin, jadi...” “Huh... dia memang anak yang keras kepala. Bukankah sudah ada orang yang menjaganya?” “Ada.” “Kalau begitu biarkan saja sesukanya. Asal tidak di luar batas kewajaran.” “Iya Dad.” “Baiklah. Aku tutup dulu teleponnya, banyak hal yang harus aku kerjakan.” “Baik.” “Satu hal lagi Aiden.” “Ya?” “Kalian sedang diincar beberapa pihak. Tolong lebih berhati-hati ketika melakukan sesuatu. Terutama kamu Aiden. Jabatanmu sudah menjadi CEO, banyak orang yang ingin melengserkanmu dan menghancurkan perusahaanmu agar pesaing dunia bisnis berkurang.” Aiden mendengar peringatan ayah mertuanya dengan seksama. Perkataan yang terlontar di seberang telepon memang benar adanya, ditambah keadaan perusahaannya semakin mengkhawatirkan. “Sementara waktu, batasi interaksimu dengan orang terdekat. Tak peduli itu tangan kanan atau keluargamu, semua bisa menjadi musuh dalam selimut.” “Baik Dad.” “Aku tidak bermaksud menakutimu, tapi sebagai ayah untuk suami putriku tak ada salahnya aku memperingatkanmu. Bukan sekedar memperingati, aku juga melindungimu, sesuai kesepakatan kita beberapa waktu lalu.” “Iya Dad, terimakasih.” “Sama-sama. Aku tutup teleponnya.” Tut... sambungan telepon pun terputus. “Hufttt...!” Helaan napas dari tubuh Aiden terdengar keras. Ia baru menyadari jika semua perkataan ayah mertuanya benar. Sampai sekarang ia tidak tau siapa musuh atau dalang dari masalah yang menimpa perusahaannya. Kepalanya terasa pusing ketika menebak-nebak siapa orangnya. Di tengah kelut hatinya, tiba-tiba kening CEO itu berkerut saat melihat pemandangan di depan. “Dea kenapa!?” tanya Aiden dengan nada tinggi saat melihat supir pribadi istrinya tengan memapah tubuh wanita yang dinikahinya beberapa waktu lalu. Mendengar bentakan Aiden, membuat Toni mematung. Dadanya berdegup kencang. ------------------------------------------------------------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN