12

1279 Kata
Mendengar bentakan majikan laki-lakinya, membuat Toni gemetar. Tangan yang sebelumnya kuat menompang Dea, perlahan melemas hingga membuat tubuh wanita itu akan terjatuh ke lantai. “Apa kamu gila!” kesal Aiden yang berhasil menahan tubuh istrinya. “M-maaf Tuan.” Toni semakin gelagapan. Sorot mata kematian dari Aiden berhasil membekukan tubuhnya. “Apa yang terjadi?” tanya Aiden penasaran. “T-tadi...” “Kita bicara nanti, temui aku di ruang kerja!” emosi Aiden yang benci melihat karyawannya lelet. Dia segera membawa istrinya ke kamar. Bukan kamar Dea, melainkan kamarnya sendiri. Mrs.Asih yang baru saja keluar dari dapur langsung panik melihat Dea tak sadarkan diri di gendongan Aiden. “Ya Tuhan, Madam kenapa Tuan?” histeris Mrs.Asih. “Panggilkan dokter,” jawab Aiden. Dia sendiri tidak tau kenapa istrinya bisa tak sadarkan diri seperti itu. “Baik Tuan.” Sesampainya di kamar, ia segera menaruh tubuh istrinya di atas ranjang dengan kasar. Ia menghela napasnya lemah. “Huh... bisa gila aku kalau seperti ini. Baru saja mengatakan pada ayah mertua kalau putrinya baik-baik saja, tiba-tiba dia pulang tak sadarkan diri seperti ini. Bisa gawat kalau keluarga tau keadaan Dea.” Aiden meremas wajahnya kasar. “Dasar wanita tak berguna! Kerjaanmu hanya merepotkan saja,” maki Aiden pada Dea yang masih pingsan. “Kalau bukan karena ayahmu, aku tidak sudi menikah denganmu b***h!” Aiden melirik istrinya tajam. “Aku mendengarmu Aiden,” lirih Dea dengan mata yang masih tertutup. Lelaki itu terkejut. “Syukurlah! Dengan begini kamu tau setidak bergunanya dirimu. Dasar wanita gila.” Tak ada jawaban dari Dea. “Ayo jawab!” bentak Aiden. Namun, wanita itu membisu. Tak ada jawaban membuat Aiden ingin menampar wajah istrinya, tapi segera ia tahan. Dia tidak mau ada masalah tambahan jika bersikap kasar pada perempuan itu. Ditambah mereka sudah membuat perjanjian untuk tidak melukai satu sama lain. ‘Huft! Akan menjengkelkan jika aku terseret ke masalah yang tak berguna.’ Aiden menghela napasnya sejenak, mengatur emosi yang melanda tubuhnya. Entah kenapa menatap wajah Dea yang pulas membuat dirinya kesal. ‘Bagaimana bisa tuhan mencipatakan manusi penuh dengan kesalahan seperti ini? Trauma? Bullshit! Itu hanya omong kosong yang dibuat-buatnya agar terlihat menyedihkan. Dasar perempuan munafik!’ maki Aiden tanpa henti. Dirinya sudah tak sabar menunggu kehadiran dokter untuk memeriksa Dea. Wanita bertubuh lemah itu harus mendapat pemeriksaan apakah masih layak berada di rumahnya atau dimasukkan ke rumah sakit jiwa saja. “T-tuan,” panggil Toni memecah lamunan Aiden. Ada sosok pria di belakang lelaki itu. “Masuk.” “Selamat malam Pak Aiden.” “Malam dokter. Silakan periksa perempuan itu.” Dokter langsung memeriksa keadaan Dea dengan teliti. Denyut nadi, detak jantung, kedua bola mata. “Semuanya baik-baik saja. Sebelum pingsan, pasien mengalami kejadian apa?” Aiden melirik Toni, “jelaskan.” Supir itu menelan salivanya paksa, “sebenarnya Madam baru saja meminum obat penenang dan obat tidur, jadi...” Toni tidak melanjutkan ucapannya. “Apa pasien baru saja mengalami kejadian traumatis.” “Madam memang memiliki ganguan psikis. Untuk kejadian traumatisnya saya tidak tau, tapi sebelum meminum obat, saya melihat Madam sedang bertengkar dengan seseorang.” Dokter menyimak jawaban Toni dengan seksama, kepala lelaki itu mengangguk beberapa kali. “Baik. Terima kasih atas jawabannya.” Toni menganggukkan kepalanya. “Untuk Mr.Aiden tidak perlu khawatir, Madam baik-baik saja. Itu hanya efek obat psikotropika.” “Iya Dok. Kalau begitu terima kasih.” “Baik, saya keluar dulu. Selamat malam.” “Malam.” Aiden memberi kode pada supirnya, agar mengantar dokter. Dengan gelagapan, Toni melaksanakan perintah itu tanpa banyak bicara. “Hahhh!” Aiden kembali mengusap wajahnya kasar. Ia sempat terkejut mendapati Dea yang pingsan di gendongan Toni. Ternyata ini hanya efek obat orang gangguan jiwa. “Benar-benar wanita gila.” Karena merasa ditipu, Aiden langsung mengangkat tubuh istrinya. Ia berjalan menuju kamar pribadi Dea yang ada di sebelah kamarnya. Ketika sampai di dalam, dia langsung membanting tubuh wanita itu di atas kasur. “b***h!” Setelah memaki, ia segera keluar. Di luar kamar sudah ada Toni yang mematung. “Pergi kamu! Aku sudah tidak membutuhkan penjelasanmu!” usir Aiden. Toni langsung menjauh dari majikannya. Namun, dalam hati lelaki itu terasa kesal dengan sikap Aiden yang kasar. Ia bahkan sempat melihat tubuh Dea dibanting dengan kasar tadi. ‘Majikan t***l! Bisa-bisanya kamu memperlakukan Madam dengan kasar. Aku akan melaporkannya pada Mr. Wijaya. Tunggu saja!’ ancam Toni dalam hati. Dia tidak terima melihat tingkah Aiden yang kasar. Bik Asih yang sebelumnya mengantar dokter, kini tengah tergesa-gesa menghampiri Madamnya. Ketika berjumpa dengan Toni di lift, “Bagaimana keadaan Madam?” ekspresi wanita itu nampak cemas. “Madam sedang tidur di kamarnya.” “Apa dia baik-baik saja?” “Ya Miss, Madam hanya terpengaruh obat penenang.” “Hahhh... syukurlah...” Mrs.Asih menghela napasnya lega. Ia ikut khawatir dengan keadaan majikannya, kesehatan Dea terhubung dengan pertaruhan pekerjaannya sebagai kepala pelayan. Ketika memilih keluar dari rumah Rita dan Kusuma - orang tua Aiden. Dia mendapat upah tiga kali lipat dari gaji sebelumnya. Namun, ada banyak syarat yang harus Asih penuhi, salah satunya adalah kesehatan Dea. Tak hanya itu, keamanan istri Aiden juga harus diperhatikan. Bisa-bisa Rita dan Kusuma murka jika mengetahui menantu mereka dalam keadaan gawat. Ketika Toni akan melangkah keluar, Asih langsung menahan lelaki itu. “Sebenarnya ada apa? Ceritakan secara detail Ton.” Toni nampak ragu mendengar permintaan Asih. “Em...” lelaki itu bergumam cukup lama. “Ada apa? Kita berada di pihak yang sama Ton. Kita sama-sama menjaga Madam. Di sini atasan kita adalah Madam bukan Aiden. Kamu tau itu kan? Jadi ceritakan kepadaku juga,” desak Asih. “Apa itu benar?” “Tentu saja, aku bekerja di sini untuk melayani Madam. Kamu juga kan? Bedanya kamu direkrut langsung oleh Tuan Wijaya - ayah Madam. Sedangkan aku direkrut Mr.Kusuma dan Mrs.Rita.” Toni masih ragu mendengar ucapan Asih. Lalu ia menanyakan satu hal lagi. “Maaf, tapi aku belum percaya selagi tidak ada buktinya.” Asih langsung menyondorkan ponsel miliknya, di sana ada beberapa percakapannya dengan Kusuma, ayah mertua Dea. “Sudah percaya?” tanya Asih. “Ya.” “Ceritakan sekarang.” “Jangan di sini.” “Oke. Ikuti aku.” Asih langsung memandu jalan, mengajak Toni ke tempat rahasia, agar mereka bisa tukar informasi. Di sana, Toni menjelaskan secara rinci apa yang sudah terjadi. Di mulai Dea yang mencari keberadaan taman Wijaya - Hando, Dea yang bertengkar dengan Devano, hingga Aiden yang membanting tubuh Dea saat wanita itu pingsan. “Ya tuhan! Apa itu benar? Tuan membanting tubuh Madam.” Asih menutup mulutnya karena terkejut. “Ya. Rasanya aku ingin memukul wajah Tuan. Tapi kalau aku membuat onar, keselamatan Madam jadi taruhannya.” Wajah wanita paruh baya itu tampak menegang.“Ucapanmu benar Toni. Untuk sementara waktu kita diam dulu. Yang penting keadaan Madam baik-baik saja. Sabar saja dulu, kita sudah tau kalau mereka menikah dan membuat perjanjian. Sementara jangan ikut campur dulu.” Toni menyetujui ucapan Asih. Keduanya pun berpisah. Di sisi lain, Aiden tengah membaring tubuhnya di atas ranjang. Ia masih mengingat jelas kejadian semalam ketika bersama Wendy. “Ahhh... kenapa aku rindu sekali pada Wendy.” Mata laki-laki itu menatap langit-langit kamar dengan sendu. Tangannya segera meraba nakas samping ranjang mencari smartphone miliknya. Setelah mendapatkan barang yang diinginkan, ia segera mencari nama Wendy di kontak telepon. Sambungan telepon itu berdering beberapa kali, tak kunjung di jawab. Pada cobaan ketiga akhirnya wajah Wendy muncul di layar ponsel. “Malam Bae,” sapa Wendy. “Malam. Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Aiden penasaran. Ia melihat bagian d**a Wendy yang sebagian tertutup selimut. Tak biasanya wanita itu berpenampilan seperti ini. Ditambah video call itu goyang beberapa kali. Entah kenapa batin Aiden merasa ada yang janggal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN