Tak berselang lama, Dea menghampiri Aiden dengan wajah yang datar. Sebelumnya ia berniat untuk tidur lebih cepat, tetapi rencananya lagi-lagi gagal karena panggilan dari suami kontraknya. Dengan bibirnya yang maju beberapa senti, ia bertanya, “Ada apa?” Aiden bisa merasakan kejengahan yang ditunjukkan istrinya. Ia sudah bersiap menghadapi semua emosi yang menderai Dea. Sebelum menjawab, ia menghela napasnya sejenak mengatur perasaan di dalam tubuhnya. “Duduklah,” perintahnya yang direspon baik oleh Dea. Wanita itu tak melakukan perlawanan sedikitpun, padahal Aiden sudah berpikir jika Dea kemungkinan besar akan protes. Namun dugaannya salah, istrinya mengikuti intruksinya dalam diam. Ya... meskipun sorot mata yang dingin, tetapi itu tak mengubah jika perintahnya sudah tersampaikan dengan

