Karena langkah kaki Toni lebih panjang dari Dea, lelaki itu lebih mudah menjangkau jarak majikannya dengan singkat. “Silakan Madam.” Toni memberikan obat penenang pada majikannya. Napas Dea tersenggal-senggal karena pikirannya berputar ke masa lampau. Ingatannya tentang mobil remuk, darah menggenag di dashboard, tunangannya yang tergeletak di atas setir, dan orang yang mengharapkan kematian mereka. “Argh!” erangnya kesakitan. Dia menekan dadanya mengharap ingatannya menghilang. Ini terasa menyiksa untuk wanita itu. Sedangkan Toni langsung melajukan mobil. Pelatihan yang dia lakukan dengan Wijaya sangat berguna untuk menghadapi Dea. ‘Jika penyakit Dea kumat, langsung beri obat lalu bawa dia beristirahat. Cukup awasi dia, biarkan Dea mengatasi pikirannya sendiri. Kamu hanya perlu menjagan

