"Mati." Bernardo duduk di kursi sambil mengepalkan tangannya kesal. Orang yang merupakan bawahannya langsung mati. Wajah Alana yang merupakan istrinya terlihat sangat kesal. "Sayang. Tenang saja. Aku berjanji, besok - besok dia akan mati. Keluarga Ruiz akan mati. Lihat gadis itu, tangannya sudah tidak bisa di gerakan lagi, tangannya sudah aku ambil. Sisa nyawanya saja yang belum." Bernardo menenangkan istri yang dua puluh tahun lebih muda darinya. Wajah Alana tetap tidak sedang dipandang. "Sudah mau enam tahun ledakan granat itu, namun dia belum juga mati. Dia itu gadis Ruiz. Sekarang sudah ada tuan muda Ruiz. Anak dari si berengsek Ben itu. Si pembunuh yang membunuh kakak lelakiku." Alana memaki Ben atas apa yang dilakukan oleh Ben terhadap kakak lelakinya, Bruno Ruiz. "Tenang, semu

