bc

Mujahadah

book_age16+
439
IKUTI
2.0K
BACA
bxg
spiritual
like
intro-logo
Uraian

Cerita ini— tentang dua orang insan yang berbeda disatukan dalam ikatan suci pernikahan.

Amierra Hanun Fairuz (18)

Afran Xavier Akhtar (25)

Lagi-lagi bukan tentang pernikahan yang di dasari oleh cinta. Pernikahan mereka adalah bentuk rasa tanggung jawab Afran karena telah mencelakai Amierra, yang membuat Amierra kehilangan penglihatan dan mimpinya.

Amierra pertamanya belum bisa menerima Afran, terlepas dari semua rasa sakit yang ia dapat karena laki-laki itu. Tapi hati perempuan itu lembut, mau siapapun dan bagaimana pun orangnya, tak bisa dipungkiri bahwa hati perempuan dipenuhi kehangatan.

Begitupun dengan Afran. Afran yang dikenal semua orang adalah laki-laki yang berperangai dingin, namun punya cara tersendiri untuk membuat Amierra merasa lebih istimewa dari perempuan manapun. Sehingga Amierra berangsur-angsur sikapnya membaik.

Karena seperti kata pepatah "Cinta datang karena terbiasa". Dan seperti itulah perjalanan rasa mereka.

Namun namanya kehidupan, ada saja masalah yang datang. Perlahan satu-persatu rahasia yang di simpan terungkap seiring waktu berjalan.

Dan akhirnya suatu permintaan- permintaan yang Amierra inginkan- yang membuat dirinya sendiri jatuh ke dalam lubang yang ia buat. Perlakuan lembut dan hangat suaminya melenyap- digantikan sikap dan tatapan pria itu yang acap kali membuatnya terluka.

Apakah semesta masih bekerja sama untuk menyatukan mereka, atau malah semakin menebalkan sekat yang ada?

Ini

Tentang keteguhan hati, yang selalu membersamai.

Tentang janji, yang tak kan pernah teringkari.

Tentang lara, yang melebur dalam tawa.

Tentang kebahagiaan, yang telah ditetapkan.

Karena sesungguhnya hidup itu tentang penerimaan yang ikhlas, tanpa menyalahkan takdir Tuhan. Masih banyak permintaan kita, yang coba Dia kerjakan. Dan Dia mahfum kapan tepatnya permintaan itu akan dikabulkan. Maka kita harus percaya.

Semua akan indah, menurut rencana-Nya dan waktu-Nya.

Cover by Pinterest

Edited by Canva

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1: Kegamangan yang Nyata
. . . "Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya. -QS. Al-Baqarah ; 286- . . . "Bismillahirrahmanirrahim". Gadis itu tersadar. Tetapi tidak terbangun. Dengan perlahan ia membuka matanya. Pandangannya lurus ke depan. Tapi yang dilihatnya hanya gelap. Samar-samar indra pembaunya mencium bau obat-obatan. Sudah dipastikan bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Ingatannya kembali pada peristiwa yang lalu. Ia ingat betul, ketika ingin menyebrang jalan menuju toko buku yang berada di depan rumahnya, tiba-tiba, mobil yang hilang kendali menabraknya-- tanpa bisa ia hindari, dan setelah itu hanya gelap yang ia rasakan. Setelah hanyut dalam ingatannya. Telinganya menangkap suara asing yang sedang melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Suara seorang laki-laki. Tepat di sampingnya. Kemudian ia menoleh. Tapi yang ia lihat hanya gelap. Perlahan suara itu berhenti. "Amierra?" laki-laki itu memanggil. Perempuan yang dipanggil Amierra itu hanya bergeming. Menyisakan kebingungan dalam dirinya. Suara laki-laki itu asing baginya. "Amierra?" laki-laki itu memanggil lagi, kali ini dengan suara lebih lembut. Meski perempuan itu menatapnya, tapi ia tahu itu hanya tatapan kosong dan penuh kebingungan. Ada rasa takut yang tersemat di hati laki-laki itu dan mengundang rasa sakit yang tak kasat mata sampai membuat jantungnya berdetak tak normal. Laki-laki itu takut, apa yang dikhawatirkan akan terjadi. Ia belum siap menceritakan apa yang terjadi kepada Amierra. Namun, di samping itu ia usap kepala Amierra yang tertutup jilbab dan mencium keningnya lama, mengucap rasa syukur, karena Allah telah membangunkan Amierranya. Amierra yang diperlakukan seperti itu hanya terdiam. Ada sedikit kerutan di dahinya. Laki-laki itu menggenggam tangan Amierra erat, sambil menatap tatapan kosong Amierra kepadanya. "S-siapa... Sssiapa...," ucap Amierra terputus dengan suara seraknya dan sepertinya dia kesulitan untuk berbicara. "Aaa.a..a...aa...," pekik Amierea saat ia ingin bangun, tiba-tiba ia merasakan sakit di kakinya dan membuat laki-laki yang disampingnya panik. "Sstt. Jangan dipaksa, tidak perlu bangun, kamu belum pulih total." Dengan ekspresi bingung dan rasa takut diwajahnya, ia menanyakan pertanyaan beruntun dengan suara lemah. "Siapa kamu? Di mana orang tuaku? Apakah hanya kita berdua di ruangan ini? Dan kenapa semua gelap bagiku?" Laki-laki itu menahan napas. Dadanya seolah terhimpit batu. Bahkan menghirup oksigen saja sulit. Ada rasa bersalah, penyesalan, ketakutan yang dirasakan laki-laki itu. Dialah yang menyebabkan perempuan dihapadannya seperti ini. Ya Allah kuatkan dan sabarkanlah kami. Serta berikan kami petunjukMu. Batin laki-laki itu, karena untuk berbicara pun lidahnya kelu. Dengan lemas, tangannya terulur ke atas ranjang dan memencet tombol untuk memanggil dokter. . . . "Amierra? Kamu harus makan, agar cepat pulih," bujuk Afran seraya mengangkat sendok berisi bubur ke mulut Amierra. Dan untuk kesekian kali, Amierra hanya menutup mulutnya, lalu mengalihkan kepalanya dari Afran. Rasa sakit, pedih, kecewa, tak percaya, serta marah meramu terpatri kuat di dalam hati- saat ia tahu apa yang telah menimpa dirinya. Flashback on "Katakan apa yang terjadi padaku! Dan siapa dirimu, aku tak mengenalmu!" Amierra histeris, menangis dan meracau tidak jelas di ranjangnya. Namun segera, Afran memeluknya erat, berusaha menyalurkan ketenangan kepada Amierra. "Tenanglah dulu. Akan kujelaskan. Jangan banyak bergerak, kakimu belum sepenuhnya pulih." Afran membiarkan bajunya basah karena lelehan bening yang dikeluarkan mata perempuan itu. Yang diutamakan ia kini adalah Amierra. Afran pun sudah mengumpulkan keberaniannya untuk menjelaskan semuanya. Setelah dirasa Amierra sudah tenang, Afran melerai pelukannya dan kembali duduk di samping ranjang, lalu mengusap pelan air mata di pipi Amierra dan memegang kedua tangannya. "Namaku Afran Xavier Athafariz. Panggil saja Afran." "Cepat jelaskan saja! Tidak perlu basa-basi!" "Baiklah, akan kujelaskan. Kamu pasti masih ingat hari itu 'kan? Ketika kamu ingin menyebrang jalan dekat rumahmu. Dan tiba-tiba sebuah mobil menabrakmu, tanpa bisa kamu menghindar. Itulah yang menyebabkan matamu buta, dan kaki kananmu cedera seperti ini." Amierra berusaha menelisik kebohongan dalam ucapan pria itu. Namun nihil, tak setitikpun kebohongan yang ia temukan. "Jadi aku buta sekarang? Dan kakiku cedera?" "Iya. Dan itu penyebabnya aku." "Dan kamu yang menabrakku waktu itu?" "Bukan, Amierra," ujarnya dengan lirih, bahkan Amierra mungkin tidak mendengarnya. "Bukan, Amierra. Sungguh. Aku memang penyebab utamamu seperti ini, tetapi tidak dengan menabrakmu," lanjutnya lagi dalam hati. "Kamu tau? Hal yang paling aku takuti adalah saat aku sudah tidak bisa lagi melihat dunia. Tak bisa melihat wajah orang-orang yang aku sayangi, tak bisa melihat hal-hal yang aku sukai, dan tak bisa mewujudkan mimpiku untuk menjadi seorang penulis." "Dan kamu! Siapa kamu yang bisa-bisanya merenggut semua itu. Kamu menghancurkan mimpiku, huh! Apa salahku kepadamu? Apa aku pernah melukaimu! Bahkan kita tak pernah bertemu. Kamu, seseorang yang belum aku kenal, bahkan melihat wajahmu pun aku belum pernah, dan secara tiba-tiba kau datang di hidupku, menghancurkan mimpiku, masa remajaku, menghancurkan semuanya." Amierra menangis deras, bahunya bergetar hebat, napasnya memburu tidak teratur. "Pria jahat! Egois!" "Sssttt. Iya. Aku salah, aku jahat, aku egois. Jadi maafkan aku. Maafkan aku." Dengan sigap ia memeluk Amierra kembali. Membiarkan Amierra menangis sepuasnya di dadanya sembari mengusap-usap punggung Amierra. Sesekali ia juga mengecup sayang puncak kepala istrinya itu. "Hikss. Bagaimana bisa aku memaafkanmu, terlepas kau adalah penyebab hancurnya impianku dan rasa sakit di sini," jawab Amierra dengan meremas dadanya. Kalimat itu. Seketika membuat Afran bungkam. Yang diucapkan Amierra benar adanya. Apalah dirinya yang sudah menghancurkan impian perempuan itu lalu meminta maaf. Kata maaf tidak bisa mengobati rasa sakit dan kecewa yang ia tanam di hati Amierra. Dan rasa bersalah serta marah pada diri sendiri kian menggerogoti hatinya. "Baiklah tak apa. Aku memang tak pantas dimaafkan. Aku paham akan hal itu. Tetapi ada hal yang lebih besar lagi yang perlu kamu ketahui." Ia mengembus napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya. Semoga ia bisa menerima risiko yang ia terima setelah ini. "Saat orang tuamu tau akulah yang menyebabkanmu seperti ini. Mereka menyuruhku bertanggungjawab atas perbuatanku. Dan tanggungjawab adalah dengan menikahimu. Terutama umimu, dia mendesakku agar segera menikahimu. Aku tak tahu apa alasannya. Tapi aku tahu mereka mengambil keputusan itu, sudah dipertimbangkan matang-matang." "Ja... jadi. Aku sekarang adalah istrimu?" tanya Amierra tidak percaya. Hal apalagi ini. Belum cukupkah laki-laki merenggut penglihatannya, dan sekarang ia harus menjadi istrinya. Dengan cepat ia mendorong d**a Afran, berusaha melepaskan diri dari pelukannya, tetapi Afran malah memeluknya semakin erat. "Pergi! Keluar dari sini! Kau pria tidak berperasaan! Egois! Jahat! Hiks. Kamu menghancurkan semuanya." Amierra kembali meracau di pelukan Afran. Memukul-mukul raga Afran. Menyakitkan, sungguh. Mendapat penolakan dari orang yang ia sayangi seperti ini. Tapi ia paham, rasa sakit yang ia dapat tak sebanding dengan rasa sakit Amierra karenanya. "Sssttt. Tenang, Amierra. Istigfar, ini sudah rencana Allah yang terbaik untukmu." "Tidak! Kamu sudah menghancurkan hidupku! Umurku baru 18 tahun dan aku sudah menjadi istri, hiks. Seharusnya aku masih seperti remaja di luar sana. Aku kehilangan semuanya! Penglihatanku, mimpiku, kebahagiaanku, masa remajaku! Dan itu kamu penyebabnya!" "Hei. Kamu tidak kehilangan apa-apa. Kamu masih bisa melanjutkan mimpimu. Percaya padaku." "Tidak. Aku buta. Apa yang bisa dilakukan dengan diriku yang buta ini. Aku hanya akan merepotkan. Hiks." Amierra melemah kemudian, tidak lagi meracau. Ia mungkin sudah lelah, lelah secara fisik juga hati. "Jangan katakan apa-apa, Amierra! Kumohon." Afran semakin mengeratkan pelukannya, dan mencium pelipis Amierra berkali-kali. Tangannya pun tak luput mengusap-usap punggung Amierra. Ada rasa pedih yang menjalar di dadanya saat melihat Amierra nya seperti ini. Afran pun sudah yakin bahwa ia telah melabuhkan hatinya pada wanita yang ada di pelukannya itu. Bahkan sejak satu tahun lalu mungkin. Dan yang harus ia lakukan saat ini adalah membuat istrinya itu mau menerimanya dan mencintainya. "Berhentilah menangis, Amierra. Percayalah, Allah tidak akan memberikan cobaan sesuai kemampuan hamba-Nya. Jadi kamu pasti bisa. Kamu kuat. Dan Allah akan semakin sayang sama kamu, jika kamu mampu menerima cobaan ini. Dan Dia pasti mempunyai rencana besar untukmu, Sayang. Percayalah. Allah akan menggantikan dengan sesuatu yang lebih baik nantinya. Jadi kumohon jangan berkata apapun yang bisa menyakiti dirimu sendiri. Kamu masih punya Allah. Memiliki keluarga yang sangat menyayangimu. Semua akan baik-baik saja. Ada aku akan selalu berada di sampingmu. Allah Maha Baik, Amierra. Dia hanya mengambil penglihatanmu. Tidak mengambil orang-orang yang kamu sayangi. Bahkan matamu itu sesungguhnya hanya titipan Allah. Apapun di dunia ini hanya milikNya, Amierra. Jadi Dia berhak mengambil apa yang menjadi miliknya sewaktu-waktu. Ikhlaskan perlahan, ada rencana indah yang Allah siapkan untukmu, Sayang." Ucapan Arfan itu, membuat Amierra sedikit tenang, tetapi ia masih menangis dengan menenggelamkan wajahnya di d**a Afran. "Apa kamu mau kubacakan Al Qur'an agar hatimu sedikit tenang?" Amierra hanya mengangguk lemah. Flashback off. Pintu ruangan terbuka. Memunculkan seorang wanita dan laki-laki yang kurang lebih berumur 40 tahun, serta seorang gadis kecil yang terlihat begitu bersemangat. Afran tahu siapa yang datang. Dengan segera, ia menaruh mangkok berisi bubur tadi di nakas sampingnya, lalu beranjak menghampiri mertuanya itu dan mencium kedua tangan mereka. "Kak Afran, aku merindukanmu," ucap seorang gadis kecil sembari memeluk pinggang Afran. "Kakak juga sangat merindukanmu, Nadira," balas Afran dan mengusap gemas jilbab Nadira. "Mari masuk, Umi, Abi. Amierra sudah bangun." Mereka pun masuk dan menghampiri ranjang Amierra. "Abi, umi, dan adikmu datang, Amierra. Kamu pasti senang," bisik Afran lalu mengecup pelipis istrinya itu. Amierra pun hanya diam tak merespon. "Umi sangat merindukanmu, Amierra," ucap wanita paruh baya itu sembari memeluk dan mencium sayang kedua pipi Amierra. "Umi, bisakah aku naik di ranjang kakak? Aku ingin memeluknya juga," pinta gadis kecil itu dengan menarik-narik baju uminya itu. "Baiklah, Nadira," wanita paruh baya itu mengangkat Nadira dan menempatkannya di dekat Amierra. "Kakak? Aku merindukanmu. Selama kakak koma lima hari, aku tidak memiliki teman bermain, bahkan abi dan umi tidak mengijinkanku keluar rumah selain pergi ke sekolah dan ke rumah sakit menjenguk Kakak," ucapnya sambil memeluk erat kakaknya itu. Amierra pun hanya membalas dengan senyuman. "Oh ya, Kak? Aku punya dongeng bagus untuk Kakak. Dongeng yang diceritakan Bu Guru Nadira tadi waktu di sekolah. Apakah Kakak mau mendengarkannya?" Nadira memang tidak pernah absen menceritakan kejadian atau pelajaran yang ia peroleh waktu di sekolah kepada Amierra. Gadis kecil umur 5 tahun itu memang lebih dekat dengan kakaknya daripada umi atau abinya. Amierra hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Nadira kecil pun sangat antusias menceritakan dongengnya. Sesekali ia memperagakan apa yang ia ucapkan. Sayangnya, Amierra pun hanya bergeming. "Mas Rayhan? Lihatlah! Amierra dari tadi hanya diam saja, bahkan saat Nadira mendongengkannya. Aku takut dia akan berubah tidak seceria dulu," kata wanita paruh baya itu dengan nada lesu seraya melirik suami yang berada di sampingnya. Rayhan langsung memeluk bahu istrinya. "Tidak, Hana. Tenanglah. Amierra kita sudah mempunyai suami baik seperti Afran. Aku percaya ia akan membahagiakan dan memperlakukan Amierra dengan baik," ucapnya tanpa keraguan. "Iya, aku tahu, Mas. Tapi bagaimana jika Amierra hanya seperti ini terus," ucap Hana dengan menatap sendu Amierra yang sedari tadi hanya diam. "Semua akan baik-baik saja, Hana. Kita sudah menitipkan Amierra kepada laki-laki yang tepat." "Tapi. A..." "Berhentilah berfikir negatif. Kamu pasti tahu ini semua sudah takdir Allah. Apakah kamu juga tidak akan percaya dengan rencanaNya?" Hana menggeleng pelan. "Duduklah saja, Hana. Aku ingin berbicara sesuatu dengan Afran." Hana pun langsung duduk di samping ranjang. "Apa sudah lama Amierra bangun, Afran?" Rayhan beralih mendekati Afran yang berada di sisi kanan ranjang. "Belum, Abi. Baru tiga jam lalu. Dan ini saya menyuruhnya makan, tetapi ia tidak mau," ucap Afran dengan nada kecewa sambil menunjuk bubur yang masih utuh di atas nakas. "Abi ingin bicara padamu. Ayo kita duduk di sofa sebelah sana saja," ungkap Rayhan sambil menoleh ke sofa di sudut ruangan. Kedua laki-laki itu pun beranjak ke sofa. "Bagaimana kondisi Amierra sekarang?" "Setelah di periksa dokter tadi, keadaan Amierra sudah cukup membaik, dan kira-kira kakinya baru bisa berjalan satu bulan lagi. Sementara ini Amierra harus dilatih menggunakan tongkat penyangga dahulu." "Alhamdulillah. Kapan Amierra bisa dibawa pulang?" "Kata dokter sepuluh hari lagi, Insya Allah bisa dibawa pulang." "Afran? Apa kamu sudah mengatakan kebenarannya pada Amierra?" Afran menghela napas kasar sesaat sebelum menjawab. "Sudah, Abi. Amierra tadi meracau tidak jelas dan meminta penjelasan. Saya tidak bisa apa-apa selain mengatakan kebenarannya. Setelah dia tahu, ia malah tidak bisa mengendalikan dirinya. Kelihatannya ia belum bisa menerima keadaanya sekarang, Abi." "Apa kamu yakin tidak akan menyesal setelah mengambil keputusan ini?" "Insya Allah tidak, Abi. Ini mungkin yang terbaik bagi Allah untuk saya. Saya hanya takut jika Amierra nanti malah membenci saya. Ini memang salah saya dari awal. Saya telah menghancurkan masa remajanya. Maka dari itu, Amierra masih belum bisa mengikhlaskan dengan apa yang terjadi." "Tidak, Afran. Abi yakin Amierra akan menerima semuanya. Cukup kamu perlakukan dia dengan baik, dengan kelembutan sikapmu. Ia pasti bisa mengikhlaskan dengan perlahan. Aku percayakan Amierra padamu. Karena aku yakin kamu laki-laki baik, yang bisa merubah Amierra seperti dulu. Kamu bisa berjanji kan pada Abi?." "Saya berjanji. Saya akan membuat Amierra kita seperti dulu." "Apa kamu sudah mencintai Amierra, Afran?" Afran pun hanya mengangguk sambil tersenyum malu. "Buatlah dia mencintaimu sebagaimana kau mencintainya." "Itu pasti, Abi." "Bimbinglah, Amierra ke jalan yang Allah ridhoi. Serta jadikanlah ia istri saleha. Abi memilihmu sebagai menantu dan suami Amierra karena abi percaya jika kamu bisa mengemban amanah yang abi berikan untuk menjaga dan membahagiakan Amierra." "Insya Allah, Abi. Saya akan menjaga dan membahagiakan Amierra dengan cara saya sendiri. Tentunya dengan ridho Allah juga." "Nah, ini baru menantu terbaik Abi," ucap Rayhan dengan bangga seraya memeluk bahu Afran. Dan Afran pun hanya tersenyum canggung dibuatnya. Rayhan melirik jam dinding di atas ranjang Amierra, "sudah jam tiga lebih seperempat. Apa kamu sudah salat ashar, Afran?" "Belum, Abi." "Sebaiknya. Kita salat Ashar dahulu di mushola rumah sakit. Hana? Aku dan Afran ingin salat Ashar di mushola." "Iya, Mas." Hana pun menghampiri Rayhan dan mencium tangan suaminya itu. Dan setelahnya, kedua laki-laki itu melenggang pergi ke mushola. . . . To be continued. Sun September 26, 2021

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook