5. Arcane (3)

1370 Kata
Chapter 5 : Arcane (3) ****** SELURUH mobil pun langsung berjalan dengan kecepatan tinggi. Yoonjae langsung berusaha untuk mengejar mobil Jaekyung yang sudah memelesat di depannya. Yoonjae langsung ingin menyalip mobil Jaekyung tatkala tiba-tiba saja Jaekyung membelokkan mobilnya dan menghindari rencana Yoonjae. Setelah itu, mobil Jaekyung langsung memelesat dengan kecepatan penuh, menghadang mobil Yoonjae di tikungan. Yoonjae mengumpat tatkala mobilnya hampir keluar dari jalur saat membanting setir. Dia memukul setirnya sejenak, lalu dia kembali menyusul Jaekyung dengan luar biasa cepat. Mobil mereka saling menyalip dan mengimpit satu sama lain, menghindari seluruh kendala dengan gesit. Akan tetapi, Yoonjae akui, mengalahkan Jaekyung bukanlah perkara yang mudah, terutama setelah mengajaknya taruhan dengan Seo Harin sebagai persembahannya. Pertarungan itu jadi ribuan kali lebih sulit. Lebih sengit. Jaekyung memang benar-benar terlihat berkendara seraya mengamuk. Kendalinya jauh lebih cepat, lebih cerdik, lebih gila, dan nyaris tak masuk akal. Seolah sudah tak memikirkan nyawa lagi. Hingga akhirnya, mereka berdua pun sampai di garis finish. Pertarungan itu benar-benar sengit hingga mereka berdua meninggalkan peserta lain jauh di belakang sana. Akan tetapi, saat sampai di garis finish, mobil yang keluar sebagai pemenangnya adalah: Mobil Jaekyung. Yoonjae memukul setirnya saat mengetahui bahwa ia kalah. Ia betul-betul mengusahakan pertandingan tadi setengah mati. Tatkala beberapa detik telah berlalu, Yoonjae pun keluar dari mobil dan kebetulan dia juga melihat Jaekyung keluar dari mobilnya. Mereka berdua sama-sama memasang wajah yang penuh dengan amarah. Yoonjae kesal karena masih kalah, sementara Jaekyung masih murka karena permintaan Yoonjae tadi sebelum bertanding. Namun, meski kesal luar biasa, Yoonjae tetap berdiri di sana. Dengan lantang dia kembali menantang Jaekyung. “Di pertandingan selanjutnya, akulah yang akan menang.” Jaekyung menatapnya dengan tatapan membunuh. Bungkamnya itu jauh lebih menyeramkan; ia seolah akan membunuhmu kapan saja tanpa berpikir dua kali. “Kau itu seharusnya bersyukur; kau beruntung punya Harin,” ucap Yoonjae. “Dia cantik, pintar, dan setia. Akan tetapi, kau malah menempel dengan gadis-gadis ‘seksi’ lain yang tak sebanding dengannya. Kalau kau tak mau Harin, aku akan mengambilnya darimu.” “Diam, k*****t,” ujar Jaekyung dengan suara yang terdengar begitu dingin dan mengintimidasi. Dia terdengar sangat mengerikan. “Tidak sebelum kau langkahi mayatku. Sekali lagi kau sebut nama wanitaku dari mulutmu, I’ll ruin your life forever, you motherfucker. I’ll definitely kill you.” Tepat setelah Jaekyung mengatakan itu, kedua mata Yoonjae langsung memelotot penuh dengan amarah. Dia mengepalkan tangannya dan langsung berencana untuk berlari mendekati Jaekyung, begitu pula dengan Jaekyung yang langsung melakukan hal yang sama. Akan tetapi, sebelum sirkuit balap itu berubah menjadi TKP pembunuhan; sebelum mereka berdua benar-benar menghabisi satu sama lain, semua orang yang ada di sana langsung berusaha untuk menahan mereka. Memegangi mereka ramai-ramai. Melerai mereka. Sejujurnya, semua orang diam-diam sudah mengetahui sebuah fakta, yaitu: Kwon Jaekyung akan menjadi sangat emosional jika itu menyangkut kekasihnya dari SMA, Seo Harin. Pemuda itu beberapa waktu belakangan memang sering terlihat tengah menggoda perempuan lain, supel kepada perempuan lain, tetapi kepada Seo Harin, dia berbeda. Dia terlihat emosional. Kepada Harin, dia seperti memakai hati, jantung, otak, dan seluruh tubuhnya. Kepada Harin, dia terlihat…main hati. ****** Harin mengerang ketika Jaekyung mulai menggigit kecil lehernya. Tubuh pemuda itu menempel pada Harin sepenuhnya, hanya dihalangi oleh pakaian yang mereka kenakan. Kedua tangan kekar Jaekyung memeluk Harin, kepalanya bersarang di leher Harin dan dia menciumi leher bagian kiri perempuan itu sekaligus menggigitnya sesekali; dia sukses membuat beberapa tanda merah di sana. “Hng!” erang Harin lagi tatkala Jaekyung beralih ke bagian kanan lehernya, mengisap kulit lehernya yang lembut itu dengan kuat. “Jaekyung…!” Harin belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Sepuluh menit yang lalu, Harin mendengar pintu apartemennya diketuk, lalu ketika ia berjalan ke pintu itu dan membukanya, ia menemukan Jaekyung di sana yang tengah berdiri dan menatapnya nanar. Rambut pemuda itu terlihat sedikit berantakan; matanya gelap. Tatkala mata Harin melihat tepat ke kedua bola mata milik pemuda itu, Harin seolah langsung terjerumus ke dalam kegelapannya dan tenggelam di sana, terjebak di dalam lingkaran hitam tanpa ujung. Hal itu membuat kakinya mendadak jadi tak bisa digerakkan. Tepat setelah tiga detik saling memandang, dengan secepat kilat Jaekyung langsung mendekati Harin dan menciumnya dengan ganas. Sebelah tangan kekarnya sempat menutup pintu depan apartemen Harin seraya mencium gadis itu dengan penuh gairah. Kedua tangan Jaekyung mulai meraba-raba tubuh Harin dengan penuh hasrat, dia mengerang tatkala mendengar Harin tak sengaja mendesah di dalam ciuman mereka. Setelah beberapa saat, Harin mulai kehilangan kendali tubuhnya dan tak mampu memikirkan apa pun sampai-sampai Harin tak sadar bahwa mereka sudah ada di dalam kamarnya entah sejak kapan. Ciuman itu terasa begitu panas dan tak sabaran. Rabaan kedua tangan Jaekyung pada tubuhnya juga semakin membuatnya tidak sadar sama sekali dengan sekelilingnya. Tidak sadar sama sekali ke mana Jaekyung menuntunnya sembari berciuman. Sekarang Jaekyung sudah melepaskan dirinya dari leher Harin. Kepala Jaekyung mulai turun ke bawah, dia mulai menciumi d**a Harin yang masih tertutupi oleh baju tidur. Dia menciumi bagian di antara kedua p******a Harin, mengerang tatkala sadar bahwa Harin tidak mencoba untuk menghentikannya. Harin sesungguhnya sudah sangat sering dicumbu seperti ini oleh Jaekyung, tetapi Harin selalu menghentikan Jaekyung tatkala dirasa sudah berlebihan. Soalnya ia tahu bagaimana lihainya Jaekyung dalam menyenangkan tubuhnya, ia juga tahu bagaimana sulitnya menenangkan gairah Jaekyung. Dia takut mereka akan kebablasan jika tidak dihentikan. Sebenarnya, akhir-akhir ini Harin sedang benar-benar marah pada Jaekyung. Sakit hati. Kebohongan Jaekyung kemarin juga masih membuatnya kepikiran hingga kini. Ia sudah makan hati akibat Jaekyung yang akhir-akhir ini tak pernah menghargainya. Namun, ketika dia dicumbu oleh Jaekyung dengan sangat b*******h seperti ini, dia mendadak kembali lengah. Ini juga disebabkan karena ketika Jaekyung mencumbunya, feeling gadis itu seolah mengatakan padanya bahwa Jaekyung menginginkannya. Dari cara Jaekyung mencium Harin, merengkuhnya, meremas tubuhnya, merabanya, mengelusnya, membelainya…itu semua seolah mengatakan bahwa pemuda itu sedang jatuh cinta. Ini membuat Harin jadi sering lupa atau malah sengaja menyisihkan masalah mereka ke samping terlebih dahulu tatkala Jaekyung mencumbunya. Walau sebenarnya ia tahu bahwa seharusnya ia mendorong Jaekyung, menamparnya, lalu mengusir pemuda itu dari apartemennya. Jaekyung pun menggendong Harin dan mengimpitnya ke dinding kamar. Dia mencium bibir Harin dan memasukkan lidahnya ke mulut Harin, melilit lidah Harin bersamanya. Ciuman itu terasa begitu dalam, begitu liar. Sesekali ia menggigit bibir Harin dan mengisapnya dengan kuat. Harin memejamkan mata seraya mengerutkan dahinya; bibirnya dipagut tanpa henti oleh Jaekyung seolah itu adalah santapan yang begitu nikmat. Santapan yang selalu pemuda itu tunggu-tunggu. Sesekali Jaekyung mengerang rendah dan tatkala ciuman itu terlepas, bunyi kedua bibir yang saling melepaskan itu terdengar begitu sensual. Begitu erotis. Jaekyung menatap Harin dengan tatapan yang dalam, matanya semakin menggelap. Harin kembali tenggelam di dalam tatapan pemuda itu—ia masih terengah-engah—hingga tiba-tiba Jaekyung kembali merunduk dan menciumi area dadanya. Kini Jaekyung menciumi kulit kenyal bagian atas payudaranya; Jaekyung masih mampu menyelipkan wajahnya masuk ke area p******a Harin melalui bagian leher baju tidur Harin yang terbuka. Bagian leher baju itu memang agak longgar sehingga Jaekyung bisa mencium bagian atas p******a Harin dari sana. Pemuda itu hanya mampu mencium bagian atasnya karena Harin masih mengenakan bra. Jaekyung pun mengisap kulit lembut p******a sebelah kiri Harin dari atas dan hal itu membuat Harin spontan meremas rambut Jaekyung. “Hngh! Jae—” “Lembut sekali, Sayang,” ucap Jaekyung dengan nada yang memuja. Suara kecupannya pada p******a Harin terdengar begitu erotis. “Nikmat.” Tiba-tiba Jaekyung mencengkeram kedua p******a Harin dan meremasnya dengan kuat. Dia langsung menatap tepat ke kedua bola mata Harin, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Harin. Hidung mereka bersentuhan dan mereka sama-sama terengah-engah. Harin yang dahinya berkerut seraya mendesah kuat, serta Jaekyung yang mengerang karena reaksi Harin akan sentuhannya. Dia sungguh tergila-gila dengan seluruh respons yang diberikan Harin kepadanya. “Boleh kubuka bajunya?” Jaekyung bertanya dengan napas yang memburu, tepat di depan bibir Harin. “Hm? Aku buka, ya, Cinta.” “Hangh!” desah Harin tatkala ia merasa bahwa remasan tangan Jaekyung pada kedua payudaranya jadi semakin kuat. Semakin tidak sabar. Semakin b*******h. “Jangan—” Tangan Jaekyung mendadak menyelip masuk ke baju Harin dan kontan saja Harin tersentak tatkala merasakan kulit tangan Jaekyung yang bersentuhan langsung dengan perutnya. Jaekyung pun mulai mendesah, sesekali dia menciumi bibir Harin. Dia sudah sangat terangsang; kejantanannya sudah berdiri tegak sepenuhnya. Dia pun berbicara lagi, “Atau aku sentuh langsung saja, ya?” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN