Chapter 13 :
Unzip Those Jeans (1)
******
TANGAN kiri Jaekyung mulai memegang pipi b****g Harin yang sangat bulat dan kenyal itu. Ia mengerang tatkala meremasnya dengan sensual. Sementara itu, Harin sejak tadi menggigit bibirnya dan meremas seprai dengan kencang, mempersiapkan dirinya untuk apa yang akan terjadi beberapa detik setelah ini. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang; dia sendiri bisa mendengar degup jantungnya.
Tiba-tiba saja, Harin merasa kalau Jaekyung mencium pipi bokongnya—yang sebenarnya masih tertutup celana dalam tipis itu—beberapa kali. Harin tersentak; gadis itu membulatkan mata dan tanpa sadar mengeluarkan suara, “Hng!”
Ah, sial. Jaekyung benar-benar hilang akal. Hari ini, dia benar-benar menyentuh Harin secara langsung. Melihat berbagai sisi Harin yang lebih intim dari biasanya, melihat penampilan Harin yang hampir telanjang…
Kulit Harin yang sangat mulus dan lembut, payudaranya, pahanya, dan bahkan b****g serta vaginanya yang hanya tertutup celana dalam…
Seorang gadis yang biasanya dia cumbu dalam keadaan berpakaian, kali ini dia cumbu dalam keadaan hampir telanjang. Ada sisi primal yang bangkit di dalam dirinya, sebuah monster yang terlepas dari belenggunya, berteriak di dalam kepalanya untuk segera mengawini gadis itu sekarang juga.
Untungnya, obsesinya pada Harin mampu menghentikan semua itu. Well, sebenarnya…obsesinya pada Harinlah yang membuatnya ingin menyetubuhi Harin habis-habisan malam ini, tetapi obsesi itu pulalah yang menghentikannya.
…sebab jika Harin marah, kemungkinan besar…Harin akan meninggalkannya.
Jaekyung mengetatkan rahang; dia menggertakkan giginya. Kejantanannya sudah sangat keras, sangat besar, dan ia sudah tak bisa menahannya lebih lama. Dia akan terbakar jika tidak memuaskan hasratnya sekarang juga.
Mata Harin membulat ketika tiba-tiba ia merasa kejantanan Jaekyung menyelip di antara kedua pahanya. Pipinya memerah sempurna; mulutnya terbuka. Dia semakin meremas seprai yang ada di sebelah kanan dan kirinya.
It’s…there.
Kejantanan Jaekyung…sudah ada di sana.
Harin bisa merasakan bentuk dan teksturnya secara langsung. Untuk pertama kalinya, selama lima tahun berpacaran…dia benar-benar merasakan milik Jaekyung.
Itu…sangat besar. Sangat keras…dan urat-uratnya terasa begitu jelas. Sela-sela paha Harin jelas sangat sempit untuk ukurannya.
“Ahh… Sayang,” erang Jaekyung, dia sempat mendongak dan memejamkan matanya. “Enak sekali, Sayang…”
Jaekyung lalu kembali menatap ke bawah, ke arah Harin yang sedang menungging di bawahnya dan menjepit kejantanannya. Kedua matanya semakin menggelap, penuh akan rasa cinta yang bercampur dengan berahi. Dia mendesah, lalu berkata, “Aku bisa merasakan bibir vaginamu dari sini, Sayang… Rapat dan basah sekali... Masih sensitif, hmm?”
Harin spontan mengerang, ia malu mendengarkan kata-kata vulgar itu. “Hngh…”
“Oh, My Queen. Kau dan desahanmu benar-benar sanggup membuatku gila,” ujar Jaekyung. “Seharusnya itu ilegal. Aku bisa-bisa memerkosamu di sini.”
Harin mulai menenggelamkan wajahnya di kasur, pipinya memanas dan ia kembali menggigit bibirnya kuat-kuat. Jaekyung belum bergerak, tetapi mengapa…mengapa rasanya panas sekali?
Jaekyung mengerang. “Aku mulai, ya, Cinta.”
Tepat satu detik setelah itu, Jaekyung pun langsung bergerak. Ia menarik kejantanannya hingga nyaris keluar sepenuhnya…lalu kembali menghunjam area paha Harin dengan satu gerakan yang sangat kuat. Hal ini sukses membuat Harin mengangkat wajahnya—nyaris mendongak—dan berteriak. Mata Harin membulat, mulutnya menganga.
“Ah!!”
Namun, Jaekyung sepertinya sudah benar-benar mabuk. Ia seolah-olah sudah tidak berada di sana; apa yang ada di otaknya saat itu hanyalah: menusuk Harin. Rahangnya mengetat; dia kembali menggertakkan giginya dan menggeram. Matanya menatap tajam—sangat intens, penuh akan gairah—kepada b****g Harin yang terus berguncang dengan sensual tiap kali ia menusuk sela-sela paha gadis itu. Ia mencengkeram pinggul gadis itu dengan kuat hingga meninggalkan bekas merah.
Ia menghunjam Harin dengan sangat cepat, sangat kuat, dan sangat brutal. Napas Harin tersendat-sendat saat gadis itu ingin berbicara—setidaknya ingin memohon pada Jaekyung untuk sedikit lebih pelan—tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah:
“A—Ahh!!! Jae—seben—angh!!! Oh!! Hnghh!!!!”
“Aaah…ssh…” desah Jaekyung di sela-sela gerakan brutalnya. “Nikmat sekali, Sayang. Nikmat. Aah…cantik sekali, Cinta…”
Harin nyaris kehilangan kendali tubuhnya. Kejantanan Jaekyung terus-menerus menusuk sela-sela pahanya sekaligus menggesek vaginanya. Celana dalamnya sangatlah tipis, jadi ia benar-benar bisa merasakan klitorisnya yang berkali-kali diserang oleh Jaekyung.
“J—Jae—ahh!! Jae—kyung!! Hanggh!! Pela—”
“Aku tidak akan bisa pelan, Sayang,” jawab Jaekyung seraya menggeram. “Setelah lima tahun bersamamu, malam ini aku akhirnya benar-benar menyentuhmu. Apa kau kira aku bisa melakukannya dengan pelan?”
“Ahhh!!!” Harin kembali menenggelamkan wajahnya. Buku jarinya memutih saking kuatnya ia meremas seprai. “Ahh!! Jae—”
“Oh…klitorisnya membengkak, Sayang…” ujar Jaekyung dengan nada memuja. Matanya menatap Harin dengan penuh cinta…seolah-olah kewarasannya bergantung pada Harin saat itu.
Libidonya pada Harin sangatlah tinggi, begitu pula s*x drive-nya. Namun, dia menahan semua itu…untuk Harin. Harin salah besar kalau berekspektasi bahwa dia akan ‘pelan-pelan’ saat akhirnya bisa menyentuh bagian privat gadis itu.
Harin mendesah, pipinya lagi-lagi merona. Namun, tiba-tiba gerakan Jaekyung jadi semakin kuat. Dia seolah-olah hilang kontrol akan hasratnya. Dia kehilangan kuasa atas nafsu berahinya. It’s like something clicked inside of him; something just snapped. Harin serasa sedang disetubuhi oleh monster.
Spontan Harin kembali mendongak. Mulutnya menganga; ia berteriak. Secara mendadak juga, Jaekyung menarik kedua tangannya ke belakang. Membuat cengkeramannya pada seprai itu terlepas begitu saja.
Jaekyung tak lagi mencengkeram pinggulnya sebagai tumpuan. Pemuda itu menarik dan mencengkeram pergelangan tangannya, lalu menyodoknya dari belakang. Menungganginya.
Setiap tusukannya jadi terasa semakin kuat. Semakin dalam. Semakin gila.
Semakin perkasa.
Tubuh Harin sampai ikut tertarik ke atas. Kini dadanya tidak lagi bertemu dengan permukaan kasur. “Haaaangghh!!! AH!! Ahngg—Jae—Jaekyung!! Angh!!! Haa—”
Headboard ranjang Harin menabrak-nabrak dinding kamarnya dengan hebat. Dia lagi-lagi merasa seperti sedang disetubuhi sungguhan; dia seolah-olah akan dihamili saat itu juga.
Sebentar. Bukankah ini basically…straight out…
…sex?
Melihat p******a indah Harin yang berguncang hebat akibat gerakan brutal itu, Jaekyung spontan mengerang dan berkata, “Ahh… Vaginamu pasti sangat nikmat, Sayang… Sangat sempit; sangat kenyal. Itu diciptakan untukku, Sayang. Aku bisa gila hanya dengan membayangkannya…”
Dengan cepat, Jaekyung membuka pakaiannya. Dia membuka leather jacket-nya, lalu dalam satu gerakan, dia membuka body fit t-shirt-nya yang berwarna hitam. Jaket serta kaus itu dilempar ke lantai begitu saja, menyisakan Jaekyung yang benar-benar shirtless, bahkan celana jeans dan boxer-nya juga diturunkan ke bawah karena sedang menggagahi Harin. Ritsleting jeans itu terbuka sempurna.
Jaekyung bertelanjang d**a. Tubuhnya yang berotot dan bertato itu terlihat dengan jelas; ia juga cukup berkeringat akibat aktivitas yang saat ini sedang ia lakukan bersama kekasihnya. Tato yang ada di lehernya, di kedua lengannya...serta yang ada di punggungnya (by the way, Harin belum pernah melihat tato yang ada di punggung itu), semuanya tampak jelas. Semua otot yang ada di perutnya dan lengannya juga terlihat sangat kentara. Urat-urat di lengannya menonjol saking kencangnya ia menarik tangan Harin sekaligus mendorong kejantanannya, mencoba untuk merasakan seluruh permukaan paha dan v****a Harin.
Rahang Jaekyung semakin mengetat. Ia benar-benar kalap. Otaknya berkali-kali mengulang, ‘Harin, Harin, Harin’ hingga tak ada lagi ruang untuk memikirkan hal lain.
“Argh…Riiiin…” erang Jaekyung. “Sayaang…”
Sementara itu, Harin tak berhenti mendesah kencang. Ia tak mampu memproses ucapan Jaekyung lagi. Otaknya serasa blank akibat tusukan-tusukan brutal itu.
“Cairannya keluar terus, Sayang…” ujar Jaekyung dengan manja, desperate. “Enak, Sayang?”
Tiap dirty talk yang Jaekyung ucapkan terasa sangat-sangat kotor. Dia tidak mengucapkan kalimat kotor yang berupa teasing atau in control; dia mengucapkan itu seperti kerasukan oleh obsesinya sendiri. Dia tak peduli bila itu terdengar menjijikkan atau liar, dia hanya mengatakan apa yang otaknya pikirkan atau apa yang tubuhnya rasakan saat itu. Itu membuat ucapannya jadi sangat vulgar.
Dia tak pernah memfilter ucapannya; dia mengatakan persis seperti apa yang dia khayalkan. Kata-katanya sendiri sangat eksplisit, tanpa eufemisme. Dia tegas. Gamblang. Dia juga tidak malu; dia ingin Harin tahu seberapa besar gadis itu membuatnya gila. Kau bisa merasakan keputusasaan di balik kata-katanya karena itu bukan hanya nafsu berahi, itu adalah pengabdian tak waras yang dikemas dengan kata-kata kotor.
“Ah—a—aku—ah—ah! Ahh—” Desahan Harin tersendat-sendat akibat dahsyatnya hunjaman Jaekyung. Suaranya bergetar karena guncangan hebat itu. “Agh!!! O—Ohh—”
“Oh, Tuhan—” Jaekyung mendongak, memejamkan matanya sejenak…hanya untuk kembali menunduk dan menatap Harin dengan nafsu yang tak terbendung. Dia benar-benar geram. “Sial, Sayang. I can’t. Aku harus merasakanmu.”
Mendengar itu, Harin—yang belum sepenuhnya sadar—hanya sedikit menoleh ke arah Jaekyung dengan mata sayu dan pipi merahnya. “E—h…?” []