Chapter 12 :
Elysian (5)
******
APA?
“Jaekyung—” Harin menggeleng. “Tidak usah. Nanti kau terluka. Jumlah mereka banyak.”
Jaekyung membelai jemari Harin yang sedang memeluknya. “Kau pikir mereka akan melepaskanku begitu saja? Mereka jelas-jelas mencegat kita.”
Harin terdiam. Gadis itu menunduk, dahinya berkerut. Ia panik dan bingung. Jaekyung bisa terluka parah!
“Turun sebentar, ya?” bujuk Jaekyung. “Aku akan baik-baik saja.”
Merasa tidak mampu menolak Jaekyung—karena tidak tahu harus bagaimana—Harin pun akhirnya mengangguk dengan gundah. Dahinya terus berkerut, matanya tampak nelangsa sekaligus khawatir. Ia turun dari motor Jaekyung dengan terpaksa.
Setelah memberikan helmnya kepada Jaekyung, Jaekyung pun membuka helmnya sendiri, lalu turun dari motor itu. Jaekyung meletakkan helm mereka berdua di atas motor.
Jaekyung mendekati Harin sebentar, lalu memberikan tasnya kepada Harin. “Pegang tasku sebentar, ya, Cantik.”
Harin mengangguk pasrah. Gadis itu meraih tas Jaekyung, lalu meletakkan tas itu di pelukannya.
Jaekyung pun melangkah maju, mendekati gerombolan yang terus berteriak padanya sejak tadi. Dengan ekspresi dingin serta tatapan yang sangat tajam, Jaekyung terus berjalan ke arah mereka.
Setelah sampai tepat di depan kawanan pengacau itu, Jaekyung pun berhenti melangkah. Dengan penuh intimidasi, penuh tekanan yang tinggi, Jaekyung pun mulai bersuara.
“Jadi,” bukanya. “siapa kalian?”
Salah satu dari mereka, yang tadi berteriak pertama kali, lantas maju ke depan. Pemuda itu langsung mendorong bahu Jaekyung, tetapi hampir tidak membuat pengaruh apa-apa terhadap Jaekyung.
“Jangan berpura-pura, keparat.” Pemuda itu menatap Jaekyung dengan mata nyalang. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jaekyung; ekspresi wajahnya terlihat berang dan penuh dengan dendam. Rahangnya mengeras. Urat-urat di lehernya terlihat dengan jelas tatkala ia menggertakkan giginya. “Kau—APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA KEKASIHKU DI PERTANDINGAN SEMINGGU YANG LALU, SIALAN? AKU TAK PERNAH MENGGANGGUMU!”
Mata Jaekyung menyipit. “Kekasihmu? Siapa?”
Satu pukulan langsung mendarat di wajah Jaekyung. Pemuda itu meninju wajah Jaekyung dengan sangat keras, membuat kepala Jaekyung langsung berpaling ke samping. Jaekyung terlihat melihat ke bawah, ke aspal, sementara darah mulai mengalir dari sudut bibirnya.
“b******n! KAU TELAH MEREBUT KEKASIHKU!” teriak pemuda itu.
Ah. Masalah seperti ini lagi.
Jaekyung menyeka darah yang ada di sudut bibirnya. Ia lalu menoleh kepada pemuda itu dan menatap pemuda itu dengan sinis. “Jadi, intinya, kekasihmu meninggalkanmu karena melihatku menang di pertandingan itu?”
Mata pemuda itu kontan memelotot. Ia langsung hilang akal. Dengan membabi buta, ia spontan meninju wajah Jaekyung berkali-kali. “SIALAN! SIALAN! SIALAN KAU, k*****t! SIALAN!!!! MATI KAU!!!”
Namun, setelah sukses menghajar Jaekyung berkali-kali tanpa ada perlawanan, tiba-tiba sebelah tangan pemuda itu dicengkeram oleh Jaekyung. Jaekyung langsung menarik tangan pemuda itu ke atas; pada dasarnya, Jaekyung mengangkat tubuh pemuda itu dengan sebelah tangannya. Tangan pemuda itu diangkat ke atas hingga kakinya tidak menapak tanah!
Pemuda itu sontak membulatkan mata. Namun, sebelum pemuda itu sempat bereaksi apa-apa, Jaekyung langsung membanting tubuh pemuda itu ke aspal. Melemparnya cukup jauh dari hadapannya.
Kontan saja semua orang di sana jadi geram. Mereka semua langsung berteriak dan berlari ke arah Jaekyung. Mereka ingin menyerang Jaekyung dengan membabi buta; mereka ingin mengeroyok Jaekyung habis-habisan.
Namun, terjadi sebuah hal yang tak terduga.
Tiba-tiba saja, Jaekyung melihat Harin berdiri di depannya. Gadis itu melindungi Jaekyung yang ada di belakangnya, lalu menghadang seluruh pemuda yang ingin menyerang Jaekyung.
“BERHENTI!!!” teriak Harin kencang, mengalahkan seluruh teriakan para pemuda itu.
Para pemuda itu mendadak berhenti mendekati Jaekyung tatkala melihat bahwa gadis itu tidak hanya sedang berdiri di sana. Gadis itu berdiri melindungi Jaekyung sambil mengulurkan sebelah tangannya ke depan. Gadis itu tengah menunjukkan layar ponselnya kepada mereka semua.
“AKU SUDAH MENELEPON POLISI!!!” teriak Harin. “HENTIKAN SEMUA INI!! PAMANKU ADALAH SEORANG POLISI DAN DIA SEDANG MENUJU KE SINI!!!”
Para pemuda itu bisa melihat bahwa ternyata di layar ponsel itu ada sosok seorang pria. Layar itu sedang menampilkan video call!!! Selain itu, di dalam video call tersebut…pria itu tampak memakai seragam polisi dan sedang duduk di dalam mobil. Ada suara sirene mobil polisi yang terdengar sangat kencang dari video call itu!!
“Ah, aku tahu jalan itu. Aku akan segera ke sana, Harin. Untuk kalian semua, bocah-bocah k*****t, tunggu di sana!!!!” teriak pamannya Harin dari seberang sana.
“CEPAT, PAMAN, NANTI MEREKA KABUR! TANGKAP SAJA MEREKA-MEREKA INI!!” teriak Harin.
“Okeeee, siap!” jawab pamannya Harin, lalu panggilan video itu pun dimatikan.
Kontan saja semua pemuda yang ada di sana berlari terbirit-b***t. Pemuda yang tadi dibanting ke aspal oleh Jaekyung pun langsung berdiri dan berlari terseok-seok ke motornya. Mereka semua langsung panik dan terpontang-panting. Pemuda yang ‘kekasihnya-direbut-oleh-Jaekyung’ itu sempat berteriak, “KITA AKAN MENYELESAIKAN INI, JAEKYUNG!!”, lalu ia dan teman-temannya langsung mengegas motor mereka dan kabur dari sana dengan kecepatan tinggi.
Setelah motor mereka sudah jauh di depan sana—bahkan suaranya pun sudah terdengar sangat jauh—Harin pun akhirnya menghela napas lega. Bahunya sampai jatuh; kerutan di dahinya langsung hilang. Ia mulai menghirup oksigen di sana sebanyak mungkin. Rasa sesak di dadanya perlahan-lahan hilang.
Namun, tiba-tiba saja…Harin mendengar sebuah tawa kecil.
Harin kontan berbalik. Ia pun menemukan Jaekyung…yang sedang tertawa kecil. Jaekyung tertawa pelan, tetapi kelihatannya pemuda itu benar-benar terhibur. Seakan-akan kejadian barusan terasa begitu menggelikan baginya.
Harin langsung menyatukan alis. “Kok malah tertawa, sih?!”
Mendengar Harin bertanya seperti itu, Jaekyung justru tertawa semakin keras. Ia tertawa di hadapan Harin.
Setelah puas tertawa, Jaekyung pun menatap Harin dengan mata yang menyiratkan jenaka. “Wah, sepertinya aku harus berhati-hati, nih. Gadis yang kusuka ternyata merupakan keponakan seorang polisi.”
Harin memasang ekspresi datar. “Ha? Kau bicara apa coba?”
Jaekyung kembali tertawa.
Harin berdecak. Gadis itu pun langsung mendekati Jaekyung dan memeriksa wajah Jaekyung. Matanya membeliak tatkala melihat wajah Jaekyung yang penuh akan luka karena menerima banyak pukulan. “Kok pukulannya tak kau hentikan, sih? Astaga, wajahmu jadi memar-memar semua!”
Harin mendengkus. Ia mulai mengusap darah yang mengalir di sudut bibir Jaekyung. Ia juga menyentuh memar-memar yang ada di wajah Jaekyung dengan pelan.
“Jaekyung, beritahu aku alamatmu,” ujar Harin lirih. “Kau naik taksi saja, ya? Nanti Pamanku akan membantu membawakan motormu.”
Saat tatapan mata Harin sampai ke kedua mata Jaekyung, Harin kontan terdiam. Mata Harin melebar.
Ternyata…sejak tadi Jaekyung terus memperhatikannya. Menatapnya dengan begitu lekat. Begitu intens. Begitu dalam.
Pemuda itu tersenyum lembut.
Setelah bertatapan selama tiga detik, tiba-tiba saja…
Jaekyung mencium Harin.
Tepat di bibirnya.
Ciuman itu awalnya sangat lembut. Mesra…dan penuh kasih. Jaekyung seakan ingin mencicip dan meneliti bibir Harin. Hal ini membuat Harin—yang tadinya terkejut bukan main—perlahan-lahan mulai menerima ciuman Jaekyung dan memejamkan matanya.
Namun, sepuluh detik kemudian, ciuman itu jadi semakin dalam. Jaekyung mulai melumat bibir Harin, menggigit bibir Harin, lalu memasukkan lidahnya ke dalam mulut Harin. Melilit lidah Harin dengan lidahnya. Sebelah tangannya menarik tubuh Harin ke dalam pelukannya, sementara sebelah tangannya lagi memegang kepala Harin agar gadis itu terus mendongak dan menerima ciumannya.
Saat ciuman itu terasa semakin menuntut, Harin kontan mengerutkan dahi. Tangannya mulai mencengkeram seragam Jaekyung di bagian d**a. Ia belum pernah berciuman sebelumnya, jadi ciuman seintens ini tentu membuatnya kaget dan terengah-engah. Bibirnya terus menerus dilumat oleh Jaekyung, bahkan Jaekyung sempat mengisap lidahnya. Mereka bertukar saliva.
Satu menit kemudian, Jaekyung pun melepaskan ciuman itu. Wajah mereka sangat dekat. Bibir mereka masih nyaris menempel; Harin dapat merasakan hangatnya napas Jaekyung di kulit wajahnya.
Pipi Harin memerah. Matanya sayu. Ia jadi lemah akibat ciuman panas itu. Itu adalah ciuman pertamanya, tetapi ciuman itu terasa sangat…liar.
Jaekyung terus memperhatikan seluruh reaksi Harin. Merekam pemandangan itu dan menyimpannya di dalam otaknya. Ia menatap Harin dengan penuh…hasrat. Penuh keinginan. Penuh…
…cinta.
Aah, Jaekyung sangat menginginkan gadis ini.
Jaekyung lantas tersenyum miring. Pemuda itu membelai bibir Harin yang lecet karena ciumannya, lalu berbisik.
“Pacaran, yuk.” []