11. Elysian (4)

1269 Kata
Chapter 11 : Elysian (4) ****** SETELAH semua hal yang terjadi di hari itu, Kwon Jaekyung jadi sering memperhatikan Harin. Terkadang, Jaekyung menemukan Harin tanpa sengaja saat ia melewati perpustakaan; Jaekyung melihat Harin sedang duduk dan belajar di perpustakaan itu. Terkadang pula, Jaekyung melihat Harin makan di kantin bersama teman-temannya. Intinya, Jaekyung menjadi lebih ‘sadar’ akan keberadaan Harin. Sekitar satu minggu kemudian, tatkala semua murid dikumpulkan di aula sekolah, Jaekyung melihat Harin naik ke panggung yang ada di aula itu. Gadis itu dipanggil naik ke panggung karena telah berhasil memenangkan Olimpiade Matematika tingkat provinsi. Dia naik ke panggung, lalu menerima hadiah dari sekolah berupa sebuah piala berwarna emas. Gadis itu lalu menyampaikan kata-kata terima kasihnya di podium. Saat berbicara di atas panggung, dia terlihat tenang, berwibawa, dan percaya diri. Dia juga tersenyum saat mengucapkan terima kasih. Di sana, di atas panggung itu, Jaekyung benar-benar melihat sosok perempuan yang sangat bersinar. Perempuan yang cantik, pintar, kreatif, dan menginspirasi. She’s so peaceful and perfect. Sangat berbeda dari Jaekyung. Jika Seo Harin bersinar bagaikan matahari, …maka Kwon Jaekyung bagaikan malam kelam yang dipenuhi dengan burung gagak. Namun, entah mengapa, perbedaan itu menarik Jaekyung kepada Harin seperti magnet. Their differences draw him to her. He is attracted to her because of the ways they are unlike each other. Namun, yang membuat Jaekyung semakin tertarik adalah: Harin juga memiliki beberapa kebiasaan lucu di balik sikap tenangnya. Suatu ketika, Jaekyung pernah masuk ke perpustakaan tanpa Harin ketahui. Jaekyung lalu melihat Harin—yang sedang duduk di perpustakaan itu—sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah memastikan tidak ada siapa pun yang melihatnya, Harin pun mengeluarkan sebuah snack potato chips dari dalam tasnya dan memakan snack itu sambil mengerjakan tugasnya. Di perpustakaan sekolah itu dilarang membawa makanan. Jaekyung yang tak pernah menginjak perpustakaan itu—kalau bukan karena menguntit Harin—pun tahu soal itu. Di balik sikap composed-nya, Harin terkadang bisa melakukan sesuatu yang lucu. Selain memperhatikan Harin di perpustakaan, Jaekyung juga jadi sering tiba-tiba nimbrung saat Harin dan teman-temannya makan di kantin. Pemuda itu akan datang secara tiba-tiba—membawa makanannya—lalu duduk di sebelah Harin dan tersenyum kepada Harin. Sesekali ia akan ikut mengobrol bersama Harin dan teman-temannya, membuat teman-teman Harin jadi kikuk dan malu-malu. Soalnya, mendadak mereka jadi sering mengobrol dengan si tampan yang sangat populer di kota mereka. Kwon Jaekyung adalah seorang pembalap yang terkenal di seluruh komunitas balap motor liar; dia sangat populer di banyak tempat, terutama di kalangan pemuda pemudi. Selain terkenal karena jago balapan motor, dia juga terkenal karena dia merupakan ahli waris konglomerasi bisnis yang tidak asing lagi di negara itu, yakni JA International. Seperti saat ini. Jaekyung tiba-tiba menghampiri meja di mana Harin dan teman-temannya sedang makan. Mengenali wangi parfum Jaekyung—yang khas itu—Harin pun langsung menoleh dan mendapati Jaekyung yang sudah bergerak untuk duduk di sebelahnya. Setelah duduk dengan benar di samping Harin, Jaekyung pun menatap Harin seraya tersenyum simpul. Pemuda itu memiringkan kepalanya dan berkata, “Aku duduk di sini, ya.” Meski hal ini sudah sering terjadi, tetap saja teman-teman Harin tercengang saat memperhatikan Jaekyung. Ini benar-benar seperti keajaiban. “Masih banyak kursi yang kosong selain di sini, Jaekyung,” jawab Harin seraya mengerutkan dahinya. Jaekyung tersenyum miring, lalu mulai memakan makanan yang ia bawa. “Di sini saja tidak apa-apa.” Menghela napas, Harin pun tiba-tiba memperhatikan wajah Jaekyung. Ada sebuah luka lebam di area tulang pipi pemuda itu. Harin sedikit melebarkan matanya. “Kau berkelahi lagi, ya?” Jaekyung menoleh sejenak kepada Harin, lalu lanjut makan. “Hm.” “Bukankah waktu itu aku sudah memperingatimu?” ujar Harin. Gadis itu menyatukan alisnya. “Kau mau tulang pipimu retak?” “Tidak.” “Jadi, mengapa kau masih berkelahi?” “Aku tak sengaja terkena pukulannya, Cantik.” Mata Harin membulat. Karena pipinya mulai terasa agak memanas, Harin pun memalingkan wajahnya dan langsung pura-pura mengaduk supnya. “Dasar tukang berkelahi.” Menoleh kepada Harin, Jaekyung tertawa kecil. Harin lucu sekali kalau sedang mengomel seperti itu. Orang yang biasanya terlihat sangat tenang, sekarang sedang mengomeli Jaekyung. Ini terasa begitu…menyenangkan. Di sisi lain, teman-teman Harin jadi menganga melihat adegan itu. Ini…mereka pasti pacaran, nih! Masa iya obrolan mereka semanis ini? “Rin?” panggil Jaekyung. Matanya menatap Harin dengan sangat lembut. Teduh. “Hm?” sahut Harin, gadis itu baru saja memakan wortel yang ada di supnya. Ia lalu menoleh kepada Jaekyung. Jaekyung tersenyum. “Mau tidak sama aku?” Kontan saja teman-teman Harin jadi membulatkan mata. Mereka semua terperanjat. Ada yang menutup mulutnya dengan kedua tangan, ada juga yang sibuk menepuk-nepuk pundak teman yang duduk di sebelahnya seraya menganga. Seriusan, nih, Harin ditembak di depan mereka??! Namun, kontras dengan apa yang mereka harapkan, ternyata Harin langsung mengalihkan wajahnya dan memasang ekspresi datar. “Tidak mau.” Waduh. Kwon Jaekyung, si bad boy populer itu, ditolak mentah-mentah! Mendengar jawaban dari Harin, Jaekyung sedikit mengangkat kedua alisnya. “Kenapa?” Dengan blak-blakan, Harin menghela napasnya dan menjawab, “You’re not worth it. Kau terlihat seperti pengkhianat. Aku sering melihatmu menggoda banyak perempuan.” Jaekyung terdiam. Well, Jaekyung memang sering iseng menggoda balik perempuan yang menggodanya. Akan tetapi, entah mengapa…tiba-tiba ada sebuah percikan rasa senang yang muncul di hati Jaekyung. Soalnya, dari kalimat Harin itu… …Jaekyung bisa menyimpulkan bahwa Harin juga memperhatikannya. Ternyata, bukan hanya Jaekyung yang ‘lebih’ menyadari keberadaan Harin. Harin pun demikian. Jaekyung tersenyum miring. “Benarkah? Seingatku, aku hanya iseng,” jawab Jaekyung. “Sama saja,” balas Harin. “Tidak ada kata iseng. Itu adalah kebiasaan seorang pembohong dan pengkhianat.” Jaekyung mendengkus. “Iya, deh, iya. Aku pengkhianat. Nanti boleh kuantar pulang?” ****** Sore itu, Harin benar-benar pulang bersama Jaekyung. Sebetulnya, hari itu adalah pertama kalinya Jaekyung mengantar Harin pulang, soalnya selama ini Harin selalu menolak ajakan Jaekyung. Namun, kali ini agaknya Harin mengalah. Tadi, sebelum motor itu berjalan, Jaekyung langsung menarik kedua tangan Harin hingga Harin benar-benar jadi memeluknya dari belakang. Jaekyung hanya berkata, ‘Jangan memegang jaketku saja. Nanti jatuh.’ Mata Harin melebar, tetapi akhirnya dia mengangguk. Dia ingat bahwa Jaekyung itu seorang pembalap. Bisa jadi Jaekyung memang berkendara dengan sangat cepat, jadi Harin akan membuang nyawanya sendiri apabila tidak benar-benar memeluk Jaekyung. Namun, kenyataannya tidak begitu. Saat membawa Harin, Jaekyung berkendara dengan sangat…pelan. Sangat santai. Seolah dia sedang membawa benda yang mudah pecah. Atau mungkin, dia hanya tak ingin cepat-cepat sampai. Tatkala sampai di sebuah jalan besar, Jaekyung dan Harin menyadari bahwa di sana sedang macet. Oleh karena itu, Jaekyung pun berbelok ke arah lain. Ke sebuah jalan kecil. Namun, saat mereka masuk ke jalan itu, tiba-tiba ada sekumpulan motor dari belakang yang menyusul mereka. Dengan cepat, motor-motor itu telah ada di samping kanan dan kiri mereka. Kumpulan motor itu kini mendahului motor Jaekyung dan berhenti di depan sana, bergerombol untuk mencegat Jaekyung. Jaekyung menghentikan motornya. Orang-orang itu langsung beramai-ramai turun dari motor mereka. Mereka semua memakai pakaian yang berwarna gelap; beberapa dari mereka membawa kayu pemukul. Salah satu dari mereka mulai berteriak, “Turun kau, k*****t!” Mata Harin membeliak. Harin langsung menatap Jaekyung, tetapi wajah Jaekyung tidak begitu terlihat karena sedang memakai helm. Harin hanya bisa melihat mata Jaekyung yang menyipit tajam di balik kaca helm itu. “Turun sekarang, Jaekyung!” “Iya, turun kau sekarang!!” Teriakan orang-orang itu mulai bersahut-sahutan. Astaga, ada apa ini?! Apakah—apakah hal inilah yang selalu Jaekyung hadapi? Harin panik. Gadis itu tanpa sadar semakin memeluk Jaekyung dengan erat. Namun, tiba-tiba, di antara seluruh teriakan itu, Harin mendengar Jaekyung berbicara. “Rin,” panggilnya. “Maaf. Bisakah kau turun sebentar? Aku tidak akan lama.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN