10. Elysian (3)

956 Kata
Chapter 10 : Elysian (3) ****** KEDUA mata Harin membulat. Pulang…bersama Kwon Jaekyung? Apa pemuda itu…serius? Harin benar-benar kaget, terus terang saja. Mereka tidak dekat; mereka sekadar tahu akan keberadaan satu sama lain. Mereka baru bercakap-cakap beberapa menit yang lalu. Pulang bersama adalah sebuah perkembangan yang terlalu cepat meskipun Harin tahu bahwa sepertinya Jaekyung melakukan itu sebagai bentuk terima kasih. Harin menghela napasnya, lalu berdiri dan meninggalkan Jaekyung. Ia menuju ke lemari obat-obatan. “Tidak perlu.” Ketika sedang menaruh kembali obat-obatan dan kasa itu, Harin mendengar Jaekyung berkata, “Nanti aku antar pulang, ya?” Harin menghela napas (lagi), lalu menutup lemari itu dan berdiri menghadap ke arah Jaekyung. “Tidak perlu, Jaekyung. Kembalilah ke kelasmu. Aku mau istirahat.” ****** Harin kira Jaekyung akan menyerah. Ternyata tidak. Oke, mengingat bagaimana Jaekyung memaksa Harin untuk mengobatinya di UKS tadi saja seharusnya sudah bisa menjadi acuan bahwa Jaekyung orangnya agak pemaksa. Sepertinya, pemuda itu memiliki prinsip bahwa apa yang ia inginkan harus ia dapatkan saat itu juga. Jam sekolah hari ini telah berakhir; bel pulang sekolah sudah berbunyi. Murid-murid di kelas Harin mulai membereskan barang-barang mereka; guru yang mengajar mereka tadi sudah keluar dari kelas. Tadi Harin sempat tidur di UKS kurang lebih selama dua jam. Saat Harin terbangun, Bu Mari sudah ada di ruangan itu. Bu Mari tersenyum pada Harin dan memeriksa tubuh gadis itu sejenak. Setelah memastikan bahwa dirinya telah sembuh, Harin pun pamit kepada Bu Mari untuk kembali ke kelas. Jadi, saat semua murid di kelas itu sedang mengemas barang-barang mereka, tiba-tiba Harin dikejutkan dengan suara teriakan tertahan para perempuan. Reaksi itu agaknya bersahut-sahutan, baik dari dalam kelas Harin maupun dari luar. Mereka seakan tengah melihat seseorang yang tak seharusnya berada di sana. Harin melihat semua teman sekelasnya melihat ke satu arah, yakni ke pintu masuk kelas. Kontan saja Harin melihat ke arah yang sama karena penasaran. Harin menoleh seraya menyatukan alisnya. Hal yang Harin temukan adalah: Di sana ada Kwon Jaekyung. Kwon Jaekyung berdiri bersandar di ambang pintu, lengkap dengan tas yang pemuda itu bawa di sebelah bahunya. Ia menatap tepat ke kedua mata Harin. Memperhatikan Harin dari jauh dengan lekat. Ia seolah mengurung Harin melalui tatapannya. Jaekyung menunggu Harin di pintu kelas! Mata Harin membelalak. Pikiran Harin langsung ke mana-mana. Sebentar, perasaan tadi tawarannya sudah kutolak! Mengapa dia ada di sini? Satu kelas itu—kelas Harin—lama-lama jadi terdiam. Perlahan-lahan…teriakan-teriakan tertahan itu juga berhenti. Mereka semua diam seolah menunggu apa yang akan terjadi. Mereka betul-betul ingin tahu. Mengapa Kwon Jaekyung ada di depan kelas mereka? Kelas itu sekarang jadi hening. Beberapa detik kemudian, Jaekyung mulai membuka suara. “Rin,” panggil Jaekyung. “Ayo pulang.” …tunggu. Pemuda itu…memanggil Harin dengan…apa? ‘Rin’…? Belum pernah ada orang yang memanggil Harin seperti itu. Gadis itu kaget bukan main. Mulutnya sampai sedikit terbuka. Di sisi lain, Harin sadar bahwa teman-teman sekelasnya mulai melihat ke arahnya. Semua orang menoleh kepadanya! Ada yang menyatukan alis, ada juga yang matanya membulat. Sedikit informasi: semua orang tahu bahwa Kwon Jaekyung itu tampan, tetapi dia berandal. Semua orang juga tahu bahwa sekolah ini milik ayahnya. Jadi, bayangkan saja. Tiba-tiba, pemuda itu datang ke kelas mereka, bersandar di ambang pintu seakan menunggu seseorang, lalu mengajak Seo Harin pulang bersamanya. Benar! Pemuda populer itu mendekati Seo Harin, anak emas di sekolah itu! Apalagi, Jaekyung memanggil Harin dengan panggilan ‘Rin’ seolah-olah mereka sudah sangat dekat. Sejak kapan mereka berdua dekat? Ini fenomenal. Karena tidak senang dengan perhatian semua orang yang langsung tertuju kepadanya, Harin pun cepat-cepat membereskan barang-barangnya dan langsung memasang tasnya. Setelah itu, Harin berlari ke pintu depan kelas, menghampiri Jaekyung yang tengah menunggunya di sana. Setelah sampai di ambang pintu, Harin pun melewati Jaekyung dan langsung berjalan mendahuluinya. Jaekyung ikut bergerak; pemuda itu mengikuti Harin dari belakang. Tidak butuh waktu lama hingga pemuda itu akhirnya berjalan di sebelah Harin. Semua orang yang juga sedang berjalan di koridor itu tentu saja memperhatikan mereka berdua sambil menahan teriakan. Beberapa perempuan kontan melebarkan mata seraya menutup mulut mereka dengan sebelah tangan. Tentu saja, semua orang kaget saat melihat pemandangan itu. Murid top sekolah, Seo Harin, jalan berdua dengan Kwon Jaekyung? Rasanya seperti menyatukan air dan minyak. Sambil berjalan di sebelah Harin, Jaekyung mulai kembali berbicara, “Pulang bersamaku, ya?” Harin menghela napas. Gadis itu menatap Jaekyung, lalu menggeleng. “Tidak usah, Jaekyung, tidak apa-apa. Aku biasanya pulang naik bus sekolah.” Meskipun kaget setengah mati dengan apa yang Jaekyung lakukan padanya hari ini, Harin tetap berusaha untuk tetap tenang. Dia menolak Jaekyung dengan halus. Tatkala sampai di depan sekolah, mereka berdua sama-sama melihat bahwa bus sekolah sudah menunggu di sana. Harin biasanya naik bus itu untuk pergi dan pulang sekolah. Jaekyung mendengkus. Harin lantas menoleh kepada Jaekyung. Sembari tersenyum tipis, Harin pun berkata, “Aku duluan, ya, Jaekyung.” Tanpa membuang waktu, Harin langsung berlari mendekati bus itu dan naik ke sana. Setelah ada di dalam bus, Harin berjalan ke belakang—mencari jok penumpang yang kosong—dan ia sempat melihat ke luar melalui jendela bus itu. Tampaklah Jaekyung yang berada jauh di depan sana, tengah berdiri seraya menyilangkan d**a. Jaekyung memperhatikan Harin dengan lekat; mata Jaekyung sedikit menyipit. Tatapan pemuda itu kembali memenjarakan Harin dari jauh. Harin meneguk ludahnya. Gadis itu mengerjap, lalu langsung mengalihkan pandangannya. Ia kembali mencari jok yang kosong, lalu duduk di jok itu. Kwon Jaekyung benar-benar tak bisa diprediksi. Namun, satu hal yang Harin tak tahu adalah: dugaannya mengenai Jaekyung yang ‘agak’ pemaksa itu sebenarnya salah. Pemuda itu bukan hanya ‘agak’ pemaksa. Dia memang pemaksa. Namun, sepertinya…baru Harin seoranglah yang berkali-kali sukses menghindari paksaannya. Maka dari itu, dia mendapatkan sebuah solusi. Sebuah alternatif. Dia akan mengikuti bus itu dari belakang secara diam-diam, …hingga bus itu sampai di rumah Harin. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN