Chapter 9 :
Elysian (2)
******
HARIN mendengkus. “Tidak bisa.”
“Aku tak mengerti bagaimana cara mengobatinya,” ujar Jaekyung. Dia menatap Harin dengan lekat. “Aku ingin masuk ke kelas setelah ini. Setidaknya luka di wajahku harus dibersihkan.”
“Tidakkah kau pernah datang ke sini sebelumnya? Kalau sudah pernah, seharusnya kau sudah tahu obatnya yang mana saja dan bagaimana cara Bu Mari mengobatimu,” jawab Harin seraya mengangkat alisnya.
Jaekyung menggeleng pelan. “Tidak pernah. Luka di wajahku tidak pernah separah ini, jadi aku belum pernah datang ke sini sebelumnya.”
Harin hanya diam. Sesungguhnya, dia tak mau membantu Jaekyung. Bukan apa, Jaekyung adalah orang asing baginya. Mengobati wajah orang asing…rasanya akan sangat aneh. Suasananya akan canggung setengah mati.
Karena Harin hanya diam, Jaekyung pun kembali bertanya dengan mata yang sedikit melebar polos. “Bisa tolong aku?”
Harin langsung membuang wajahnya. “Tidak bisa. Aku mau istirahat.”
“Ya sudah. Kalau begitu, aku tak bisa kembali ke kelas. Aku akan tidur di sini saja. Boleh aku tidur di sampingmu?” tanya Jaekyung.
Kedua mata Harin kontan membeliak. Gadis itu lantas kembali menoleh kepada Jaekyung. “Apa?”
“Boleh aku tidur di sampingmu, Nona Ketua OSIS?” tanya Jaekyung sekali lagi seraya memiringkan kepalanya. “Aku tak bisa kembali ke kelas dengan wajah yang seperti ini.”
“Mengapa harus di sampingku? Ada banyak ranjang lain di UKS ini!” Harin tiba-tiba meninggikan suaranya. Dia yang biasanya tenang, kini jadi kebingungan sendiri tatkala menghadapi Kwon Jaekyung. Ternyata, Kwon Jaekyung orangnya cukup menyebalkan.
“Supaya kau merasa bersalah saat melihat wajahku,” jawab Jaekyung enteng. Pemuda itu mengedikkan bahunya.
Harin mengurut keningnya. Pusing sendiri. “Kau ini sebenarnya mau apa, sih…”
Jaekyung tersenyum miring. “Aku mau Nona Ketua OSIS mengobatiku. Boleh?”
Akhirnya, Harin berhenti memijit keningnya. Gadis itu berkacak pinggang—menatap Jaekyung dengan mata yang menyipit tajam—lalu menghela napasnya.
“Baiklah. Lima menit saja.”
Mendengar jawaban Harin, Jaekyung pun tersenyum.
“Terima kasih, Nona Ketua OSIS.”
Harin mulai melangkah ke area depan lagi dan membuka lemari obat-obatan. Kali ini, Harin membuka lemari yang berdiri dan bersandar pada dinding, bukan lemari yang tergantung. Lemari itu berwarna putih dan sedikit lebih tinggi daripada tubuh Harin.
Saat telah mengambil obat untuk luka serta kasa, Harin pun menutup lemari itu dan mulai menghampiri Jaekyung yang ternyata sejak tadi tengah memandanginya.
Setelah sampai di hadapan Jaekyung, tanpa ba bi bu lagi, Harin langsung berlutut di depan Jaekyung. Kedua lututnya bertumpu di lantai.
Untungnya, kedua kaki Jaekyung sedikit terbuka, jadi Harin bisa lebih mendekat ke tubuh pemuda itu. Karena Jaekyung memiliki tubuh yang tinggi, sulit untuk mencapai wajah Jaekyung jika Harin duduknya agak jauh dari pemuda itu.
Posisi mereka saat ini sangat dekat.
Dekat, sampai-sampai Harin bisa mendengar napas mereka berdua. Ruang UKS itu sepi dan kecanggungan yang Harin rasakan pun jadi memperkeruh suasana.
Apalagi, Jaekyung juga menunduk…dan menatap wajah Harin dengan lekat. Dia sedang menunggu untuk diobati.
Saat berada dekat dengan Jaekyung seperti ini, Harin…bisa melihat wajah Jaekyung dengan jelas.
Pemuda itu memang tampan.
Luka-luka itu tak mampu menutupi eloknya parasnya. Dia memiliki hidung yang mancung, kedua mata yang tajam seperti elang, dan rahang yang tegas. Bola matanya berwarna coklat tua, warna yang tampak gelap dan memikat. Warna gelap itu seakan mampu menarikmu masuk ke sana…lalu tenggelam dan tak mampu kembali lagi.
Akibat kontur wajahnya yang tajam, ia terlihat maskulin, percaya diri, dan berkarisma. Ia tampak penuh dengan vitalitas.
Bahunya juga lebar. Tubuhnya bagus; dia tinggi, berotot, dan terlihat sangat kuat. Dadanya bidang. Dia memiliki daya tarik yang sangat tinggi.
Melihat sosoknya yang seperti ini, Harin jadi semakin paham mengapa semua wanita memujanya.
Tidak, Harin tidak bodoh. Harin tahu bahwa Kwon Jaekyung itu tampan. Gadis itu pernah melihat Jaekyung beberapa kali dari jauh, tetapi karena ia orangnya agak cuek, ia pun tak memperhatikan rupa Jaekyung sampai detail.
Namun, ketika dilihat dari dekat seperti ini…ternyata Kwon Jaekyung memang diberkati oleh Tuhan. Tuhan benar-benar serius saat menciptakan Jaekyung.
“Ayo, Nona,” ujar Jaekyung pelan. Ada sebuah jenaka yang tersirat di kedua matanya. “Nanti lima menitnya habis…”
Harin mengerjap. Gadis itu sedikit malu karena ketahuan memperhatikan wajah Jaekyung, tetapi ia langsung kembali menguasai dirinya. Ia pun mulai bergerak membersihkan luka di wajah Jaekyung.
Jaekyung tersenyum miring.
“Apa yang kau lakukan sampai bisa terluka seperti ini?” tanya Harin pelan.
Sungguh, suasana saat itu sepi sekali. Hanya Harin, Jaekyung, napas mereka, getaran yang tercipta di antara mereka, serta suara detak jantung Harin. Pelan-pelan…Harin mengusap wajah Jaekyung, membersihkan wajah tampan pemuda itu dengan hati-hati. Sebenarnya, tangan Harin sedikit bergetar, ada keraguan di setiap gerakannya sebab ia sedang menyentuh wajah seorang pemuda yang asing baginya.
Jaekyung bernapas samar. “Aku berkelahi dengan beberapa siswa dari sekolah lain.”
Saat Harin ingin membersihkan luka di sudut bibir Jaekyung, tangan Harin sempat terhenti di udara. Ia memperhatikan luka itu dengan dahi yang berkerut. Tiba-tiba ia jadi bingung dan gugup setengah mati. Ia takut ia tak sengaja menyentuh sesuatu yang salah.
Namun, tiba-tiba Jaekyung menarik pergelangan tangannya. Menyuruhnya untuk tetap melanjutkan kegiatan itu. “Aku tidak akan menggigit jemarimu.”
Pipi Harin sontak merona. “Aku bukan takut digigit!”
Jaekyung tersenyum miring. “Jadi, takutnya sama apa, dong?”
Harin berdecak. Dia tak ingin merespons Jaekyung, jadi dia langsung kembali pada aktivitasnya. Dia berusaha untuk tak gelisah walau sedang membersihkan sudut bibir Jaekyung.
“Kalau kau terus-menerus berkelahi, suatu hari nanti kau akan kehilangan gigimu atau mungkin…tulang wajahmu akan retak,” ujar Harin. “Jangan terlalu sering berkelahi.”
“Hm… Baru kali ini Ketua OSIS perhatian padaku,” jawab Jaekyung seraya tersenyum. Pemuda itu tampak terhibur.
Harin yang mendengar itu kontan terhenti dari aktivitasnya dan langsung menoleh kepada Jaekyung seraya menyatukan alis. “Aku serius.”
Jaekyung tertawa kecil.
“Iya, Harin.”
Mata Harin melebar.
Kwon Jaekyung…memanggil Harin dengan nama panggilannya.
Mereka saling menatap.
Karena tak ingin terus-menerus berada di dalam ketegangan itu, Harin pun mengerjap. Dia mencoba untuk menguasai dirinya kembali, lalu mulai mengobati luka-luka di wajah Jaekyung.
Tatkala sedang menutup luka Jaekyung dengan kasa, Harin pun bertanya, “Jadi, kau tadi melewatkan kelas hanya untuk berkelahi dengan siswa dari sekolah lain?”
“Aku pergi sebentar untuk mengikuti balapan,” jawab Jaekyung. Pemuda itu tersenyum simpul. “Namun, ketika aku sudah sampai di sana, mereka langsung menyerangku karena tak terima dengan kemenanganku di pertandingan sebelumnya.”
Mata Harin melebar. Ia menatap Jaekyung, lalu berkata, “Jadi…apa yang terjadi pada mereka sekarang?”
“Entah,” jawab Jaekyung. “Mereka semua terkapar di sana dan aku pergi.”
Astaga.
Ada-ada saja.
Harin menggeleng pelan—merasa tak habis pikir—lalu gadis itu mulai menutup luka Jaekyung yang terakhir. Setelah selesai, ia pun menghela napas lega dan mulai menjauhkan wajahnya dari Jaekyung.
“Sudah selesai,” ujar Harin. “Usahakan jangan berkelahi seperti itu lagi bila kau tak ingin wajahmu rusak.”
“Sepertinya…belum lima menit,” ujar Jaekyung, sebelah alisnya terangkat.
Harin mengerutkan dahinya. “Memangnya kau pikir lima menit itu seberapa lama?”
Jaekyung tertawa kecil.
Mereka masih bertatapan selama beberapa detik. Harin belum bangkit dari duduknya.
Tak lama kemudian, Jaekyung mulai membuka suara.
“Harin,” katanya. “Ayo pulang bersamaku.” []