BAB 17

1100 Kata

Mas Fauzi. Demi Allah, aku cinta sama kamu Mas. Tapi, tindakan kamu yang tega menggugurkan darah daging sendiri benar-benar sulit dilupakan. Aku juga sayang sama kamu, Mas. Sayang. Tapi …. “Citra.” Mas Kisam tersenyum dan menghampiri. “Maaf, ya. Jadi repotin kamu gini.” “Mas udah pulang?” Aku melirik jam yang tergantung di dinding mushola. Baru setengah empat. Sudah beberapa jam lewat dan aku terus kepikiran sama telepon Mas Fauzi zuhur tadi. “Saya … Mas nggak enak sama kamu.” Mas Kisam mengembuskan napas cukup panjang. “Yaudah. Ayu, Mas antar pulang.” “Enggak usah, Mas. Citra bisa pulang sendiri. Mas jaga Ibu ajah.” “Nggak apa-apa. Saya udah minta orang buat jaga Ibu.” Huh? Ternyata benar, Mas Kisam memang udah bawa orang buat jaga Bu Rahma. Satu wanita, satu lagi laki-laki.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN