Cincin! Paket dari Mas Fauzi berisi cincin. Cincin kawin yang kutinggalkan dua tahun silam. Aku menghirup udara yang mendadak terasa dingin. Clara menatapku dengan sorot yang entah. Belakang sikapnya memang lebih lunak terhadap Mas Fauzi. “Ada suratnya, Kak,” bisik Clara. Aku meraih surat dalam amplop putih. Surat dari rumah sakit tempat Mas Fauzi melakukan konsultasi dengan psikolog. Surat itu menyatakan kalau Mas Fauzi sudah sembuh dari traumatiknya. Masyaallah. Rasa bersalah seketika menyelusup seperti sebatang jarum. Seharusnya aku berada di samping Mas Fauzi di saat-saat masa sulitnya. Namun, apa yang aku lakukan? Aku justru meninggalkannya. Aku terlalu lemah dan merasa putus asa, tidak mampu menerima kembali Mas Fauzi setelah dia menggugurkan darah dagingnya. [Citra, cintan

