Seperti biasa, sebelum pulang Mas Kisam mengajak aku dan Citra makan di kafe. Pembicaraan tidak jauh-jauh dari rencana pernikahan. Kami sepakat untuk membuat acara sederhana dan seadanya saja. “Kamu mau konsep yang bagaimana?” Mas Kisam menatap. “Aku ikut, Mas saja. Kan katanya mau sederhana, mungkin nggak usah pakai konsep-konsepan.” “Maaf, ya, Cit. Bukannya Mas pelit atau sayang uang, tapi pekerjaan Mas yang menuntut. Pesta meriah yang menghadirkan banyak orang takut malah membahayakan kita semua. Entah berapa puluh orang yang benci sama Mas di luar sana.” Mas Kisam kelihatan menyesalkan. “Mas nggak usah minta maaf. Citra nggak masalah. Pesta kan cuma budaya untuk kesenangan pribadi, bukan syarat nikah. Terpenting, daripada hanya sebuah pesta, Mas mau menerima segala kekurangan Citr

