Hening. Wajah Mas Kisam berubah kaku. Ada gurat kemarahan di air mukanya. Aku bisa mendengar tarikan napasnya yang memberat. Dia lalu menatapku, lekat. “Benar! Mella hamil, tapi bukan anak Mas. Papanya mendesak Mas untuk menikahinya. Sebenarnya, Mas sedang memikirkan ulang rencana pernikahan kita, Citra. Jujur Mas takut kalau pernikahan ini justru malah akan membahayakan kamu.” Mas Kisam mengacak rambut lurusnya hingga jadi agak sedikit berantakan. “Mas … Mas nggak perlu takut. Ada Allah, Mas. Selama Mas jujur sama Citra, insyaAllah Citra siap dengan segala konsekuensinya. Citra harap, nggak ada lagi kebohongan di pernikahan Citra kali ini.” Aku harap perasaanku sampai pada Mas Kisam. Perasaan tak ingin lagi dibohongi. Mas Kisam mengangguk. “Papanya Mella memiliki pengaruh yang sang

