Haram Memiliki Anak (46) “Mas Kisam!” Aku membuka mata dengan tiba-tiba. Sorot mataku membentur sepasang mata yang masih sangat aku kenal. Meski orang itu mengenakan topi rendah bewarna hitam serta masker warna senada. Namun, hanya dengan melihat sorot matanya saja, aku tahu siapa dirinya. Tangan yang memangku tubuhku sedikit gemetar. Udara mendadak terasa lebih dingin dari sebelumnya. Keheningan memekat. Mas Kisam menurunkan tubuhku perlahan. Namun, aku sudah lebih dulu mengcengkeram kedua pergelangan tangannya. “Jelaskan semuanya sama aku, Mas! Tolong ….” Aku tidak mampu membendung air mata yang luruh dengan deras. Ada begitu banyak tanya yang menuntut penjelasan. Ada begitu banyak perasaan yang campur aduk di dalam d**a. Tes! Setetes air mata meluncur jatuh dari mata Mas Ki

