Hening. Aku bisa mendengar embusan napas Mas Fauzi yang berat. Mimik wajahnya menyiratkan keruwetan yang sukar untuk digambarkan. Ibu, Bapak, Clara, nggak ada satu pun yang bicara. Mereka seperti terbius oleh fakta―yang bahkan mungkin―dalam mimpi pun tak pernah membayangkannya. "Kamu bicara apa, Citra?" Mas Fauzi tertawa lirih. Tawa yang aneh dengan mimik wajah yang ganjil. "Jangan menyangkal, Mas. Aku sudah tau semuanya. Aku sudah tau. Ica, dia putri kamu kan, Mas?" Mas Fauzi tertegun. Dia seakan membeku. "Kamu membohongi aku selama ini, Mas!" Suaraku terdengar lebih keras dari yang aku harapkan. Nyatanya, kekecewaanku pada Mas Fauzi begitu besar. Terlebih bila mengingat perbuatannya menggugurkan kandunganku. Andai saja Mas Fauzi mau jujur sejak awal. Ya, andai. Mungkin bayi tak

