Haram Memiliki Anak 34 Menggenggam tanganku, Mas Kisam tersenyum lembut. Dia mengecup kedua mataku. Ada perasaan hangat yang menjalar halus dan kemudian memenuhi d**a. Mas Kisam orang yang tegas, tetapi ketika bersikap lembut benar-benar membuat hatiku meleleh. “Jangan takut, Mas nggak berencana buat meninggalkan istri Mas tercinta ini.” Mas Kisam mendekapku erat, dekapanku tak kalah kuat. Sesaat, kami terdiam mendengar dan merasakan detak jantung masing-masing. Mas Kisam melepaskan dekapannya dan mulai terkekeh rendah. Suara tawanya seperti mantra ajaib yang mengusir pergi mantra-mantra jahat pembawa kemasygulan. “Cengeng amat,” godanya. Aku memukul dan mencubitnya main-main sebagai jawaban dari godaannya. ♡♡♡ Walau terasa enggan, aku tetap memenuhi keinginan Mas Kisam. Menand

