Sama seperti apa yang akan selalu dilakukan semua orang kepada pasangannya, maka hal itu pula yang akan dilakukan Jimin. Menjalani hari dengan mendukung Naira yang kini selalu merasa sangat hancur setelah goresan di wajahnya tak mau hilang. Seringkali Jimin menemukan Naira menangis di depan cermin seraya menyentuh sayatan-sayatan luka yang ada di sana. "Masih memikirkan tentang lukamu?" Tangan hangat Jimin melingkar di dadanya. "Sudah kukatakan jangan terjebak perasaan-perasaan yang tak seharusnya ada." Diciumnya pipi sang istri yang kini menundukkan wajah, sebelum kembali bicara, "Aku mengerti perasaanmu sekarang, tapi kumohon jangan terjebak keadaan ini terlalu lama. Bukankah lebih baik kita fokus pada Jaedan? Atau mungkin pada rencana untuk memberinya seorang adik?" "Jaedan baru

