99. Diizinkan Pulang

1221 Kata

Semilir angin berhembus memainkan rambut Naira. Ia membiarkan wajahnya mendongak disapa belaian lembut angin sore itu. Duduk di kursi taman rumah sakit, seraya mendongak memandangi dedaunan yang menari indah dalam buaian sang bayu. Entah apa yang dipikirkannya. Perlahan bulir bening jatuh dari netra teduh itu. Menyapa sayatan luka di pipinya. Ia meringis perih. Namun, yang lebih menyakitkam dari itu, adalah rasa sakit dalah hatinya. Ia telah kehilangan lecantikan, karena goresa luka yang diberikan Kaori. Selalu ada ketakutan dan kekhawatiran dalam dirinya, mengenai bagaimana padangan Jimin setiap kali melihatnya. Akan tetapi, ia tetap harus bertahan di sisi pria itu. Mungkin sampai Jimin bosan dan mencampakkannya. Tangan Naira naik hendak menyentuh wajahnya yang masih terluka, ketika se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN