Awan putih dilangit biru, perlahan tergantikan kabut yang mendorong bersama laju angin yang berembus kencang. Jimin terdiam di sisi jendela kaca besar gedung perkantorannya. Sejenak, ia menghela napas. Banyak hal yang terus bergelayut dipikirannya, sebelum sebuah ketukan pintu terdengar. Ia menoleh. Sosok perempuan cantik dengan rambut diikat ekor kuda masuk bersamaan dengan hentakan heelsnya yang terdengar nyaring. "Pak, baru saja sekertaris Kim Corp. Menelepon menanyakan kembali kapan Bapak bisa datang ke Korea? Mereka akan menjadwal ulang semua kegiatan demi acara lelang amal." Ah, iya, karena ancaman Braile, Jimin bahkan lupa kalau ia harus menghubungi rekanan bisnisnya di Korea. Mereka berencana menggelar acara lelang amal dengan menjual beberapa koleksi mobil klasik miliknya dan m

