Naira berendam di kolam hotel bersama Jaedan. Netranya sesekali melirik Jimin yang tengah menelepon cukup jauh darinya. Pria itu mondar-mandir, sambil terus berbicara. Sesekali tangannya mengusap wajah kasar. Terlihat jelas kalau ada sesuatu yang tak beres. Namun sayang, Naira tak bisa mendengarnya. Hampir tiga puluh menit lamanya Jimin berbicara di telepon, sebelum menutup sambungannya, dan menghela napas. "Sialan!" umpatnya entah pada siapa. Ia berusaha mengubah raut wajahnya, kemudian mendatangi Naira dan anaknya. Naira tersenyum ketika Jimin duduk di tepian kolam. "Yeey, Daddy datang," ucapnya pada bayi mungil yang berenang bersamanya. Naira membawa Jaedan untuk duduk di pangkuan Jimin, sedang dirinya ada di antara kedua kaki pria itu. "Ada masalah?" tanyanya. Jimin mengusap pucuk

