Hawa panas sedikit menembus kulit wanita hamil itu. Ia terfokus pada sosok pria yang sedang menyesap teh camomilr di meja taman. Kicauan burung di atas dahan tak mengusiknya sama sekali, bahkan ketika kakinya tanpa sengaja hampir terpeleset pun ia tak peduli. Naira butuh satu jawaban atas tanya yang menggantung dalam dirinya sejak percakapan dengan Tonny kemarin. Tonny tak menjawab ketika Naira bertanya, "Lantas bagaimana keadaan ibu?" Selain wajah tertekan yang tak seharusnya ada, bukankah akan lebih baik jika Tonny menjawab dengan lugas. Namun, kebungkamannya membuat Naira geram hingga memutuskan untuk mendatangi Elle Vernandes. "Maaf apa aku boleh bergabung denganmu?" Elle mengangkat wajah, lalu menoleh. Ia meletakkan majalah bisnis yang tengah dibacanya dan berdiri. "Kau di sini?"

