bc

The Guardian Who Loved too Deeply

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
dark
drama
sweet
bxg
serious
brilliant
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Ayahku sekarat ketika ia memaksaku mengambil sumpah itu. Di ruangan yang bau antiseptik, di antara mesin yang berdetak pelan, ia menyerahkan hidupku pada seorang pria bernama Kael seolah hidup bisa dipindahkan dengan satu kalimat terakhir.“Lindungi dia,” katanya.Dan pria itu mengangguk.Aku tidak menangis. Tidak membantah.Aku hanya berdiri, mendengarkan takdirku diputuskan tanpa suaraku.Hari itu aku kehilangan ayahku.Hari yang sama aku kehilangan kebebasanku.Kael bukan penyelamat.Ia tidak datang membawa penghiburan.Ia datang membawa perlindungan—dingin, sunyi, dan tidak bisa kutolak.Belakangan aku tahu, pernikahan itu bukan awal.Ia adalah akhir dari kebohongan yang kupeluk sejak kecil.Ini bukan kisah cinta.Ini kisah bertahan.Dan aku tidak tahu, apakah penjagaku akan menjadi satu-satunya orang yang bisa menyelamatkanku atau alasan aku kehilangan diriku sendiri.

chap-preview
Pratinjau gratis
Perintah Terakhir
Kael datang ke negara itu tanpa suara. Ia tidak membawa banyak orang hanya beberapa pria yang paham satu aturan dasar: jangan bertanya, jangan terlihat. Tujuannya satu. sedangkan disisi lain seorang perempuan bernama Clarisa bekerja seperti biasa. Ia menyelesaikan pekerjaannya dengan wajah datar dan fokus yang nyaris dingin cara bertahan yang sudah lama ia kuasai. Tidak ada firasat. Tidak ada kegelisahan. Hidupnya rapi, terkontrol, dan jauh dari rumah yang jarang ia ingat. Sampai ponselnya bergetar. “Clarisa, ke ruanganku sekarang.” Pesan singkat dari atasannya. Clarisa menghela napas pelan, merapikan rambutnya, lalu berdiri. Ia mengira ini soal pekerjaan. Target. Evaluasi. Hal-hal yang selalu bisa ia hadapi tanpa emosi. Ia mengetuk pintu. “Masuk.” Ruang itu terasa berbeda, bukan karena suasananya, melainkan karena seseorang yang berdiri di dekat jendela. Pria itu tinggi, berpakaian gelap, sikapnya terlalu tenang untuk seseorang yang tidak seharusnya berada di sana. Tatapannya tidak langsung ke Clarisa, namun kehadirannya terasa seperti bayangan yang berdiri terlalu dekat. Atasannya berdiri dari kursi. “Clarisa, duduklah.” Nada suaranya aneh. Tidak formal. Ada sesuatu yang ditahan. Clarisa duduk. Matanya sempat kembali ke pria asing itu. Mereka tidak saling menyapa. Pria itu tidak memperkenalkan diri. Tidak tersenyum. Tidak menjelaskan apa pun. Ia hanya berdiri. Diam. Mengamati. “Clarisa,” kata atasannya akhirnya. “Ada situasi darurat.” Clarisa menunggu. “Keluargamu… mengalami bencana.” Kata bencana diucapkan pelan, seolah jika terlalu keras, kalimat itu akan pecah. Clarisa mengernyit. “Bencana apa?” Atasannya menoleh sekilas ke pria asing itu sebuah isyarat halus bahwa informasi itu bukan miliknya sepenuhnya. “Aku hanya diberi tahu secara garis besar,” lanjutnya. “semua keluarga mu meninggal karena bencana itu” Clarisa merasakan sesuatu runtuh di dadanya. ingin menangis tapi ini bukan waktu yang tepat karena rasa penasaran lebih dominan dihatinya, gadis itu tenang dan tetap fokus padahal itu sangat sulit dilakukan banyak orang apalagi seorang perempuan yang sedang merindukan namanya rumah. “Aku diberi izin untuk pulang?” tanyanya Clarisa singkat. “iya. Atas nama perusahaan, kamu dibebaskan dari tugas. Segera kembali ke rumah.” Clarisa mengangguk. Ia berdiri, mengambil tasnya. Tidak menangis. Tidak bertanya lagi. Saat ia berjalan keluar, pria asing itu akhirnya bergerak. Bukan mengejarnya hanya menunduk sedikit pada atasan Clarisa “Terima kasih sudah menyampaikan seperlunya.” ujar pria itu dingin dan datar. Clarisa tidak tahu. Ia tidak tahu bahwa pria itu bernama Kael. Ia tidak tahu bahwa kata bencana berarti seluruh keluarganya telah dibunuh. Ia tidak tahu bahwa hidupnya, sejak detik itu, bukan lagi miliknya sendiri. Bandara terasa terlalu terang. Clarisa berdiri dengan paspor di tangan. Tiket sudah diatur. packing kopernya sendiri membawa barang seperlunya. Pria asing itu Kael berdiri beberapa langkah darinya, dikelilingi dua pria lain yang cukup untuk membuat siapa pun mengerti bahwa ini bukan perjalanan biasa. “Aku bisa pulang sendiri, aku bisa menjaga diriku sendiri” kata Clarisa. Kael menoleh. Tatapannya dingin, terukur. “Tidak.” Satu kata. Tanpa penjelasan. “Aku tidak mengenalmu, dan belum mempercayai mu sepenuhnya” ujar Clarisa tak kalah dingin. “Aku mengenalmu, aku tahu keluargamu, terutama ayahmu” jawab Kael pelan. “Itu cukup.” Clarisa menahan amarah. Pengumuman keberangkatan memotongnya. Kael melangkah lebih dulu, seolah keputusan sudah diambil sejak awal. Clarisa mengikuti bukan karena patuh, melainkan karena nalurinya mengatakan menolak sekarang hanya akan memperburuk segalanya. dikepala Clarisa sekarang banyak sekali pertanyaan tapi hanya bisa ditahannya di sepanjang perjalanan udara itu, karena jika orang disebelahnya pun menjawab gadis itu belum ada kepercayaan, jadi dia memutuskan melihat keadaan sebenarnya dulu dirumah agar bisa mempercayai semua jawaban pria itu nanti. Penerbangan itu sunyi. Clarisa menatap jendela. Kael duduk di sampingnya, tidak mencoba bicara. Ia hadir seperti tembok kokoh dan tak tertembus. “Bencana macam apa?” tanya Clarisa tanpa menoleh. “Kamu akan tahu,” jawab Kael. “Tapi bukan di sini.di rumah ayahmu.” ujarnya membuat Clarisa penasaran. Clarisa menoleh cepat. “bukankah semuanya ..” “Belum,” potong Kael. “Belum semuanya.” jawab pria itu menatap Clarisa intens. Malam sudah turun saat mereka tiba. Rumah itu masih berdiri. Terlalu utuh untuk sebuah keluarga yang katanya dilanda bencana. Penjagaan diperketat. Bau antiseptik menggantung di udara. Kael berjalan cepat, memberi isyarat singkat. Clarisa mengikutinya, jantungnya mulai berdetak lebih keras. Rasa takut yang datang terlambat mengencang di perutnya. Mereka berhenti di depan sebuah pintu kamar. “Dengar aku baik-baik, Clarisa,” kata Kael. Untuk pertama kalinya, suaranya berubah. “Ayahmu masih hidup. Tapi kritis.” Clarisa membeku. “Kenapa kamu membawaku ke sini?” tanya Clarisa singkat karena sudah lama tidak pulang kerumah ayahnya, semenjak ibunya menyewa rumah sendiri membawa ia dan saudari nya. “Karena ada hal yang hanya bisa dia katakan padamu.” Kael menarik napas. “Dan padaku.” Mesin-mesin berbunyi pelan. Pria yang dulu Clarisa kenal sebagai sosok tak tergoyahkan kini terbaring lemah. Kulitnya pucat. Napasnya berat. Clarisa melangkah pelan. “Ayah…” Kelopak mata itu terbuka susah payah. Ia menatap Clarisa, lalu melewati Clarisa ,menatap Kael. Isyarat kecil. Tapi jelas. Kael mendekat. “Kael…” suara itu serak. “Dengar aku.” “Aku di sini.” jawab pria itu seadanya. “Musuhku tidak akan berhenti. Mereka akan mengejar Clarisa.” ujar ayah Clarisa dengan lemah. Clarisa menoleh, bingung. “Perintah terakhirku,” lanjut ayahnya. “Kau lindungi dia.” “Seperti yang selalu aku lakukan,” jawab Kael. “Tidak cukup.” Tatapan itu tajam meski tubuhnya rapuh. “Kali ini… kau harus jadi perisainya.” Clarisa menggeleng. “Tidak. Aku tidak setuju.” “Kael,” kata ayahnya memaksa. “Kau menikahinya.” Ruangan berhenti bernapas. Clarisa menatap Kael. Kael menatap ayahnya. “Pernikahan itu perlindungan,” lanjut ayahnya lirih. “Nama. Ikatan. Alasan untuk berdiri di sampingnya tanpa celah.” “Aku tidak meminta cintamu,” katanya pada Kael. “Aku memerintahkan kesetiaanmu.” Hening. Lalu Kael menjawab, rendah dan pasti: “Aku terima.” Clarisa menatapnya, terkejut. “Kamu gila?” Kael menoleh padanya. “Ini bukan tentang pilihanmu,” katanya pelan. “Ini tentang hidupmu.” lanjutnya lagi. Dan saat itu Clarisa mengerti pernikahan ini bukan janji cinta, melainkan benteng terakhir yang dibangun dari darah, perintah, dan pengorbanan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.7K
bc

Too Late for Regret

read
350.1K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
148.7K
bc

The Lost Pack

read
461.8K
bc

Revenge, served in a black dress

read
157.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook