warisan

728 Kata

Seminggu setelah Clarisa selesai datang bulan, tubuh dan pikirannya kembali stabil. Ia kembali menjadi Clarisa yang tenang, dingin, dan rasional—bukan karena tak peduli, melainkan karena hidupnya memang terbiasa berjalan di atas kendali. Malam itu, setelah pulang kerja, ia duduk di ruang tamu rumah Kael dengan secangkir teh hangat di tangannya. Kael duduk di hadapannya, menyandarkan punggung ke sofa, wajahnya serius sejak awal. “Kita perlu bicara,” ucapnya pelan. Clarisa mengangguk. Ia sudah menduga. Sepanjang minggu ini, topik itu seperti menggantung di antara mereka—tentang warisan. Tentang masa lalu yang tidak pernah benar-benar mati. “Ayahku… dan ayahmu,” lanjut Kael, “bukan orang biasa.” Clarisa tersenyum tipis, tanpa humor. “Aku tahu.” Kael menatapnya. “Sejauh apa kamu tahu?”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN