PROLOG

823 Kata
Angin berembus kencang membuat dedaunan kering berjalan beriringan dengan cuaca yang sedang tidak menentu. Peralihan dari musim gugur menjadi tanda bahwa semua makhluk di belahan utara harus siap sedia dengan musim yang selanjutnya akan datang. Di mana musim yang membuat semua makhluk harus bekerja ekstra keras daripada berdiam saja menikmati butir-butir air menggumpal yang jatuh di permukaan bumi.   Cicit burung hutan yang bermigrasi menjadi alunan yang terpampang nyata. Makhluk hidup yang lebih memilih untuk mulai pulang ke sarangnya masing-masing.   “Apa kau lihat itu, Peaches?” tanya wanita yang memakai riasan penuh di wajahnya. Jangan lupakan bibir merah tomat yang membuat siapa saja tergiur untuk mencicipi.   Matanya masih memandang ke arah langit yang hampir ditutupi pepohonan besar, siulan burung penghantar malam pun sudah terdengar membuat semua makhluk tahu bahwa raja  kegelapan akan segera muncul.   “Kau lihat bagaimana mereka pergi ke sarangnya masing-masing,” sambungnya, tangannya menyeret gaun hitam besar itu untuk semakin mendekati balkon. Tak dipungkiri, ia juga ingin menikmati perubahan waktu yang signifikan di wilayah ini.   “Ya, Lady. Saya bisa melihatnya,” jawab pelan itu yang bernama Peaches. Keberadaannya yang memang selalu ada di samping sang ratu membuat Peaches selalu siap apa yang ratu lakukan.   “Maaf, Lady. Sepertinya Anda harus segera meminum minuman Anda.” Peaches tampak khawatir dengan perubahan sang ratu yang memiliki lingkar mata yang semakin hitam.   “Apa maksudmu, Peaches? Aku tak apa-apa.” Lula—sang ratu— langsung memerhatikan tangannya yang semakin keriput. Dan ia juga segera mengambil cermin yang selalu ia sediakan di balik gaunnya. Bukan masalah berat sebenarnya, ia sering mendapatkan hal ini jika tidak langsung meminum minumannya.   “Tapi saya khawatir dengan kondisi Anda, Lady.” Peaches tampak khawatir dan langsung masuk ke kamar sang ratu untuk mengambilkan cairan merah yang selalu tersaji di sana. “Minumlah! Saya  mohon,” harap Peaches.   Tanpa di sangka Lula langsung melempar gelas dan membuat lantai marmer kotor akan cairan merah itu. “Apa kau mulai memaksaku, Peaches?” Meskipun sudah tersulur emosi Lula tetap mempertahankan ekspresinya. Ia berjalan mendekati pelayan pribadinya dengan anggun hingga membuat gaun yang menjuntai terkena cairan itu. Jejak-jejak dari kain yang menyapu lantai malah membuat marmer itu semakin kotor.   “Ma—maaf, Lady. Bukan maksud saya untuk memaksa Anda, hanya saja—”   “Sshh, kau tak mengerti apa maksudku ‘kan, Peaches?” Lula menggerakkan jari-jemarinya dan terlihat ia memainkan cincin yang tersemat di sana. Cincin ruby merah tua yang menghiasi jari manisnya.  “Aku—aku mengerti, Lady,” jawab Peaches. Jantungnya sudah berdegup kencang saat melihat tatapan dalam sang ratu sudah menghunusnya.  “Apa yang kau mengerti?” Suara itu masih sangat lirih, membuat Peaches semakin takut sekaligus khawatir. Ia juga bisa melihat tatapan sang Lady menjadi tak tentu arah.   Peaches diam saja, tapi otak cerdiknya langsung memanggil seseorang dengan berkecumik. Namun, tiba-tiba ...   “Kau tak perlu memanggilku, Peaches,” kata seseorang berjalan memasuki dalam kamar. Tubuh besar yang ditutupi jubah hitam serta tudung di kepala membuat siapa saja pasti tahu. Sang raja kegelapan telah kembali.   “Lord.” Peaches ternganga saat melihat pria itu yang sudah datang lebih cepat daripada perkiraannya. “Anda sudah datang. Lady ....” Ia tak lagi menyelesaikan kalimatnya karena sang ratu semakin membuatnya seperti jatuh ke jurang kematian.   “Pergilah! Dan jangan kau lupa untuk siapkan penggantinya,” titah pria besar sambil menunjuk cairan yang sudah tercecer di lantai dengan dagunya.   Setelah pelayan itu pergi, ia juga tak kalah berwibawa untuk menunjukkan eksistensinya meskipun dengan sang wanita. Pria itu berjalan dengan perlahan namun lugas langsung mengambil pinggang wanita itu dan mencengkeramnya.   “Oh, My Lord,” desah Lula saat merasa tatapan pria bertudung itu menyapa dirinya. Tangannya langsung membuka tudung yang menutupi sebagian wajah. Memperlihatkan wajah tegas dan kulit pucat bak porselen seperti dirinya. “Kau sudah datang?”   “Berhenti bersikap basa-basi, Queen,” dengus pria itu langsung mendapatkan tatapan sedih dari Lula. Sang raja tak menggubris apa yang diberikan Lula terhadapnya. “Jangan bertindak bodoh lagi.”  Jemari pria itu langsung mengelus wajah Lula yang mulai berkerut dan kantung mata yang semakin menghitam. Tanpa di sangka, ia memasukkan batu biru yang tersemat di jemarinya ke mulut Lula untuk segera dirasa.  Awalnya Lula menolak tapi cengkeraman pria itu menghentikan rontanya. Bagai air yang mengisi keringnya kerongkongan, ternyata batu biru itu bisa memberikan Lula banyak perubahan. Rambut Lula yang awalnya layu sekarang menjadi hitam berkilau. Kulit yang tadinya menjadi tua sekarang berubah menjadi halus juga lembut. Begitu juga dengan tangannya yang sekarang bisa membalas untuk mencengkeram tengkuk dari sang pria.   Lula menikmati saat isapan yang mengalir di tenggorokannya karena batu biru itu. Batu yang bisa memberikan energi baru pada dirinya.   “Raven,” ucap Lula pelan saat ia sudah selesai dengan aktivitasnya. “Aku akan mati jika kau tak ada di sini bersamaku.”   Raven hanya tertawa konyol dan berkata, “Kau tak akan pernah bisa mati, My Queen. Takdirmu tak akan pernah berubah secepat itu.”   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN