“Apa yang kau lakukan, Rula!?” pekik seorang wanita baya yang melihat ada hal janggal di depan pintu apartemennya.
Bukannya terkejut, perempuan berumur 25 tahun itu malah menaikkan sebelah alisnya dan berdiri. Ia tak menyangka sudah berjongkok selama kurang lebih sepuluh menit dan itu membuat kakinya terasa kram. “Nyonya Tapsy, aku hanya ingin mengembalikan kucingmu yang tercebur di selokan.” Rula berkata sambil memerhatikan kostum wanita baya itu.
“Kucingku? Kau bodoh atau apa?! Aku bahkan tak memiliki hewan peliharaan.” Nyonya Tapsy heran saat melihat kucing yang dibicarakan Rula sedang memakan sesuatu yang berwarna kehitaman. “Kau memberikan dia cokelat?”
Rula menggeleng, dan kemudian mengangguk. “Tidak, lebih tepatnya roti dengan isi cokelat yang lumer. Karena aku tidak tahan dengan suaranya yang seolah meminta sesuatu. Tapi kau lihat ‘kan jika dia sangat menyukainya.”
Dengan mudahnya Rula mengambil anak kucing itu yang mulutnya sudah berlumuran makanan. Untung saja selokan itu tidak ada airnya, jadi hewan ini tidak basah sama sekali.
“RULA VIVIAN! Lebih baik kau cepat carikan kucing itu dokter hewan atau kau bisa disebut pembunuh karena menewaskan kucing mahal itu!” teriak Nyonya Tapsy membuat Rula memundurkan langkahnya.
“Apa yang aku lakukan? Aku sudah memberikannya makan,” kata Rula dengan entengnya ia berbicara.
“Untung saja kau bukan anakku, Rula! Kucing itu bisa keracunan karena ulahmu!” Nyonya Tapsy melemparkan bantal yang sedari tadi dipegangnya ke wajah Rula. Saking gemasnya dirinya pada tabiat Rula si penyewa kamar apartemen yang ceroboh.
“Jika kau tak ingin pergi ke dokter lebih baik cepat berikan dia kuning telur dan susuu!” perintah Nyonya Tapsy.
Rula hanya mendengus, ia tak tahu apa-apa tentang kucing ataupun binatang lainnya. Ia hanya ingin berbagi dan tadi memang hanya ada roti di dalam tasnya. “Lebih baik kau saja yang memberikan lagi pula kucing ini bukankah milikmu,” sodornya pada Nyonya Tapsy.
“SUDAH AKU BILANG AKU TIDAK MEMILIKI HEWAN PELIHARAAN!” geram Nyonya Tapsy dan menutup pintu kayu itu dengan sangat keras.
Kenapa dia marah sekali padahal aku sering melihat kucing ini berada di sekitar rumahnya, batin Rula. Dan matanya langsung mengalihkan pandangan ke kucing berbulu hitam yang berada di gendongannya.
“Kenapa kau sangat lemah, apakah makan roti cokelat bisa membunuhmu?” Rula bermonolog. Ia tak tahu perihal semua yang dibicarakan oleh Nyonya Tapsy apalagi tentang larangan sang hewan.
“Cepat kau urus dia dan jangan lupa berikan s**u untuk menetralkan lambungnya!” Nyonya Tapsy menginterupsi dari belakang. Wanita baya itu langsung mengambil bantal berbentuk hati yang tadi sempat ia lemparkan ke arah Rula.
“Kenapa kau menyedihkan sekali! Aku bahkan tidak berniat meracunimu.” Dan akhirnya Rula membawa kucing besar itu ke penginapannya.
**
Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda. Seorang pria sedang menggerakkan jari-jemarinya yang terasa kaku. Sudah berpuluh-puluh tahun ia berbaring di peti matinya guna untuk memulihkan kembali energinya yang kian lama makin berkurang.
Tak terasa, waktu yang sudah ditunggunya akan segera tiba. Mengambil kembali hati pengantinnya dan membuat semuanya menjadi lebih mudah.
“Selamat datang kembali, Lord!” Sapaan itu masuk ke telinga Raven, membuatnya langsung menoleh ke samping kiri.
“Colton.”
Pria peti mati bernama Raven segera keluar dari peristirahatannya dan langsung disambut oleh sang pengawal. Ia berdeham karena tenggorokannya terasa sangat kering juga panas.
“Mohon tunggu sebentar, akan saya panggilkan pelayan untuk membawakan Anda minuman.” Dengan secepat angin, Colton si pria berambut merah langsung pergi dan meninggalkan Raven yang masih termenung sendiri.
Semua tubuhnya masih terasa kaku, ia bahkan belum bisa merasakan seluruh sendi yang ada. Dengan berat karena menopang tubuh kurusnya, Raven terduduk di kursi yang sudah disediakan di dekat petinya. Ia memerhatikan tangannya yang semakin mengecil dan bisa dikatakan hanya tulang saja. Semua ini karena Raven tak mendapat cadangan asupan makanan.
“Lord.” Colton membawa berbaskom cairan amis berwarna merah, membuat Raven yang mencium itu langsung memejamkan mata. Ia merasa sudah lama tidak menyerap cairan manis tersebut.
“Berikan padaku!” perintah Raven, suara pria itu bahkan serak membuat Colton mengiba.
Colton membantu Raven untuk meminum cairan merah tersebut. Melihat bagaimana dalam sekejap darah itu habis tak tersisa.
Raven sampai terbatuk dan kemudian tersenyum pada Colton. “Sudah lama sekali aku tidak merasakan ini.” Ia menghapus noda yang berada di sudut bibirnya.
“Lord, kami sengaja membunuh satu saola hanya untuk Anda. Kami pikir itu harga yang cukup untuk menunggu kebangkitan Anda,” jelas Colton.
“Kalian jauh-jauh pergi ke Asian Tenggara hanya untuk menangkap satu ekor saola?” tanya Raven tak percaya.
Ya, saola memiliki julukan yaitu Unicorn Asia. Makhluk seperti sapi itu hanya bisa ditemukan di wilayah Asia Tenggara tepatnya di wilayah pegunungan Annamite, perbatasan dengan Negara Laos dan Vietnam. Makhluk berwarna kecokelatan yang hampir punah memang memiliki tanduk semacam hewan unicorn, maka saola adalah hewan yang patut menyandang sebutan itu.
Colton mengangguk, ia membenarkan. Bagaimana tidak, kebangkitan sang raja abadi menjadi salah satu yang paling ditunggu oleh semua kaum immortal. Semenjak Raven tak memerhatikan dunia lagi, seisi bumi langsung tak baik-baik saja. Peperangan antar kaum immortal menjadi momok paling menyedihkan apalagi perselisihan wilayah yang tidak ada ujungnya.
“Singkirkan senyummu yang tidak ada manisnya sama sekali!” Raven mengalihkan pandangannya saat sedari tadi pengawalnya selalu memberikan senyum terhadapnya.
Colton langsung menarik sudut bibirnya dan menampilkan wajah datar. Padahal seharusnya Raven tahu jika ia sangat senang atas hari ini. Ia bisa mendengar omelan Raven lagi, daripada ia harus melihat setiap harinya pria itu yang terbujur kaku di dalam kotak kayu.
“Kau bisa membantuku untuk menyeret cermin itu, Colton?” Raven meminta dan langsung dilaksanakan oleh pria berambut merah itu.
Sekarang ia bisa menyaksikan dengan jelas, bagaimana rupa dirinya yang sesungguhnya. Tubuh yang terbalut dengan jubah hitam dengan wajah yang semakin tirus. Raven menanggalkan jubahnya dan kembali memerhatikan cermin.
“Tubuh Anda akan kembali seperti sedia kala, Anda tak perlu khawatir.” Colton mencoba menenangkan Raven, tubuh yang hanya terbalut celana pendek itu menampilkan tulang-tulang yang terlihat. Ya itu benar, dan itu membutuhkan waktu berbulan-bulan tergantung asupan makanan yang diterima oleh Raven.
“Mengapa aku menjadi terlihat menyedihkan?” tawa Raven melihat tubuhnya dengan miris.
“Tapi Anda masih sangat terlihat tampan,” ucap Colton langsung dihadiahi lemparan jubah Raven.
“Jika kau seorang wanita aku akan dengan baik menerima pujianmu, Colton! Ingat gendermu untuk memuji seseorang.” Raven mendengus dan mencoba berdiri.
Tapi sayang kaki itu masih lemah untuk menapak. Untung saja pengawalnya dengan sigap membantu. “Anda masih belum bisa berdiri, lebih baik Anda belajar sedikit demi sedikit.”
Tanpa diduga, Colton membawakan tongkat kayu dan memberikannya pada Raven. “Saya rasa ini cukup untuk membantu Anda sebagai penopang.”
“Colton, kau ingat ini abad ke berapa?” tanya Raven.
“Kita berada di abad 21, Lord,” jawab Colton lantang.
“Lalu mengapa kau bertindak seperti kita sedang berada di abad pertengahan? Apa kau tak pernah berbaur dengan manusia dan menjejaki era modern?” sarkasme Raven, ia mengembalikan memakai tongkat pemberian itu.
“Maaf, Lord. Saya belum mengerti maksud perkataan Anda.” Colton mencoba membantu Raven yang akan berbaring di ranjang kekuasaannya.
“Sepertinya otakmu perlu di perbaharui sebelum bertemu denganku.” Raven geram, meskipun Colton adalah pengawal yang sangat cekatan tapi pria itu tidak memiliki sikap kreatif sama sekali. Sedari dulu, Raven memang harus bersabar jika berbicara pada Colton. “Kau bisa mencarikan penopang untukku yang lebih bagus. Karena aku tidak mau terlihat seperti pria lansia yang berjalan dengan tongkat kayu.”
Bukannya sadar akan perbuatannya, Colton terkikik pelan karena ucapan Raven. Tentu saja sedetik kemudian tongkat itu langsung melayang ke arah kepalanya. “Maafkan saya, Lord!”
Raven yang terduduk di ranjangnya dengan menyenderkan punggungnya, sedikit demi sedikit meminum cairan merah itu lagi. Tadi pelayan sudah memberikannya lagi dalam jumlah yang banyak. “Berhenti bersikap bodoh dan lakukan tugasmu. SEKARANG!”
Colton meneguk kasar ludahnya, perihal tak baik jika sang penguasa sudah berteriak seperti itu.