CHAPTER 2 : Then

1134 Kata
Seorang wanita yang terduduk di kursi besi yang terletak di bawah pohon besar sesekali bersenandung kecil, membuat semua pelayan yang melintas sedikit banyaknya ikut terbawa dalam alunan yang syahdu. Hari ini memang dirinya tidak sedang melakukan apa-apa. Dan lebih memilih menikmati dedaunan yang satu demi satu jatuh ke tanah dan menciptakan hamparan dedaunan berwarna kuning.   “Bagaimana dengan semuanya, Peaches?” tanyanya. Suara lembut itu mendayu membuat pelayan pribadinya sedikit tersanjung dengan panggilan itu.   “Semua sudah siap, Lady. Anda hanya perlu bersiap-siap dan merelakskan diri.” Peaches memang ditugaskan untuk memijat kaki sang Lady, membuat perempuan muda itu terduduk di tanah.   “Kau tahu Peaches, aku sangat senang saat semua berada dalam genggamanku.” Lula—sang Lady menyuarakan pendapatnya. Ia sangat bangga menjadi pengantin Raven dan itu adalah anugerah untuknya.  Moongoddes sengaja menakdirkan dirinya agar bisa menjadi pendamping Raven bukan karena hal lain, yaitu karena ia mampu dan tak akan pernah ada yang bisa seperti dirinya. Walaupun banyak wanita vampir bangsawan yang memikat, tapi hati Raven sangat terpaut oleh dirinya.   Biarkan ia sombong, toh memang seperti itu takdirnya.  Dirinya dan Raven tak bisa dipisahkan, andai jika mereka bukan makhluk immortal mungkin bisa saja rasa rindu yang tiap detiknya muncul, perlahan-lahan membunuhnya. Oh, ia bahkan tak bisa merasakan kesakitan itu karena sang kekasih selalu ada untuknya setiap detik.   “Anda dan Lord Raven memang ditakdirkan untuk menjaga keseimbangan dunia, Lady,” puji Peaches.   Mendengar hal itu Lula melihat jemari lentiknya yang terpasang batu merah. Batu Ruby yang menjadi simbol dirinya. Merah artinya kekuatan yang abadi, tapi negatifnya batu itu juga mempunyai makna sikap buruk dunia.   Lula mengelus batu itu, dan langsung memancarkan cahaya. Setiap Lula mengelusnya, selalu cahaya merah delima yang keluar. “Ya, aku dan Raven.”  Ia menggerakkan kakinya, guna ia sudah tak berminat untuk dipijat lagi. “Sudah cukup.”   Peaches menuruti dan ia berkata, “Apakah Anda ingin membersihkan diri karena sebentar lagi Lord Raven akan datang. Dan saya juga harus segera menyiapkan perlengkapan Anda, Lady.”   “Ide yang bagus, setidaknya nanti Raven tidak terlalu menunggu lama.” Lula berdiri dari duduknya dan mengibaskan jubah panjangnya. Jubah merah itu sedikit terkena tubuh Peaches yang masih terduduk di tanah.   Pelayan pribadi itu bisa melihat bagaimana sempurna seorang Lady Lula Viviane yang hanya berjalan saja. Seolah memang wanita itu ditakdirkan untuk menaklukkan seluruh penghuni bumi, tak terkecuali Lord Raven, sang suami.  Peaches dengan segera mengikuti ke mana pun sang ratu pergi. Yang ia yakini adalah kamar sang pengantin.   Meskipun Peaches tahu, bahwa sang ratu memiliki sifat meninggikan diri sendiri dan angkuh, tapi tetap saja tak mengurangi rasa hormatnya pada Lula. Di istana vampir dan luar sana sebenarnya bukan rahasia umum lagi jika seorang Lady Lula selalu bertindak semaunya.   “Mengapa terdiam?” Lula menegur Peaches yang sedari tadi terdiam. Biasanya perempuan muda ini saat memijat kepalanya pasti akan berceloteh atau menanggapi kalimatnya.   “Kau sedang berpikir yang macam-macam?” selidik Lula pada Peaches yang masih menggosokkan sampo pada rambutnya. Lula bisa menikmati dinginnya air yang menutupi sebagian tubuhnya. Meski ia tahu tubuhnya tak jauh lebih dingin daripada air yang ia pakai.   “Saya tidak berpikir apa-apa. Saya hanya kagum pada rambut Anda yang setiap hari makin berkilau dan indah,” puji Peaches.   “Ya, kau benar. Aku memiliki rambut yang tak dimiliki oleh wanita mana pun. Berikan aku sanksi jika aku salah berucap.” Lula menyenderkan punggungnya di ujung kolam kecil yang memang dikhususkan untuk pemandian sang raja dan ratu.   Peaches tersenyum menanggapi. Ia lebih memilih terdiam sambil melayani sang Lady. Memberikan semua pelayanan yang baik untuk sang ratu immortal.     **     Perundingan hari ini yang pasti membuahkan hasil. Pembagian wilayah untuk kaum vampir dan werewolf menjadi kasus yang memang membutuhkan waktu.   Sudah hampir dua bulan lamanya, para vampir dan makhluk serigala berseteru dan meninggikan ego mereka karena wilayah luas di daerah Hutan sss.   Awalnya para werewolf menolak tegas apa yang sudah Raven ikrarkan. Tanah leluhur yang harus mereka jaga diambil alih sebagian oleh kaum vampir.   “Seharusnya kau bisa bersikap adil, Raven!” protes sang Alpha. Mendengar keputusan yang sama sekali merugikan dirinya.   Di meja bundar yang ditempati oleh tiga orang pria dewasa membuat ruangan temaram ini semakin panas. Alpha dari BlueMoon Pack yaitu Alpha Ivo, perwakilan vampir dari kawasan sss yaitu Pat dan Raven sendiri sebagai pengadil.  “Kau bilang aku tak adil?” tanya Raven mendengus. “Jika kita menelisik dari awal, sebenarnya kawasan itu dimiliki bangsa vampir, leluhur werewolf sudah lebih dulu mengklaimnya karena aku sedikit lambat bertindak.”   Muka Alpha Ivo memerah mendengar penuturan Raven. “Jangan anggap karena kau penguasa kaum immortal dan kau bisa dengan mudahnya membela kaummu!”   Memang sudah sejak lama antara vampir dan werewolf bertentangan. Raven yang memang ditunjuk sebagai penguasa dunia ditolak mentah-mentah oleh bangsa serigala. Tapi, semakin lama para werewolf bisa menerima Raven meskipun banyak juga yang menentang.   “Kenapa pikiranmu masih picik sekali. Lord Raven sudah memberikan keadilan di sini,” sinis Pat, ia tak terima pimpinannya di olok-olok. “Jadi bersikaplah fair, dan terima semua apa yang dikatakannya.”   “Tapi ini tidak adil bagi kaum kami, Raven!” Alpha Ivo menggebrak meja itu membuat kayu bulat langsung hancur seketika. “Aku menyayangkan atas sikapmu yang terlalu membela kaummu sendiri, Lord Raven Sok Penguasa!”   Alpha Ivo pergi dari ruangan itu, walaupun ia tak terima tapi tetap saja ia tak bisa menolak perkataan Raven. Alhasil, kawasan Hutan sss bagian utara menjadi dua kepemilikan yaitu werewolf dan vampir.   “Lord,” panggil Pat. “Semua akan baik-baik saja, mereka terlalu angkuh untuk berdampingan dengan kaum kita. Untung saja Moongoddes memilih Anda dan Lady Lula untuk memimpin. Saya tidak bisa membayangkan jika kedua batu keramat itu akan jatuh di tangan yang salah.”   Raven menatap ruangan ini. Ruangan yang didekorasi dengan nuansa mewah dan elegan. “Setiap pimpinan pasti ada kebencian, tapi tetap saja mereka pasti akan menuruti perintahku.”   Ia berdiri dan kembali memakai tudungnya. “Kau bisa berbaur dengan mereka, bersikaplah lebih baik agar mereka bisa menerima kaum yang berbeda,” ujar Raven dan melesat pergi.   Sekarang ia lebih baik cepat pulang dan kembali ke istana besarnya, mungkin semua curahan di hati akan hilang saat sudah bertemu dengan Lula, pengantin kesayangannya. Lagi pula semua sudah selesai dan tak ada masalah yang lebih berat lagi.   Saat sedang melintasi hutan, matanya mencium aroma yang paling memabukkan. Ia mendekati pohon besar yang usianya tak jauh beda dari dirinya.   Melihat ada beberapa kuntum mawar merah tua di hutan membuatnya menyeringai, mawar hutan memang sangat menggoda dan memiliki aroma yang sangat wangi.   Dipetiknya enam tangkai mawar merah itu guna memberikannya pada sang Lady. Dengan melakukan hal itu ia akan melihat wajah Lula yang memerah seperti bunga ini karena merasa tersanjung akan perbuatannya.  Oh, My Queen. Mawar dan dirimu adalah satu padu, membuat cintaku semakin abadi dan memiliki hasrat yang menggebu.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN