CHAPTER 3 : Now, I'm Alive

1812 Kata
Gemercik air yang turun dari langit membuat tumbuhan yang tadinya layu merasa segar kembali. Dedaunan yang berwarna kuning menjelma menjadi hijau, ranting-rantingnya pun perlahan demi perlahan berubah menjadi kuat dan mampu menopang apa saja yang singgah di atasnya. Udara ini, aroma ini, aroma kebebasan dan juga kekuasaan. Wangi yang menyambutnya untuk kembali memimpin alam semesta dari kekacauan.   Jemarinya mengalun lembut merasakan nyanyian burung-burung yang ikut serta memeriahkan kehidupannya kembali. Mengambil alih bunyi klasik yang ia dengarkan dari radio tua yang sebenarnya sudah ketinggalan jaman.   “My Lord,” panggil seseorang di belakang tubuhnya.   Seketika ia menghentikan jemarinya dan meletakkannya kembali di tongkat yang selama ini ia pakai sebagai menopang saat berjalan. Matanya terbuka sempurna.  “Ada apa?” gumamnya malah terdengar seperti lirihan.   Orang yang berada di belakangnya menelan ludah gugup. “Anda meminta saya untuk membawakan penyihir untuk memotong rambut Anda, My Lord.”   Pria yang hanya berlapis kulit itu seketika memegang rambutnya yang sudah memanjang. Rambut berwarna emas dengan ujungnya berwarna seputih salju. Apakah ia melupakan hal ini? Sejak kapan ia meminta para pelayan membawakan seseorang untuk memotong rambut?   Mungkinkah ingatannya semakin menurun karena bertambahnya usia? Atau karena ia sudah bertahun-tahun tidak memakai pikirannya untuk mengontrol sesuatu? Tapi ia bisa mengingat dengan jelas jika tak pernah menyuruh seseorang memanggilkan tukang cukur.   “Tuan Colton yang meminta kami membawakannya, kata beliau itu perintah dari Anda, My Lord.”   Jelas sudah biang keladinya saat ini, Colton si asisten yang merangkap sebagai penggantinya saat ia sedang menikmati tidur panjang. “Kau bisa menyuruhnya untuk menunggu. Setelah beberapa saat kau bisa membawanya menghadapku.”   “Segala apa pun yang Anda inginkan, My Lord.”   “Tunggu!” Ia menghentikan pelayan wanita itu yang hendak pergi dari sana. “Lalu, ke mana Colton berada?”   Pelayan itu semakin menunduk saat mendapati sang raja yang memerhatikan tajam ke arahnya. Tatapan sinis sekaligus khas milik penguasa kegelapan. “Tuan Colton sedang keluar untuk mencari sumber makanan Anda, My Lord.”  Ia menyeringai. Ya, memang selalu seperti itu setiap hari. Ia tak tahu sudah berapa lama semenjak ia bangun dari tidurnya. Tapi, yang ia tahu hingga detik ini siang menggantikan malam sudah ke tujuh kali.   Dia terlalu antusias karena kebangkitanku.   “Kau boleh pergi. Dan jangan lupa untuk berikan hidangan terbaik pada tamu kita hari ini. Jangan pernah mengecewakan, apalagi ini adalah hari pertama aku bertemu dengan orang asing setelah sekian lama!” perintahnya dengan menggebu.   Apakah eksistensiku masih kuat seperti beberapa puluh tahun yang lalu?   Apakah semua makhluk immortal tahu bahwa aku sudah bangkit dan akan memegang seluruh tatanan dunia?   Jika tidak, apakah mereka tidak menerima sinyal dariku? Membuat alam semesta menjadi damai karena kehadiranku kelak?   Ia menyunggingkan bibirnya. Hujan di musim panas menjadi sinyal tersendiri bagi kaum di bumi. Ini peringatan bahwa Raven Vilcentius, si raja immortal telah kembali. Sungguh luar biasa, bisa menginjakkan kaki di tanah dan tidak terpaku pada peti mati yang menyesakkan.     **  “Oh, My Lord. Terima kasih sudah kembali bangun.” Wanita dengan jubah hitam dan bibir yang hitam pula memberikan penghormatan pada sang raja. Ia terkejut dengan penampilan itu. “Anda semakin gagah, My Lord.”  Raven diam saja dan masih memegangi tongkat yang semakin hari semakin berkilau di tangannya. Ia mengelus puncak tongkat yang berbentuk binatang kelelawar sebagai simbol dirinya. “Jangan pernah mengejekku apalagi mengucapkan kata tak jujur seperti itu.”   Wanita penyihir itu meringis. “Maafkan saya, My Lord. Saya hanya berbicara sesuai kenyataan. Anda tampan dan semakin gagah. Tak perlu sensitif karena Anda yang terlihat seperti mayat hidup—“   Guci yang berada sudut ruangan itu tiba-tiba pecah. Gigi Raven bergemeletuk hingga membuat wanita penyihir itu mendengarnya. “Tugasmu hanya memotong rambut bukan untuk menceramahiku!” Ia membalik badannya dan menatap tajam wanita penyihir itu. Ada raut wajah tegang yang bisa Raven lihat. Ia juga merasakan ketakutan yang besar di jiwa sang penyihir.   Astaga apa aku tadi berbicara lancang? Kenapa dia semakin menakutkan. Aku hanya berbicara jujur.   Raven berdiri dari duduknya dan berjalan tertatih-tatih. Mengabaikan pikiran semua orang yang tentu ia bisa mendengarnya dengan mudah. Bagaikan alunan musik yang menghiasi gendang telinga.   “Maafkan saya, My Lord.” Wanita berkulit putih itu bersimpuh dan memohon maaf padanya. Memberikan raut wajah yang menyesal karena sudah berbicara dengan sangat lancang hingga membuat pria yang memiliki usia yang lebih dari 3.5 abad ini marah.   Raven mengayunkan jemarinya pelan dan seketika membuat wanita itu langsung berdiri tegak. “Tak perlu basa-basi. Aku tidak terima bualanmu, cepat kerjakan yang aku perintahkan, Yeze!”   Ia pun menaruh mahkota yang sedari tadi dipakai pada kepala manekin yang memang di khususkan untuk benda berkilau itu.  Wanita itu menelan ludahnya. Melihat sang raja abadi sudah terduduk di depan cermin yang juga memerhatikan dirinya dengan pantulan. Yeze membuka koper tuanya yang memperlihatkan segala macam alat-alat keperluan. Dan jangan lupakan juga berbagai macam botol kecil yang tersusun rapi dengan warna-warni seperti gulali kegemaran anak bayi.   “Potongan seperti apa yang Anda inginkan, My Lord?” Yeze menyelimuti tubuh kurus kering itu dengan kain berwarna hitam.  “Kau tahu apa yang aku inginkan. Jangan buat aku menjadi pria yang ketinggalan mode masa kini, Witch!” Jemari Raven mengetuk-ketuk di tongkat besarnya, seolah mengintimidasi Yeze untuk cepat segera bekerja dan jangan lakukan kesalahan apa pun.   “Saya akan memberikan potongan Undercut, ini akan terlihat sangat menakjubkan saat Anda sudah kembali pulih dan memimpin dunia, My Lord. Saya juga yakin bukan hanya Lady yang akan terpesona dengan kegagahan Anda melainkan para perempuan dari kalangan rendah pun.” Yeze menebarkan bubuk emas di udara sekitar kepala Raven, membuat bubuk itu beterbangan dan menjadi bercahaya.   Segala barang seperti, gunting dan sisir serta alat lainnya beterbangan dengan sendirinya. Ralat, Yeze menyihir alat-alat itu untuk bergerak sesuai instruksi. Sehelai demi sehelai rambut raja immortal itu tergunting dan menyisakan gaya yang begitu hebatnya.   Raven menyunggingkan senyum miring, melihat bagaimana cara kerja Yeze yang ya ... lumayan membuat hatinya puas.   “Oh, My Lord. Apakah Anda ingin saya melakukan sesuatu untuk merapikan rambut di sekitar dagu Anda?” Yeze kembali menambahkan sejumput bubuk emas di wajah Raven.   “Ya.” Tak perlu waktu lama untuk menunggu perubahan itu. Raven yang memiliki pesona luar biasa langsung mengangguk.   “Sempurna!” Yeze sampai bertepuk tangan karena antusias melihatnya, begitu juga dengan pelayan lain yang ikut serta memerhatikan mereka sedari tadi. “Anda sungguh agung, My Lord!” Yeze dan pelayan lainnya membungkuk hormat.   Gunting dan sisir itu bergerak untuk melepaskan kain dari tubuh Raven. Dan barang-barang itu terbang untuk kembali ke koper milik Yeze.  Raven berjalan tertatih-tatih menuju Yeze dan menepuk bahu wanita itu. “Apa kau ada waktu sebentar untuk sekadar minum bersamaku?”     **  “Suatu kehormatan yang saya rasakan saat duduk di meja bersama Anda, My Lord.” Yeze menyesap minumannya dan menatap canggung pria yang berada di ujung sana. Di kursi kebesaran.   Raven memerintahkan pelayan lewat sorot matanya agar kembali melayani Yeze dengan menuangkan anggur di gelas wanita itu. “Kau adalah tamuku untuk pertama kali yang menginjakkan kaki di istana ini semenjak aku bangun dari baringanku. Aku belum berinteraksi dengan orang asing setelah sekian lama, setidaknya berinteraksi denganmu menjadi pelajaran pertamaku. Aku juga tidak tahu bagaimana penduduk bumi sekarang, apakah mereka baik-baik saja?”   Yeze terdiam. Ia meletakkan cangkirnya pada piring kecil dan memerhatikan pelayan yang tadi membantunya. Ia menghela napas sebelum kembali menjawab. “Semua lebih buruk saat Anda tidak ada, My Lord. Terlalu banyak para petinggi yang menaikkan harga diri mereka seolah mereka sendiri adalah pimpinan bumi. Pertempuran, wilayah kekuasaan dan juga politik menjadi kacau. Bumi menjadi ajang balas dendam antar kaum.”   Raven tersenyum kecut. “Kau yakin dengan itu?”   Yeze mengangguk. “Saya penyihir putih dan Anda pasti tahu kejujuran yang kaum saya miliki sedari dulu. Kami menjunjung tinggi kejujuran dan juga kedamaian.” Yeze menunduk saat melihat tatapan Raven sangat mengintimidasi.   “Ya, kau benar. Aku juga sudah mendapatkan gambaran sedikit banyak dari Colton.” Raven mengusap-usap bakal janggutnya yang terasa menggelikan.    “Maaf sebelumnya jika saya lancang berbicara, My Lord.” Yeze memerhatikan tongkat yang sedari tadi tak bisa lepas dari genggaman sang raja. “Apakah batu biru yang berada di tongkat Anda yang menjadi legenda dari masa ke masa?”   Raven memerhatikan tongkatnya yang memancarkan warna kebiruan seperti air laut yang terkena sinar matahari. Tongkat yang telah menjadi kekuatannya sepanjang hidup. Ah, bukan tongkat. Melainkan batu keramat yang sudah Moongoddes titipkan padanya untuk menjaga keseimbangan dunia.   “Ya, kau benar. Just the Last Stone on earth. Simbol kedamaian dunia tapi ia juga yang menjadi cikal bakal kerusuhan di bumi.” Raven mengentakkan sebanyak dua kali tongkat itu pada sisi lantai, membuat ruang makan istana ini menjadi lebih hangat ditambah dengan suara air mengalir yang membuat Yeze terbawa suasana.   “Saya turut prihatin untuk kejadian mengenaskan tempo dulu, My Lord. Tapi, bagaimanapun itu telah menjadi pukulan telak bagi pada kaum immortal,” sesal Yeze.   Raven mengangguk dan ikut menyesap minumannya. Ia tahu akan jauh lebih susah memperbaiki keadaan yang sudah hancur karena pengantinnya. Ia juga tak tahu akan membutuhkan waktu berapa lama agar kaum immortal menjadi seperti sedia kala, tunduk pada Moongoddes dan padanya.   “Semoga Anda bisa dengan tabah menjalani kehidupan yang sekarang, My Lord karena kami menunggu kemunculan Anda.”   “Kehidupanku tidak ada artinya lagi, Yeza. Kau tahu, Moongoddes bahkan tidak pernah menjumpaiku lagi. Aku pun sudah sangat terpukul karena kehilangan sang Lady.” Raven mencengkeram tongkatnya.   Pelayan yang berada di saja semakin menunduk dengan keputusasaan yang dialami sang raja. Mereka bahkan sudah meminta pengampunan pada Moongoddes untuk memberikan Lord Raven pengganti. Tapi sayang sampai saat ini belum ada tanda-tanda kemunculan sang Lady.   “Saya prihatin mendengarnya. Tapi Anda harus kembali My Lord, jangan buat si pengusik semakin lama bertahan menjadi pemimpin. Sudah banyak darah yang menjadi saksi biru karena pertempuran ini.” Yeza ikut marah.   “Lalu bagaimana dengan kaummu, Yeza?” tanya Raven menyelidik.   “Kami salah satunya, banyak dari werewolf  yang semena-mena dan melakukan pelebaran wilayah secara ilegal. Anda tahu kami bukan kaum yang hidup berkelompok melainkan kami menyebar di belahan bumi.” Yeza masih ingat saat mendapati kaum werewolf yang menandai perbatasan wilayahnya.   “Kami sudah berusaha mengusir mereka, tapi mereka mengatakan kalau sudah mendapat izin dari para Alpha.”   Raven terdiam sejenak dan berkata, “Akan ada saatnya mereka membuat kekacauan besar-besar. Aku juga tak akan menutup mata tentang hal itu. Meskipun aku tertidur dalam peti mati tapi jiwaku keluar dan aku tahu segalanya.” Raven mengetukkan tongkatnya di lantai sebanyak satu kali membuat para pelayan kemudian membereskan segala macam hidangan di atas meja.   “Terima kasih sudah menyempatkan datang di istanaku di antara banyaknya jadwal padatmu, Yeza. Pelayan akan memberikanmu sekantung keping emas karena rasa puas yang aku rasakan.” Raven berdiri, walau dengan bergetar. Para pelayan laki-laki yang berada di belakangnya seketika bersiap karena takut sang raja akan tumbang. Tubuh yang berlapis kulit itu belum sepenuhnya bisa berjalan dengan benar.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN