CHAPTER 4 : Then, The Stones is Glow

1952 Kata
“Oh, My King, Apakah kita harus menghadiri pesta ini?” Wanita itu memutar bola matanya malas. Sedangkan Raven hanya tersenyum bangga saat menampilkan sang pengantin yang berada di sampingnya.   “Ya, kita harus menghadiri acara ini. Keluarga Gileon sudah mengundang kita jauh-jauh hari, My Queen.” Raven memegang tangan pengantinnya yang tertutup sarung tangan berwarna putih. Merasakan kehalusan di sana. Ya, dia pun sama. Sama-sama memakai sarung tangan.   “Apa kau yakin?” tanya wanita itu lagi. “Mereka akan mengetahui identitas kita! Kita tidak perlu berlama-lama dalam jarak dekat dengan manusia!” Suara itu sedikit tinggi.  Bunyi ketukan sepatu kuda pada aspal di malam hari sedikit meredam suara sang wanita. Sang kusir pun tak ingin ikut campur dengan percampuran antara raja dan ratu tersebut.   Udara dengan suhu rendah yang menandakan akan datangnya musim dingin tak mempengaruhi mereka. Seolah mereka kebal dengan udara minum sekalipun.   Ini kali pertama Raven mengajak Lady Lula untuk ikut serta dalam perayaan ulang tahun serta karnaval yang diadakan oleh pebisnis Eropa. Demi menutupi identitasnya, Raven harus ikut dan meramaikan acara tersebut. Lagi pula bukan hanya dirinya yang menjadi makhluk immortal satu-satunya. Akan ada banyak werewolf bahkan penyihir yang berkamuflase di sana.   “Tak ada yang perlu di khawatirkan. Lagi pula ini adalah caraku untuk mengatakan pada dunia bahwa kau sudah menjadi pengantinku.” Raven mengecup telapak tangan Lady Lula.   “Kau sudah menunjukkan aku pada dunia, Raven.” Lady Lula mengambil tangannya dan memerhatikan cincin yang terselip di atas sarung tangan. Cincin berwarna merah delima yang sangat bersinar.   “Itu berbeda. Tempo lalu, aku menunjukkanmu hanya pada seluruh kaum immortal. Tidak pada manusia.” Raven Vilcentius dan Lula Viviane baru saja terikat satu sama lain, membuat ratu itu menjadi bangga akan statusnya yang sekarang. Ia salah satu yang bisa mengendalikan dunia ini. Bersama Raven ia akan selalu dilindungi dan dihormati oleh alam semesta.   “Pesta itu, sebenarnya aku marah jika mengingatnya.” Lady Lula membenarkan rambutnya yang bergelombang pada ujungnya. Kemudian ia meminta pada pelayan yang berada di belakangnya untuk memberikan cermin.   Rambut berwarna hitam berkilau itu dengan mode tinggi dilapisi dengan topi besar. Belum lagi ditambah eksen bulu-bulu besar di salah satu sisi kepala. Tatanan khas bangsa bangsawan yang ia kenakan membuat dirinya puas. Ia juga memerhatikan leher jenjangnya yang berhiaskan berlian berkilau.   “Peaches, apa kau yakin penampilanku sudah sempurna?” tanya Lady Lula memegang kamisolnya yang terasa seperti bulu halus, sangat lembut. “Stomachernya juga senada dengan renda yang berada di gaun milikku.”   Stomacher adalah panel segitiga yang mengisi di depan gaun wanita dan sebagai bagian dari korset.   “Anda sangat sempurna untuk malam ini, Lady.” Peaches bersuara, sebenarnya ia agak sedikit kesulitan dengan barang bawaan milik Lady Lula. Wanita itu membawa tas yang cukup besar dengan alat-alat make-up serta yang lainnya.   “Aku tahu kau akan mengatakan hal itu, Maid.”   Raven yang mendengar interaksi itu hanya bisa terkekeh. Ia menghidu aroma malam ini, terlalu banyak makanan yang berseliweran di jalan. Contohnya saja, ada dua orang lansia yang sedang duduk di pinggir jalan dengan tas compang-camping. Ada anak berusia sekitar sepuluh tahun bersama dengan ayahnya yang sedang bermain ayunan di taman. Dan juga ada wanita yang sedang bertengkar dengan kekasihnya di atas sepeda tua.   Astaga, andai saja Raven tidak dilatih untuk mengontrol diri. Bisa dipastikan darah yang mengalir dalam tubuh mereka sudah ia telan habis dan mengaliri kerongkongan guna memuaskan dahaga.   “My King, apakah kau sudah tidak tahan lagi ingin menghisap darah para pemuda-pemudi itu? Atau darah dari bocah bersama ayahnya?”   Raven melirik ke arah bocah itu sekali lagi. Ia pernah merasakan darah muda itu, darah yang lebih manis daripada h****n yang membuatnya candu. Ia bahkan sampai tidak bisa melepaskan hingga menyisakan hanya tulang di tubuh sang korban.   “Aku sudah meminum darah rusa hitam, My Queen. Dan sekarang aku tidak membutuhkan darah manusia hanya untuk memenuhi nafsuku. Apa kau tak kasihan jika kita menghisap salah satunya?” Bibir Raven menipis.   “Benarkah kita diciptakan untuk itu? Rasa kasihan pada makhluk seperti mereka?” tanya Lady Lula mengejek. “Bukankah itu adalah kesempatan kita untuk balas dendam terhadap manusia-manusia yang telah melakukan hal buruk?”   Raven menggeleng. “Aku tidak diciptakan untuk hal itu. Ya, dulu aku pernah melakukannya, tapi tidak untuk saat ini dan seterusnya,” tentang Raven.   Lady Lula membenarkan gaun bawahnya yang mekar seperti bunga mawar yang indah. “Lalu, kau melakukan hal yang sama terhadapku, My King.”  “Kau sangat berbeda, My Queen. Kau harus ingat itu, aku menyelamatkanmu dari senjata yang para perampok berikan terhadapmu. Andai saja aku tidak menolongmu mungkin kau tak akan pernah bisa lagi berada di sampingku.”   Lady Lula Viviane menyemirikkan senyumnya. “Ya, aku tahu, aku berbeda.”     *  Kuda berwarna hitam itu berhenti tepat di rumah besar dan mewah yang sudah dipenuhi oleh cahaya-cahaya kemilau dari banyaknya lampu yang menggantung. Membuat malam kelam itu menjadi tidak ada artinya lagi.   Para tamu juga sudah mulai keluar dari kereta kudanya masing-masing, membiarkan para pelayan untuk membacakan nama mereka satu persatu.   “Tuan Maldini dan Nyonya Margareth dari Berlin.”   Seorang wanita memakai gaun berwarna kuning itu keluar dari kereta kudanya dan disambut oleh para pasangan yang sudah siap berada di atas karpet merah. Semua kamera dan para jurnalistik langsung mengarah kepada para tamu undangan. Mereka berbondong-bondong mengantarkan para tamu untuk memasuki kediaman keluarga Gileon.   “Tuan Lancester dan Nyonya Davinda dari Koln.”   “Tuan Alonso dan Nyonya Quiff dari Dresden.”   “Tuan Vilcentius dan Nyonya Viviane dari Heilderberg.”   Sekarang tibalah saatnya Raven dan juga pengantinnya berjalan di karpet merah, memberikan senyum pada para wartawan dan juga masyarakat yang menonton di sana.   “Heilderberg, hm?” bisik Lady Lula di telinga Raven.   “Hanya itu yang aku pikirkan saat mereka ingin tahu tempat tinggal kita. Tak mungkin aku mengatakan tinggal di Black Forest, ‘kan?” Raven memegang tangan pengantinnya saat melintasi karpet merah. Membuat para jurnalistik menghampiri mereka untuk memfoto sekaligus bertanya-tanya.   “Tuan Vilcentius, bukankah perusahaan Gileon menjadi target investigasi tahun ini? Ada rumor yang mengatakan mereka belum membayarkan pajak selama beberapa tahun ke belakang. Bagaimana Anda menanggapi hal tersebut?”   “Bukankah ini adalah target Anda untuk mengetahui segala kekayaan yang mereka miliki? Lalu, mengapa Anda diundang dalam karnaval ini?   “Apakah Anda datang ke acara keluarga Gileon untuk mengawasinya dan juga menyeretnya ke dalam penjara secara bersamaan?   “Saya pernah dengar kata-kata begini ‘Sebelum kamu menyerang, mulailah kenali dulu musuhmu’ apakah itu yang Anda lakukan sekarang?   “Bagaimana pandangan instansi pemerintahan saat mendengar Anda adalah orang satu-satunya yang diundang dalam perayaan?”   Berbagai macam pertanyaan tidak mengusik Raven sedikit pun, tapi tidak dengan Lady Lula. Ia sampai mengentakkan kakinya dengan keras pada lantai marmer. Mukanya sudah tidak bisa dikatakan baik. Tapi, meskipun begitu ada Raven di sisinya. Membuat perasaan Lady Lula menjadi aman terkendali.   Jaga sikapmu, My Queen! Jangan tunjukkan muka cantikmu pada dunia.   Raven memberikan senyum menawan pada kamera dan langsung masuk ke dalam rumah mewah tersebut bersama dengan para tamu undangan yang lain.   Apakah kau memang menjadi mata-mata keluarga Gileon, King? Maka dari itu kau mau datang ke acara ini? tanya Lady Lula dalam pikirannya saat mereka menuruni tangga dan berdiri di aula besar yang sudah dipenuhi oleh banyak orang. Semua orang yang datang pun sangat antusias, apalagi ada pasangan di pojok  sana dengan tertawa sangat lebar. Ew, sangat menjijikkan.   Itu keluarga Petterhead, kau lihat saja bagaimana tubuh sang istrinya. Dia bahkan bisa memakan Gulashcsuppe dua mangkuk besar dalam satu waktu, jawab Raven. Wanita berperawakan gendut itu bahkan sudah memegang gulali di tangan kanannya.   Raven membawa Lady Lula untuk mendekat ke arah wanita itu.   “Halo, Tuan dan Nyonya Petterhead.” Raven menyapa perempuan berpipi gembil itu. “Senang bertemu dengan kalian di sini.”   “Oh, Tuan Raven Vilcentius. Aku mengira kau tak akan pernah datang, Dan siapa wanita cantik di sampingmu ini?” tanya Tuan Petterhead saat mendapati wanita cantik dengan kulit putih pucat ikut tersenyum dengannya.   “Oh, dia adalah pasanganku malam ini sekaligus pengantinku. Lady Lula Viviane, ya dia selalu menjadi Lady-ku.” Raven memegang pinggang Lady Lula.  Tuan Petterhead mengambil tangan Lady Lula dan menciumnya. “Wanita cantik memang selalu berdampingan dengan pria mapan, benarkan? Cincinmu sangat bagus, pasti Tuan Raven memberikannya padamu dengan sangat spesial.” Tuan Petterhead ingin membelai cincin Ruby yang tersemat, namun langsung ditarik oleh Lady Lula.  “Ya, Anda benar, Tuan. My King selalu memberikan semuanya untukku. Dia selalu melayaniku dengan sepenuh hati.” Lady Lula tersenyum dengan jengah. Ia juga memerhatikan wanita gendut di hadapannya dengan memindai tubuhnya.   “Kalian sudah menikah?” tanya Nyonya Petterhead. “Sudah lama menikah? Apa kalian sudah memiliki momongan?”   “Maaf?” tanya Raven tak mengerti dengan situasi yang ada. Ia bukan bodoh, tapi ingin memperjelas maksud dari wanita gemuk itu.   “Ah, aku tahu. Kalian memang pasangan muda yang memiliki gairah menggebu. Aku yakin kalian juga tak pernah memikirkan itu.” Tawa itu mengusik gendang telinga Raven dan juga Lady Lula. Menertawakan hal yang sangat tidak baik bagi pasangan asing yang belum terlalu dikenalnya.    My King, apa kau tahu yang ada di pikiranku sekarang? Aku ingin sekali menghisap darah itu walaupun pahit hingga ia menjadi kurus!    *  Aura kegelapan menyelimuti hutan yang lebat ini. Bukan hanya mencekam tapi suhu yang berubah menjadi sangat drastis membuat para makhluk yang tinggal di sana memilih untuk ke kandangnya masing-masing.  “Aku tidak akan pernah sudi memakai baju sialan ini apalagi bertemu dengan mereka!” pekiknya sembari melompat dari kereta kuda. Tidak perlu berpura-pura sekarang untuk menjadi wanita anggun, karena mereka sudah berada di kawasan Black Forest.  Raven ikut melompat dan terbang mendekati pengantinnya. Ia menyuruh para pelayan dan juga kusir untuk lebih dahulu pergi ke istana. “Aku tidak tahu kau akan marah seperti ini, My Queen. Aku kira kau sudah bisa mengendalikan amarah dan juga hawa nafsumu.” Raven melompat dari dahan satu dengan dahan yang lain, mengabaikan Lady Lula yang sedang bermain-main dengan ular sebagai korbannya.   “Aku tahu kau juga ingin sekali membuat wanita gemuk ini menjadi tulang belulang. Jangan pernah meragukan instingku, My King.”  Ular yang berada di hadapan Lady Lula sekarang sudah menggeliat, karena tercekik oleh sesuatu tak kasat mata.   “Berhenti menyiksanya, My Queen. Kau akan membuatnya trauma karena kesakitan yang tak kunjung reda. Kalau kau ingin, kau bisa membunuhnya secara langsung.”   Pikiran Lady Lula terpecahkan, ia melempar ular itu semak-semak yang rimbun. Tak peduli ular hitam itu sudah mati atau masih bisa bernapas dengan benar. “Kau menjadi salah satu parlemen pemerintahan di dunia manusia sebenarnya apa niatmu? Kau sudah menjadi raja makhluk immortal. Semua kaum tunduk akan perintahmu. Apa lagi yang kau cari?”   Lady Lula memainkan gaun merahnya dan terduduk di rumput yang sedikit lembap karena kurangnya matahari pada hutan ini.   “Dengan cara itu aku bisa memata-matai manusia, dan menjaga keseimbangan. Kau tahu apa yang mereka pikirkan? Mereka akan menghuni seluruh wilayah di muka bumi. Dengan adanya aku menjadi salah satu dari mereka, aku bisa mengendalikan pikiran buruk mereka serta membuat dunia ini menjadi baik-baik saja.” Raven melompat dari pohon besar untuk mendekati Lady Lula yang mulai terbaring.   “Mereka tak akan pernah bisa merasakan ketamakan dan juga kesombongan. Ya, meskipun itu sangat alamiah untuk para manusia sendiri. Tapi aku sudah diutus oleh Moongoddes untuk menjaga semua itu.” Raven memegang tangan Lady Lula yang memakai cincin dan mendekatkannya di dadanya.   Otomatis, batu ruby itu bersinar bersamaan dengan bandul berwarna biru yang berada di leher Raven. “Fancy Vivid Blue, batu agung yang menjadi simbol perdamaian dunia.”   Cahaya yang keluar dari kedua benda keramat itu mampu menyilaukan siapa saja yang melihat. Ruby dan Fancy Vivid Blue sudah menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN