CHAPTER 5 : Now, Fly to The Moon

2082 Kata
Di kastel tua nan tinggi yang hanya di penghuni oleh beberapa orang membuatnya tampak usang berdebu. Bukan karena tidak dibersihkan, melainkan mereka jarang singgah ke ruangan lain dan hanya terpaku pada satu ruangan saja.   Pria berhidung tinggi itu menarik napasnya dalam-dalam.   “Apa Tuan bisa menciumnya?”   Pertanyaan dari seseorang yang langsung membuat matanya terbuka dengan perlahan. “Dia sudah kembali. Kembali dari kebangkitannya.”   Pria berhidung tinggi itu memainkan jemarinya di singgasana yang terbuat dari kayu hitam dan di atasnya ada gambar kepala ular. “Ya, aku bisa mencium samar bau dirinya.”   “Lalu, apa yang akan Tuan lakukan sekarang?” tanya pria dengan pakaian lusuh itu, pria tua yang membungkuk dengan tongkat kayu sebagai penyangga.   “Tidak ada. Aromanya masih samar, mungkin dia masih memerlukan waktu yang cukup lama agar kembali tumbuh.” Dia mengibaskan tangannya di hidungnya, menciptakan wewangian yang bisa mencekik semua orang. Bau racun yang mampu melumpuhkan otak manusia secara tiba-tiba.   “Lamoza,” panggilnya pada pelayannya. “Kau tahu apa yang aku inginkan? Selalu pantau mereka dan lihat pergerakannya. Aku yakin masih banyak waktu untuk menyelesaikan semua. Kalau bisa aku akan memusnahkan bangsa vampir hingga ke akar-akarnya.”   Pelayan itu berdiri dengan kaki yang bergetar. Tuannya selalu seperti itu, berkata hal yang mungkin akan menghancurkan dirinya sendiri, ambisius dan temperamental. “Baik, Tuan. Saya akan melihat mereka dari kejauhan.” Dan seketika, Lamoza berubah menjadi burung gagak besar dengan cakar yang panjang.   Satu lagi pesuruhnya yang sudah tunduk akan dirinya, Lamoza Frig seorang siluman gagak yang menjadi salah satu gerbang penghubung antara dirinya dan seseorang.   **  Ia mendengar suara sayup dari gerombolan orang-orang yang berada di pelataran istana membuat Raven menghentikan jemarinya yang sedang berlatih guna meluruskan otot-ototnya yang kaku. “Siapa yang datang?”   Pelayan pria yang berada di belakang Raven menoleh dan menatap sang raja dengan bingung. “Tak ada yang datang, My Lord.”   “Kau tuli atau tidak peka dengan keadaan sekitar? Buka telingamu lebar-lebar, sudah banyak orang yang sampai di pelataran istana!” Raven mengetukkan tingkatnya di lantai, membuat dinding yang tadinya melebar menjadi rapat kembali seperti semula. Ia sudah selesai dengan aktivitasnya.   Ia berlari sampai di depan istana, walau tidak secepat sedia kala. Ia memerhatikan banyak kaumnya yang datang dengan wajah berbinar.   “My Lord, Anda tidak memberitahu kami bahwa telah bangkit dari tidur. Kami akan memberikanmu perayaan besar-besaran sebagai rasa syukur kami.”   “Kami memujamu, Tuanku.”   Banyak perempuan dan laki-laki langsung membungkuk demi menjaga kehormatan mereka di depan sang raja immortal. Suara seruan mereka tak henti-hentinya dan membuat Raven mau tidak mau mengetukkan tongkatnya di tanah. Tentu saja itu tidak hal yang biasa, angin langsung berembus kencang, dedaunan pada terbang dan membuat para binatang lebih memilih tersembunyi.  “Jadi, siapa yang memberitahu kalian?” tanya Raven dengan nada tegas, tak memedulikan ada satu perempuan yang takut-takut menghadapnya.   “Yeze, sang penyihir putih yang memberitahukan kami.” Salah satu dari mereka menjawab dengan nada pelan.  “Ya, aku sudah bangkit. Terima kasih karena sudah menyambutku. Kalian adalah pengikut yang setia.”   Para bangsa vampir kembali memberikan penghormatan pada Raven, membuat pria itu tersenyum sejenak. Tapi, matanya sedikit terbelalak saat ada seorang anak kecil yang digendong oleh seorang pria.   “Ada apa dengan anak ini?” Tangan kurusnya memegang pergelangan tangan bocah itu yang ditopang oleh sehelai kain.   “Dia bermain di hingga terperosok di jurang, My Lord. Tapi sedikit demi sedikit lukanya akan kembali putih dengan bantuan obat yang diberikan para penyihir,” tutur pria yang berstatus sebagai ayah dari bocah pucat itu.   “Terlalu lama, ia sudah melewati kematian yang mengenaskan. Dan sekarang kau mengubahnya menjadi kaum kita, apa kau sudah memanipulasi keluarga bocah ini?” tanya Raven yang masih memerhatikan bocah itu. Bocah yang diam tanpa memberikan ekspresi apa pun, tapi ia suka dengan bola mata berwarna kuning emas yang bocah itu pancarkan.   “Saya sudah memanipulasinya dan mengubah ingatan mereka. Ezra pun begitu,” jawab ayah bocah itu.   “Ckckck, kau adalah anak kecil yang malang. Apakah ini sakit?” tanya Raven saat memegang tangan anak keci itu.   Ezra hanya menggeleng. “Tidak.”   “Kalau ini?” Raven memegang kening bocah itu yang sedikit retak.   Dan lagi, Ezra menggeleng.   Ya, memang benar, mereka tidak bisa merasakan kesakitan yang signifikan. Mungkin hanya seperti di gigit semut kecil. Beda lagi jika kepala mereka dipenggal dan dipisahkan dari tubuhnya lalu dibakar. Saat itu juga mereka akan mati secara tragis.   “Apa kau ingin kau menyembuhkan ini?” tanya Raven.   Bocah itu diam saja, tapi pandangannya beralih pada pria yang menggendongnya untuk memberikan izin. Pria besar itu mengangguk sebagai jawaban.   “Iya,” jawab Ezra pada akhirnya.   Raven tersenyum tapi dengan datar, ia mengayunkan pelan tongkatnya yang sedari tadi bersinar pada tangan bocah itu. Seketika, Ezra mengerjang dan berteriak kesakitan seolah ruhnya tercabut dari tubuh.   Bola matanya memerah dan wajahnya menghadap langit. Kulitnya semakin pucat dan agak sedikit menghitam.  “Tahan, Boy!” perintah Raven. Tongkat yang bersinar biru itu tiba-tiba saya masuk ke dalam tubuh Ezra.   Keningnya yang retak kembali menyatu, telinga yang tak utuh kembali menjadi sempurna. Dan Raven memerintahkan ayah dari bocah itu untuk membuka kain yang menjadi penopang tangan. Sedikit demi sedikit tangan yang remuk dan tak beraturan itu kembali seperti semula, menyatukan tulang-tulang yang hancur. Ezra kembali memiliki kulit yang bercahaya diterpa rembulan yang menyinari.   “Selesai.”   “Terima kasih, My Lord ... terima kasih banyak.” Pria vampir itu menciumi pipi Ezra yang masih berada di gendongannya.   Semua orang merasa takjub dengan perlakuan yang Lord Raven berikan, begitu antusiasnya hingga membuat mereka bertepuk tangan. Tak ada yang lebih bahagia dibandingkan sang penguasa kegelapan kembali.     **    “Makanlah, ini tidak mengandung cokelat sama sekali.” Rula memberikan serial khusus kucing di mangkok yang telah disediakan. Tak jauh dari tempat tidurnya, ia juga membelikan hewan peliharaan itu tempat tidur berwarna biru.  “Kerjamu hanya tidur, tidur dan tidur. Aku sampai bosan melihatmu tertidur di tempat empuk di sana.” Rula mendengus. Ia juga memakan camilannya dan mengganti saluran televisi yang ia suka.   Hari Sabtu malam, hari yang ia suka. Kenapa? Karena ia tidak bisa mendengar dering telepon dari  para customer dan juga jerit atasannya yang selalu mengeluh karena pekerjaan yang tak kunjung selesai. Ia masih muda, dan berumur 25 tahun, tapi kenapa semua orang yang berada di kantornya seperti menunjukkan usia lanjut usia. Dan ia juga terbawa akan hal itu.   “Apa kau tahu Peachy, aku sebenarnya agak senang karena tinggal bersamamu. Walaupun pertamanya aku agak merasa malas denganmu.” Rula kembali memasukkan berondong jagung ke dalam mulutnya dan menonton serial televisi.   “Astaga, aku paling tidak mengerti bagaimana seseorang menciptakan khayalan yang sangat tidak masuk akal seperti ini. Vampir, werewolf, mutan, elf, dan penyihir? Bahkan ada televisi lokal yang memegang teguh pada kepercayaan itu. Ayolah, itu hanya mitos belaka, tidak ada makhluk sejenis itu di muka bumi ini apalagi di angkasa.” Rula mengomel pada benda elektronik di depannya.   Bahkan sudah ada banyak orang atau kelompok yang masuk dalam sekte tidak jelas seperti mereka.   Peachy yang mendengar itu langsung melompat dan meringkuk di paha Rula. Manja-manja terhadap sang majikan. Kepalanya menyundul-nyundul pada perut Rula dan membuat sang empunya kegelian.   Peachy, sang hewan peliharaan diberikan nama itu karena memiliki b****g seperti buah peach yang padat. Apalagi saat hewan itu berjalan-jalan ke sana-kemari layaknya model yang sedang berada di karpet merah.   “Apa kau ingin berjalan-jalan sebentar? Menikmati sinar bulan yang lagi terang-terangnya. Lagi pula aku ingin sekali memakan makanan hangat. Bagaimana jika kita ke restoran atau ke kafe terdekat?” tanya Rula sambil mengangkat tubuh anak kucing itu.   Peachy hanya mengeong dan menatap mata Rula dengan manik hijaunya. Membuat Rula sadar bahwa hewan peliharaannya memiliki mata indah seperti kelereng baru.   “Apa kau baru saja tersenyum padaku?” tanya Rula sambil mengerjapkan mata. Seumur hidup baru kali ini ia memelihara binatang dan ia tak tahu bahwa kucing bisa tersenyum. “Ah, aku kira aku hanya salah lihat.”   Rula mengambil jaket, sarung tangan serta syalnya, ia juga tak lupa menggendong Peachy agar selalu tetap hangat di dekapnya. Peachy diam saja, atau bisa dikatakan ia merasakan kehangatan dari suhu Rua.   Rula tahu bahwa salju beberapa hari lagi akan turun, ia bisa merasakan suhu yang semakin hari semakin drastis. Apalagi jika berada di luar ruangan seperti ini. Angin bahkan sudah bertiup sedari tadi, seolah menggoda mereka berdua.   “Peachy, aku merasakan ingin minum kopi di kafe itu.” Rula bergegas memasuki kafe yang diterangi lampu kuning. Tak terlalu banyak orang di sana, bahkan cenderung sepi. Ia bisa melihat bartender yang berdiri dan melayani pria dengan jaket kuli di sana. Oh tidak, mereka sepertinya sedang mengobrol.   “Bunyi lonceng menandakan jika Rula sudah berada di dalam ruangan, membuat dirinya mendesah lega karena merasakan kehangatan di sini. Ia segera mencari tempat duduk yang paling nyaman menurutnya.   “Selamat datang, Nona. Aku tahu kau pasti kedinginan, aku memiliki rekomendasi yang pas untukmu saat sedang menikmati cuaca seperti ini,” kata bartender itu mulai mendekati Rula.   “Oh, apa pun itu, berikan aku minuman hangat. Dan apakah kau masih memiliki beberapa muffin? Tolong berikan aku itu,” pinta Rula dengan penuh harap. Ia dari rumah sudah membayangkan akan memakan muffin dengan cokelat yang meleleh di dalamnya beserta minuman hangat yang membasahi kerongkongan.   “Baik, tunggu sebentar. Oh, apa kau juga ingin memesankan untuk kucingmu yang indah itu?”   “Tidak. Itu saja, ia tidak bisa memakan sembarangan terkecuali makanan khusus.” Ya, Rula menjadi salah satu pemerhati hewan sekarang.   Secara tak sadar, interaksi itu didengarkan oleh seseorang yang tadinya mengobrol dengan sang bartender. Pria berjaket kulit yang berdiri di dekat meja kasir.   “Muffin memang paling enak di makan saat cuaca seperti ini,” cetusnya saat sudah berada di dekat Rula. “Apa kau sedang menunggu seseorang?”   Rula menatap pria itu dan menggeleng. “Tidak—” Tapi kata-katanya terputus saat Peachy dengan tiba-tiba menggeram dan terlihat seperti tidak suka.   “Aku rasa kucingmu tidak menyukaiku.” Pria itu mengangkat kedua tangannya di udara tanda menyerah. Ia menaikkan sudut bibirnya. “Dia menatapku seperti melihat musuh.”   Kucing itu akhirnya melompat ke atas meja dan menggeram seperti ingin berkelahi. Rula yang melihat itu langsung menggendongnya. “Jangan seperti itu, Peachy. Jika kau bertindak tidak sopan maka aku akan meninggalkanmu di sini!” ancamnya.   Peachy akhirnya menyerah, ia kembali duduk di sofa samping Rula, namun matanya masih menatap tajam pria itu. Ya, seperti melihat musuh di sana.  “Silakan duduk, aku tidak menunggu siapa-siapa,” ucap Rula.   Pria itu tersenyum manis namun wajahnya berubah mengejek saat melihat kucing itu. Otomatis Peachy semakin menggeram. “Sepertinya ia sudah tidak menyukaiku sedari awal,” lontarnya dengan dibarengi tawa. “Aku Dayton. Dayton Lecter. Siapa namamu, Nona?”   Rula membalas tangan pria Dayton. “Rula Viviane. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Rula pakai huruf R. Kau sendiri, dengan siapa kemari? Kekasih atau teman?”   Dayton menggeleng. “Tidak, aku hanya keluar sebentar sekaligus sedang menjaga sesuatu.” Ia menaruh gelas minumannya di meja dan menatap Peachy. “Dia hewan peliharaanmu? Yang selalu menjagamu?”   Rula mengangguk dan mengelus kepala kucing putih itu. “Ya, dia aku temukan di selokan beberapa minggu yang lalu. By the way, mendengar penuturanmu tadi apa yang sedang kau jaga? Seseorang atau benda berharga? Apa aku boleh tahu?” tanyanya. Ia heran dengan Dayton, mengapa pria ini malah duduk di hadapannya jika sedang menjaga sesuatu.   “Ah, tenang saja dia selalu berada di dalam pengawasanku meski aku tidak tampak sama sekali. Ya, dia lebih berharga dari apa pun.” Manik mata Dayton menatap kepulan uap yang berasal dari minumannya.   “Ia bisa sendiri namun jiwanya sangat rapuh, tapi tak ada yang mampu menjangkaunya. Ia merasa sendirian namun ternyata sudah banyak orang yang berusaha melindunginya. Di tengah gelapnya malam, di sudut keremangan cahaya, dia tidak akan pernah tahu sisi gelapnya, lanjut Dayton.   Rula memutar bola matanya, ia tak tahu apa yang pria itu katakan. Apakah Dayton meracau? “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”  Dayton menatap bulan purnama di balik jendela kafe yang bening. Sinar rembulan yang mampu menandingi matahari. “Sang rembulan sudah menampakkan cahayanya, menantikan waktu penghakiman demi penebusan dosa-dosa yang sudah diperbuat. Moonlight mampu memberikan kesakitan bagi siapa saja yang melanggar.”   Rula ikut melihat rembulan putih di langit sana. Ya, ia bisa melihat bentuk dari bulan yang tidak seperti biasanya. Ini terlalu besar dan juga terlalu bercahaya. Dan kemudian ia menatap ke arah Dayton lagi. Namun naas, pria itu sudah tidak ada dan hanya meninggalkan jejak lonceng pintu yang bergoyang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN