CHAPTER 6 : Then, I Have An Auhority

1779 Kata
Berlarian. Menembus angin. Meninggalkan dedaunan yang terasa ringan saat selesai terinjak. Ia berusaha semampu mungkin agar terhindar dari marabahaya. Mencari perlindungan yang tak kunjung datang. Hanya rapalan doa yang terbesit saat kakinya sudah tergores ranting dan duri-duri yang tajam. Gaun yang berwarna ungu itu sudah compang-camping dan lusuh karena lumpur yang melekat.   Demi Tuhan, aku tidak mau mati mengenaskan seperti ini. Mati karena mayat hidup pengisap darah yang tak tahu malu!  Tekadnya sudah bulat. Jika ia tak ingin dibinasakan, maka ia yang akan membinasakan. Ia sudah terpojok, tak ada lagi kesempatan untuk menghindar apalagi meminta pertolongan. Wilayah ini terlalu sunyi, hanya ada dia dan semut yang saling menyapa.   “Mau ke mana?” tanya seseorang itu mengejek dirinya yang sudah mulai tersendat-sendat bernapas.   “b******n! Aku akan membunuhmu, Vampir Sialan!” teriaknya saat sudah mengambil kain di balik bajunya.   Vampir bergigi taring dengan noda merah di sana malah semakin tertawa mengejek, ia tahu bahwa mangsanya malam ini sudah mulai ketakutan. Dan itu terasa darah yang mengalir dalam wanita itu semakin harum. Ini sangat menyegarkan!   “Wangimu ... bagai candu. Ini seperti feromon penggoda para pejantan.” Langkah demi langkah, ia mendekati perempuan itu yang sudah terpojok di dinding gang sempit. Gang yang lembap dan bau anyir ini menyisakan kisah tersendiri baginya. Ini biasanya dijadikan tempat para preman setempat untuk memulai aksinya.   “Apa yang akan kau gunakan untuk membunuhku? Sebuah senjata perak? Bawang putih? Atau matahari buatan?” Ia sampai terkikik mendengar kalimat terakhirnya. Ia mengelus dagu lancip perempuan itu. Bibir yang agak tebal di bagian bawah mampu membuatnya sedikit terlena. Ah, tidak. Ia tidak boleh tergoda oleh mangsanya. Ia harus bisa mengisap habis darah perempuan ini.   Dan seketika matanya terpejam perih saat merasakan semprotan yang diberikan perempuan itu. Ah! Ini bubuk merica di campur dengan bawang putih!  Tak sampai di situ, perempuan itu berlari ke arah sang pria dan menancapkan pisau kecil dengan ukiran padat di tengkuk pria itu. Hal yang membuatnya mengerang kesakitan. Semakin lama, pisau itu semakin dalam dan menciptakan lubang hitam.   Sang perempuan tak melepaskan pegangannya. Ia malah semakin menancapkan pisau itu hingga seluruh belatinya tertembus tenggorokan.   Tak ada suara yang terdengar lagi, sang vampir hanya mengerang seperti anak anjing yang menginginkan s**u. Dan secara cepat, perempuan itu menaiki bahu sang pria dan memisahkan kepala itu. Membuatnya terbakar seketika. Sang vampir terbakar hingga menjadi abu yang tertiup angin.   Perempuan itu terengah-engah dan mengambil pisaunya yang berada di lantai. Namun, suara tepuk tangan di belakangnya langsung membuat dirinya waswas. Sial! Terlalu banyak makhluk pengisap darah di sini.   “Aku tersanjung karena kau sudah berhasil memusnahkan bangsa vampir yang tidak ada gunanya seperti dia. Dari mana kau tahu bahwa makhluk itu akan mati dengan pedang perak?” Di sana, di ujung gang yang gelap, perempuan itu bisa melihat seseorang yang memakai jubah kebesaran. Ia tak tahu siapa, tapi dari nada suaranya itu adalah seorang wanita.   “Siapa kau?” tanya perempuan itu dengan posisi kuda-kuda. Ia juga menajamkan alat indranya.   “Oh, jangan takut. Aku hanya sekadar lewat dan kebetulan mendapatkan tontonan yang mengasyikkan.” Perempuan itu membuka jubahnya saat sudah sampai di hadapan perempuan itu. “Siapa namamu?”   Hening...  “Apa kau tinggal di sini? Bersama keluargamu yang memiliki rumah di dekat stasiun bawah tanah sana?” tanya perempuan itu sambil mengeluarkan semirik.   “Bagaimana kau tahu?! Apa kau memata-mataiku?!” tuduh perempuan itu.   “Ah, tidak bagaimana bisa aku memata=mataimu. Aku hanya heran, bagaimana bisa keluargamu tak mengetahui statusmu? Kau siluman kucing sekaligus penyihir putih ‘kan, Peaches?” tebak perempuan yang memakai jubah itu. Ia menampilkan gigi taringnya yang mengilat, membuat lawan bicaranya mengumpat.   Sial sekali aku malam ini, bertemu dengan vampir lagi. “Apa yang kau inginkan?” tanya Peaches semakin waswas karena perempuan di hadapannya semakin mendekat. Ia mengacungkan pisau itu di leher sang perempuan.   “Tak ada, hanya—” Perkataannya terpotong saat dahan besar di kepala mereka tiba-tiba terjatuh. Untung saja perempuan itu dengan cepat membuang dahan itu ke tempat yang lebih luas.   Peaches  yang melihat itu semakin menganga. Ia tak sadar jika mereka sudah berada di tempat yang lain. Di sebuah hutan rimbun, di bawah pohon besar. “Ba—bagaimana, bagaimana kau bisa membawaku ke tempat ini? Kau bukan hanya sekadar vampir belaka!” pekik Peaches dan memundurkan tubuhnya.   Perempuan itu hanya tertawa. “Aku Lula Viviane, pengantin raja immortal. Raven Vilcentius.”   Ia semakin terbelalak, dan segera bersimpuh di hadapan Lady Lula.  “Maafkan aku, Lady. Aku tidak mengetahui dirimu.” Ia merutuki sikap bodohnya. Tadinya ia berniat untuk menghabisi perempuan ini jika berani macam-macam dengannya. Tapi bukannya mati, yang ada ia dulu yang akan meregang nyawa tanpa disentuh.   “Ah, tak apa. Aku hanya ingin menunjukkan eksistensi hanya padamu. Aku telah melihat bagaimana kau dilakukan tidak adil oleh keluargamu, dan aku sedikit kagum padamu bahwa kau tidak menggunakan ilmu sihir untuk mengecoh mereka.” Lady Lula membuang jubahnya dan hanya memakai gaun panjang berwarna hitam.   “Bagaimanapun mereka adalah keluargaku, walau mereka sering mengatakan kalau aku adalah anak yang aneh.” Peaches berdiri dan memasukkan belati itu ke dalam bajunya.   “Aku memberikanmu tantangan, jika kau berhasil mengalahkan mereka semua, kau bisa kembali ke dunia manusia dan bertemu dengan orang tuamu. Tapi, kalau tidak. Kau harus menjadi abdi pelayanku walau aku berinkarnasi berkali-kali pun,” tantang Lady Lula, dan menyuruh pasukan vampir untuk menyerang Peaches.   Tak elak untuk menghindar, perkataan itu membuat naluri dalam diri seorang penyihir bercampur siluman menjadi membara. Bukan karena ia akan menjadi abdi pelayan. Tapi di sinilah hidup dan matinya. Jika ia tak bisa melawan, maka ia akan mati secara sia-sia.  Dengan cepat kedua vampir itu mendekati Peaches, berlari dengan cepat hingga membuat dirinya sedikit kewalahan. Mereka berlari dari dahan satu dan dahan yang lain. Perempuan itu seperti debu, berjalan di udara dan mengecoh para pengisap darah.   “Takdirku bukan untuk mati hari ini, Sialan! Kau yang harus mati dan terbakarlah di neraka!” Peaches turun dari dahan dengan cepat dan menancapkan belati perak di tengkuk salah satu vampir yang sibuk mencarinya.    Membiarkan vampir itu teriak sampai tak bisa terdengar oleh telinga. Dan terakhir ia memisahkan kepala itu dari tubuhnya. Ia sengaja tidak mau membakar vampir karena ingin membuktikan bahwa ia bukan penyihir pecundang walau selama ini berbaur dengan manusia.   Setelah mengangkat satu kepala vampir yang tewas di tangannya, ia tak sadar bahwa satu vampir lagi sedang bersembunyi di balik semak yang rimbun. Memerhatikan gerak-geriknya. Dan ...   “Well ... well ... well! Aku tidak menyangka bahwa jiwa sang penyihir mampu mengalahkan vampir dengan kekuatan bukan hanya dengan obat dan ilmu sihir turun temurun.” Vampir yang berada di belakang Peaches mencengkeram leher perempuan itu hingga kuku-kukunya menancap di leher putih.  “b******k! Le—lepaskan aku!” Peaches menggeram.   “Kau sudah membunuh temanku. Maka biar aku yang membalas semua ini. Siapkan saja kata-kata terakhirmu, mungkin aku akan menyampaikan pesan pada keluargamu nanti.” Vampir itu menjilat leher Peaches dan menghidu aroma darah yang menyegarkan. “Hm ... aroma campuran darah penyihir, siluman dan juga manusia ternyata seenak ini.”   “Jangan pernah mengganggu keluargaku, Sialan!” teriaknya menggema, hingga membuat para penghuni hutan beterbangan. Peaches mengeluarkan hawa hitam, membuat siapa saja mungkin akan takut pada sosoknya sekarang.   “Kau mau memantraiku terhadap sihirmu? Oh itu tidak mungkin terjadi, Witch! Aku diciptakan untuk kebal terhadap serangan apa pun.”   Sial! Sekali lagi Peaches mengumpat. Matanya melirik Lady Lula yang hanya tersenyum menyeringai. Jadi benar jika wanita itu hanya menumbalkan dirinya sebagai makanan para pasukannya.   “Berhenti bermain-main, My Queen.” Perkataan itu dibarengi dengan angin besar, membuat Peaches menutup matanya takut jika ada debu yang masuk.   “Kau tidak seharusnya bermain-main dengan kaum lain.”   Tepat di hadapannya ada pria yang memakai jubah hitam. Dari auranya ia tahu bahwa pria ini bukan pria sembarangan. Seperti pemimpin besar, itu yang Peaches lihat dari sinar di tubuh pria itu.   “Lepaskan dia, Mogonda!” titahnya pada pria yang sedari tadi mencekik dirinya. “Sekarang!”   Perlahan pria itu melepaskan Peaches dan menyisakan berbagai luka di lehernya. Tapi pria di hadapannya langsung mengayunkan tangan dan sekejap luka itu hilang tanpa berbekas.   “Lord Raven?” tanya Peaches sedikit tak yakin. Tapi setelah melihat tanda di punggung pria itu ia jadi yakin, karena tidak akan pernah ada yang bisa menyerupai.   “My Queen, mari kita kembali ke istana dan jangan lupakan untuk hapus ingatan penyihir ini. Kau sudah terlalu lama untuk bermain-main dengan kaum mereka.” Lord Raven menyampirkan jubahnya dan mendekati sang pengantin dengan sekejap mata.   “Oh, tidak ... tidak, My Lord. Tolong jangan lakukan itu. My Lady, bawa aku ke istana dan jadikan aku sebagai abdi pelayanmu.” Peaches mendekati Lady Lula yang hanya menampilkan wajah datar.   “Tapi kau tidak diizinkan oleh My King. Dia tidak menyukaimu.” Lady Lula mengambil jubahnya. “Dan asal kau tahu, tadi hanyalah penawaran omong kosong.”   “Tidak! Untuk kali ini aku yang menyerahkan diri.” Peaches bersuara lagi.   Lord Raven memandangi dari atas dan bawah. “Kau yakin bisa melupakan keluargamu? Kau yakin tidak akan berkhianat pada istana? Kau yakin dengan itu semua? Jika kau melakukan hal itu apa yang akan kau lakukan?”   Peaches menelan ludahnya. “Aku bisa menjaga istana, dan tidak akan melakukan tindak menyeleweng. Aku menyerahkan diri seutuhnya padamu, My Lord!”   Lady Lula bertepuk tangan. “Kau sudah menjadi pelayanku, maka serahkan salah satu tanganmu.”   Peaches memberikan tangan kanannya. Dan merasakan kesakitan yang sangat saat Lady Lula menyairkan sesuatu kalimat hingga terbentuklah simbol kelelawar di bawah bulan purnama. “Tanda kau menjadi pelayan setiaku, Peaches Vanford.”   Saat itu Peaches tahu, ia menjadi pelayan para raja dan ratu kegelapan. Bukan karena perintah melainkan menyerahkan diri. Ia suka dengan dunianya immortal, tapi keluarganya tak ada yang paham akan hal itu. Setidaknya di istana ia bisa dengan leluasa belajar lebih banyak makhluk di muka bumi. Belajar dengan sumbernya langsung.   ***  Lady Lula mengelus cincin ruby miliknya. Merasakan sengatan listrik yang terpancar dari perhiasan mewah itu.   “Bagaimana jika aku menghancurkan ini, Peaches? Apakah semua masih akan tergantung padaku dan menjadikan bumi sebagai ajang pertempuran?” tanyanya.   Peaches menggeleng keras. “Anda tidak perlu melakukan itu, Lady. Itu sangat dilarang. Lord Raven bahkan bisa menghukum Anda jika melakukan hal kejam seperti itu. Itu adalah batu keseimbangan dunia. Tak akan pernah bisa kembali jika sudah hancur. Anda diberikan kuasa oleh Moongoddes karena Anda pantas mendapatkannya.”   Lady Lula membuang gelas yang berisi cairannya. “Aku muak dengan semua ini! Karena aku seorang vampir aku tidak memiliki keturunan dan selalu diejek oleh bangsa manusia rendahan itu! Asal kau tahu, aku bisa saja dengan mudah melakukan itu semua. Meminta ini semua pada Moongoddes. Tapi apa?! Ia tak pernah mengabulkannya!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN