CHAPTER 7 : Now, Everything Feels Different

1956 Kata
“Oh, hai. Aku tidak menyangka kalo kita kan bertemu lagi.” Dayton mendekati Rula yang sedang memainkan ponsel saat sedang menunggu bus datang. “Apa kau baru saja pulang dari bekerja?”   Rula terperanjat dan segera memasukkan ponselnya dalam tas. Padahal jika saja tadi ia tak ada yang mengganggu, bisa dipastikan kalau game yang sedang ia mainkan tadi akan mendapatkan santapan dari ular yang menabrak ular lainnya.   “Oh hai, kau Dayton ‘kan?” Ia merasa samar-samar saat melihat pria berambut setengkuk ini. Apalagi dengan tato yang berada di sekujur lengan tangannya. Itu sangat tahu persisi pria ini. “Dan ya ... aku baru saja pulang dari rutinitasku.”   “Di mana kau bekerja?” Dayton duduk di bangku halte.  “Di sana, tepatnya beberapa blok dari gang itu. Kau bisa melihat gedung yang menjulang tinggi itu? Nah, di sanalah tempatnya.” Rula menunjuk gedung berlapis kaca yang cukup tinggi daripada perusahaan di sekitar sini.   “Kau bekerja di sana? Oh, bagus sekali. Aku kira akan susah jika orang-orang untuk melamar pekerjaan di sana.” Dayton menatap Rula dengan sungguh-sungguh, membuat perempuan itu sedikit agak canggung.   “Ng, apa yang kau lakukan di sini, Dayton?”   “Aku? Ah, tidak. Hanya jalan-jalan sore saja dan gotcha aku menemukan perempuan cantik yang sedang sendirian di sini sambil menikmati udara yang dingin.”   Bibir Dayton memang manis sekali, bahkan mampu membuat siapa saja takjub dengan cara bicaranya. Pria itu, ini padahal baru kali kedua mereka bertemu tapi dia sudah mendapatkan godaan yang cukup besar.   “Dayton, asal kau tahu. Kau itu seperti perayu ulung yang selalu menggoda gadis-gadis di pinggir jalan.” Rula memutar bola matanya.   Dayton terkekeh hingga matanya menyipit dengan sempurna. “Oke ... oke. Aku hanya sedang bertemu dengan seseorang yang aku jaga. Dan ternyata dia baik-baik saja.” dayton menyandarkan tubuhnya di kursi.   “Kau sedang menjaga anak kecil atau seorang lansia? Kenapa kau tidak membawanya saja daripada kau harus mondar-mandir untuk memantaunya?” Rula merasa heran.   “Tidak, aku tidak bisa mendekatinya. Akan ada hubungan yang kacau jika aku melakukannya sekarang. Banyak yang tidak suka terhadapku.” Dayton menyemirikkan bibirnya. Tapi matanya menatap sebuah bangunan tua yang terletak di ujung sana.   “Dia seorang wanita? Apakah kekasihmu?!” pekik Rula.   Dayton hanya diam saja. Dan langsung menarik perempuan itu untuk berjalan-jalan. “Ya, dia seorang wanita. Tapi wanita tua. Ah, tidak terlalu tua tapi dia adalah wanita yang paling berharga.”   “Kau akan membawaku ke mana? Tunggu dulu, aku akan ketinggalan bus jika pergi sekarang!” Rula mencoba melepaskan cekalan tangan Dayton tapi tidak jua berhasil. Mau tak mau ia mengikuti ke mana pun pria itu pergi. “Please, beri tahu aku ke mana kau akan menculikku, Dayton!”  “Aku tidak menculikmu, tentu saja tidak akan, Rula.” Dayton mengajak Rula untuk menaiki mobilnya yang sudah terparkir tak jauh dari mereka berada. “Kita akan bersenang-senang. Aku tahu kau sangat bosan di rumah dan hanya berteman dengan televisimu saja, ‘kan? Setidaknya aku akan memulangkanmu sebelum jam dua belas malam.”   “Dayton, apa kau bercanda. Kau akan membawaku ke mana? Jelaskan aku terlebih dahulu maka aku akan menuruti apa inginmu!” Rula masih saja tidak mengerti. Dayton orang asing dan tidak seharusnya mengajaknya ke suatu tempat. Ia malah takut akan dibawa ke tempat macam-macam, terlebih menjadi korban perdagangan manusia yang sedang marak terjadi.   “Tenang saja, aku akan membawamu bersama teman-temanku. Mereka semua sedang melakukan camping malam ini. Dan kau tahu, aku paling tidak suka diejek mereka karena tidak memiliki pasangan.” Dayton menaik-turunkan alisnya seakan menggoda perempuan itu yang padahal tak tergoda sama sekali.   “ASTAGA! Apa kau gila! Kau bisa mengajakku jauh-jauh hari. Aku masih berpakaian kantor dan kau membawaku untuk camping? Yang benar saja, Tuan Lecter!” Sungut Rula. Ia juga memerhatikan jalan yang sudah jarang sekali ada bangunan di sisi kanan-kirinya.   “Aku sudah menyediakan semuanya. Baju untukmu sudah ada di bagasi, Princess.” Dayton membelokkan mobilnya ke arah hutan lebat yang berada di sebelah kiri.  “Kau membawaku memasuki kawasan hutan Aleshkinsky?” Keningnya berkerut dalam.   Ia baru kali ini ke sini. Ke hutan lebat  yang berada di antara Kurkino dan Tushino Utara, Moskow. Konon, ada legenda yang mengatakan ada seorang rahib hitam yang tinggal di hutan ini, dan sering muncul untuk mengingatkan para wisatawan yang sedang dalam masalah besar. Dan dia juga dipercaya sebagai penjaga hutan di sini.   Tapi entahlah, Rula juga tak begitu paham. Ia hanya mendengar dongeng dari mulut ke mulut. Jika itu benar, tak mungkin tempat ini boleh dimasuki oleh masyarakat umum apalagi untuk study wisata anak sekolah.   “Apa kau sering kemari, Daton?” tanya Rula saat melihat Dayton yang sudah sangat familier dengan jalan yang dilalui. Apalagi pria itu menyingkirkan segala macam penghalang di jalan.   “Ya, aku selalu berkumpul di sini bersama teman-temanku. Kami bahkan sering mandi di sungai Bratovka. Kami juga bahkan senang berburu hingga mengenal waktu.”   Rula memasukkan kedua tangannya pada saku mantel hangat. Ya, ia sudah mengganti bajunya tadi. “Apa kau tak takut dengan rumor-rumor yang beredar? Bukankah hutan ini sangat menyeramkan?”   Dayton terkekeh. “Tak ada yang lebih menyeramkan daripada kau tak bisa menjelajahi bumi ini, Rula. Percayalah, hutan di dalam sana jauh lebih cantik daripada bangunan tinggi yang bahkan kapan saja bisa runtuh.”   “Apakah itu teman-temanmu?” tanya Rula saat melihat kepulan asap yang menjulang menuju langit.   “Ya, itu mereka. Kita sudah hampir sampai.” Dayton menggenggam tangan Rula untuk melewati jalan setapak. Ia juga bisa mendengar aliran sungai yang semakin lama semakin besar. Bisa dipastikan bahwa mereka berkemah dekat dengan sumber air   “Hai, Guys!” teriak Dayton.   Di sana sudah ada sedikitnya lima orang. Dengan dua wanita dan tiga orang pria. Oh ralat, ada satu orang lagi wanita yang baru saja naik dari sungai dan mengambil air di ember.   “Dayton, aku kira kau akan lama. Dan apakah ini wanita yang selalu kau bicarakan?” tanya seorang pria berkepala plontos. Tapi ia tidak seram seperti aktor televisi kebanyakan. Bahkan  mukanya cenderung imut dengan otot yang lumayan liat menghiasi lengannya.   Yang selalu Dayton bicarakan? Apakah Dayton memberitahu pada teman-temannya persoalan ia bertemu denganku di kafe beberapa hari yang lalu?   “Aku Roney, dan aku pastikan kau adalah Rula Viviane. Namamu manis seperti gula,” ucap pria berkepala plontos itu.   “Aku Dave.” Sekarang pria yang lebih tinggi dari pada yang lain.   “Aku Gween. Aku tak menyangka kau akhirnya mau berteman dengan pria menyedihkan ini Rula.”  Sekarang wanita berambut pirang.  “Aku Linzy,” ucap wanita yang membawa baskom di tangan kanannya. Ingat juga jika ia yang memakai kacamata.   “Kenalkan aku adalah Niocarld. Kau bisa memanggilku dengan Nio atau Carld.” Pria yang memiliki kulit eksotis dan rambut panjang di bagian belakangnya.   “Dan aku adalah Yin. Ya, kau lihat tadi, aku baru saja mengambil air di sungai itu.” Yin, ia wanita keturunan Asia. Tak susah membedakannya dan juga ia sepertinya memiliki wajah yang sangat ramah.   “Aku Rula Viviane, kalian bisa memanggilku dengan sebutan Rula pakai R,” ucap Rula. Namun, hal itu malah membuat semuanya saling berpandangan bahkan Gween menggaruk tengkuknya.    Setelah ada yang merasakan kekeliruan di sini, Dayton langsung mencairkan suasana. “Rula, kau di sini tak akan pernah kehabisan stok makanan. Kami akan selalu menyediakannya untukmu. Apalagi Dave, ia pintar sekali berburu.” Dayton membalik daging yang berada di atas panggangan.   “Apa kalian sering berkemah seperti ini?” tanya Rula pada para wanita yang ada di sana.   “Ya, kami sering melakukannya di sini. Ini sangat menyenangkan, apalagi kau bisa berbau bersama alam.” Gween menyahut dan langsung diberikan anggukan pada Linzy dan juga Yin.   “Apa kau sudah lama mengenal Dayton, Rula?’ tanya Yin.   “Ah, tidak. Aku bertemunya saat di kafe beberapa hari yang lalu. Awalnya aku sedikit takut karena ia membawaku ke tempat seperti ini. Ya, bagaimanapun juga ini adalah pertemuan kedua kami.” Rula tersenyum datar dan memerhatikan Dayton yang juga mencuri-curi pandang ke arah dirinya.   “Apakah di sini kalian tidak merasa seram?” tanya Rula lagi. Tidak ada salahnya berbaur bersama mereka.   “Seram karena apa?” sahut Linzy.  “Bukankah hutan ini jika malam sangat menyeramkan? Hanya diterangi bulan dan juga terdapat binatang buas yang berkeliaran.   Gween terbatuk.   “Tak ada hewan buas di sini, Rula. Semua sudah di atur. Dan mereka tidak bisa masuk wilayah teritorial milik seseorang.” Yin menjelaskan.   Namun, itu tidak bisa ditangkap oleh pikiran Rula. “Teritorial? Apakah ini sudah milik seseorang?”   “Sangat sulit menjelaskan. Intinya adalah tak akan pernah ada makhluk buas di tempat yang kita singgahi.” Linzy menata semua makanan yang sudah siap.   Rula hanya mengangguk. Yang ia tangkap adalah, mungkin saja memang ada perjanjian antara pemilik wilayah hutan bagian yang saat ini mereka singgahi dan wilayah hutan lainnya. Tapi, hal itu malah membuat Rula semakin berpikir. Bukankah itu sama saja, jika mitos yang melegenda itu menjadi kenyataan? Sang rahib hitam adalah penjaga di sini sekaligus yang membagikan wilayah pada masyarakat sekitar.     **    Rula terbahak-bahak saat melihat lelucon yang sedang dilakoni oleh Dave dan juga Roney. Mereka berdua lagaknya pasangan suami istri yang sedang bertengkar dan saling mengumpat. Apalagi Roney yang memakai rok yang terbuat dari kain dan dililit di pinggangnya. Sangat menggelitik.   Dayton yang sedari tadi hanya memandangi Rula akhirnya mendekati tempat duduk perempuan itu. “Apa kau senang di sini? Bergabung bersama mereka semua?” tanyanya.   “Ya, aku senang. Apalagi teman-temanmu memiliki selera humor yang sangat tinggi.” rula tertawa hingga air matanya menetes. “Jika mereka menjadi aktor, aku pastikan setiap tahunnya mereka akan mendapatkan penghargaan dari stasiun televisi.”  Dayton bersyukur. Rula tak kecewa dengan semua ini. “Apa kau ingin berjalan-jalan sebentar sambil menikmati sinar rembulan?”   Rula tentu saja mau Ia mengambil tangan Dayton dan sedikit menjauh dari mereka semua. “Selama aku hidup aku tidak pernah memiliki teman yang sebegitu gilanya.”  “Ya, mereka memang gila.”   “Bukan. Bukan gila sebenarnya yang kumaksudkan. Tapi gila dalam artian sangat bersahabat dan juga penghibur.” Rula menyanggah.   “Ya, aku tahu.”   Rula melepas sandalnya dan menikmati air sungai yang mengalir di kakinya. Sangat jernih dan juga menyegarkan. Pantulan cahaya bulan pun bisa menerangi gelapnya hutan.   “Rula,” panggil Dayton saat ia sudah duduk di samping Rula. “Aku tidak menyangka kau akan menerimaku dan bersikap lebih percaya padaku.”   “Sebenarnya bukan karena aku percaya atau tidak. Tapi melihat dari kesungguhan matamu, aku yakin kau tak akan mampu membohongiku.” Rula memainkan kakinya.   “Kau bisa melihat sikap orang dari matanya?” tanya Dayton.   “Entah, aku tidak tahu. Tapi selama ini aku selalu melihat sifat dari mata seseorang dan aku tahu jika ia baik atau jahat. Itu seperti terbaca saat aku memandanginya lekat-lekat.” Rula menatap Dayton. “Dan kau sulit terbaca. Ah, tidak ... hanya ada kejujuran dan ketulusan di matamu, Dayton. Tapi, sedikit manipulasi.”   Rula terkekeh. Ia juga menyiram badan Dayton dengan air sungai.   Dayton pun seperti itu, ia menyiram wajah Rula dengan air sungai yang dingin. Tapi dalam beberapa detik kemudian, b****g Rula sedikit tergelincir. Dan untung saja Dayton langsung cepat tanggap. Kalau tidak, bisa dipastikan perempuan itu akan basah kuyup.   Tatapan keduanya beradu, manik mata emas Rula bertaut pada manik mata cokelat milik Dayton. Diterangi bulan purnama yang makin lama makin menghilang karena tertutup awan hitam. Mereka tak sadar jika hujan sudah mulai membasahi bumi.   Rula demikian, wajahnya semakin lama semakin mendekat. Membuat Dayton juga semakin berani beraksi. Padahal sudah jelas ada peringatan antara keduanya. Namun tak juga dielakkan.   Hingga pada akhirnya, hujan semakin deras dan suara guntur yang memekakkan telinga mulai muncul bersahut-sahutan. Satu pohon tumbang karena tersambar petir. Akhirnya mereka tahu, bahwa alam belum merestui kisah mereka selanjutnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN