CHAPTER 8 : Then, I'm Lost!

2080 Kata
Suasana istana saat ini semakin mencekam. Murka Raven semakin menjadi saat Lady Lula masih saja membantah perkataannya. Semua pelayan bahkan tidak berani mendekat karena sang raja dan ratu pada menarik uratnya masing-masing. Sang pengantin pria tak mau mengalah, maka Lady Lula membuat semua dinding yang berlapis kaca hancur sudah karena amukannya.   Angin semakin menusuk kulit dan membuat dedaunan serta debu-debu memasuki setiap celah di ruangan istana.   “Apa kau tidak lihat, alam pun murka dengan perbuatanmu, My Queen!” Raven ikut murka. Matanya sudah memerah dan gigi taringnya pun memanjang dengan sempurna. Ia menyentak bahu Lady Lula dengan sangat kuat membuat bahu seputih porselen itu retak dan menyisakan warna kehitaman.   “Apa yang aku pertanggung jawabkan depan Moongoddes jika kau saja tidak bisa mendengar kata-kataku?! Kau bukan hanya bisa menghancurkan istana ini melainkan makhluk immortal di pelosok bumi, Lula Viviane!”   Ia mengangkat tubuh itu dan membawanya ke sudut istana, mencengkeram leher sang wanita tanpa peduli semua orang yang melihat pertengkaran tersebut. “Bagaimana jika aku tidak bisa menjaga keseimbangan dunia? Bagaimana jika aku tidak bisa membuat alam ini menjadi damai seperti sebelumnya?”   “My King, kau tak boleh bodoh! Moongoddes menitipkanmu batu keramat itu pasti ada tujuannya dan sekarang kau masih memiliki salah satu batunya. Batu Ruby yang aku hancurkan tadi tak akan pernah menghasilkan apa-apa. Itu hanya sebuah batu!” Rula mendorong Raven dan mencoba menghindar menaiki anak tangga.   “Fancy Vivid Blue masih kau pegang dan kau simpan. Lantas, apa yang kau khawatirkan sekarang?!” tantang Lady Lula dengan senyum yang menyemirik.   “Dan kau menghancurkan batu merahmu hanya untuk sebuah keinginan yang sangat tidak masuk akal?!” Raven kembali mendekati sang pengantin dan mencoba menariknya. Tapi sayang, Lady Lula bisa dengan mudah melepas cengkeramannya. Ia melayang dari sana kemari hanya untuk menghindari sang suami.   “Keinginan yang tidak masuk akal katamu?! Apa kau kira aku hidup bertahun-tahun tidak dilanda kebosanan? Apa kau kira aku mau hidup abadi tanpa adanya keturunan? Kau tahu kalau aku sering sekali diejek oleh manusia-manusia rendahan di luaran sana! Mereka mengejekku jika aku adalah perempuan mandul!” Sekali lagi kaca lemari kaca itu pecah karena amukan Lady Lula. Ia sudah tidak bisa terkontrol lagi.  “Hanya ada dua opsi. Aku yang akan berselingkuh dengan seorang manusia atau meminum serpihan batu ruby ini.” Lady Lula menunjukkan botol kecil yang berkilau memerah itu. Batu yang berisi serbuk dari batu ruby keramat pemberian Moongoddes.   “Tidak akan!” bantah Raven telak.   Lady Lula semakin menyeringai. Ia tahu bahwa Raven tidak akan pernah mau bahwa dirinya disentuh oleh pria mana pun. “Aku tahu kau pasti berkata tidak, My King. Kau tahu inginku dan tidak akan pernah ada yang bisa menghalangi niatku sedari dulu.”   Raven menggeleng. “Kau tahu konsekuensinya? Kau mungkin saja tidak bisa hidup lagi bahkan terlahir kembali ke dunia ini, Rula!”   “Aku akan lahir kembali dan akan menemuimu saat menjadi manusia seperti sebelumnya, My King.” Lady Lula memundurkan langkahnya.   “Moongoddes tak akan pernah memaafkanmu!” Raven semakin frustrasi, ia tak tahu lagi bagaimana cara menghancurkan niat dari pengantinnya. Tapi, ia melihat ada satu lemari besar di sana, lemari yang terbuat dari kayu. Mungkin saja dengan itu ia bisa mencegah Lady Lula dan mengambil kembali batu itu ke tangannya kembali.   Dan detik itu juga, saat dilanda kekesalan dan juga kekhawatiran yang penuh. Raven membuat Lady Lula tertimpa benda berat itu hingga membuat lemari kayu hancur berkeping-keping.   Semua orang terpekik dengan perbuatan sang raja. Tak menyangka bahwa Raven sebegitu nekatnya untuk mencelakai Lady Lula hanya untuk membuat dunia tidak hancur seketika.   Saat dirasa tidak ada pergerakan, Raven berani mendekati perempuan itu. Ia tahu bahwa pengantinnya tak akan mati walau tertimpa benda berat itu.   “My Queen.”   Tak ada sahutan di sana, Raven memindahkan serpihan kayu itu di tempat yang lebih lapang dan membuat tubuh sang wanita akhirnya terlihat juga. “Aku tahu kau hanya berpura-pura. Jangan pernah mengulanginya lagi dan meminta maaflah padaku, My Queen.”   Masih tetap juga tak ada pergerakan. Dan akhirnya Raven terduduk sambil mengambil kepala Lady Lula. Terlihat senyum menyeringai dan mata yang memerah saat menatap balik Raven. Raven tersadar bahwa ini pertanda tidak baik.   “Aku menang, My King!”   Dan di saat itulah Raven mendengar jeritan pilu yang Lady Lula keluarkan. Jeritan yang membuat siapa saja terisak mendengarnya. Ia sampai kehilangan akal saat tubuh wanita yang terbalut gaun berwarna putih tulang perlahan berubah menjadi abu. Menyisakan Raven yang masih mematung dengan baju di dekapnya. Ia ditinggalkan.   Lady Lula Viviane menang, ia menang bersama dengan keegoisannya. Membuat Raven harus berjuang sendiri dan bertanggung jawab pada Moongoddes tentang apa yang sudah Lady Lula lakukan. Dan ia sangat meyakini, semua makhluk immortal akan semakin menggila mulai sekarang.  Terakhir yang ia lihat, botol kaca yang tadi dipegang Lady Lula menggelinding ke arahnya. Botol yang menjadi saksi kesakitan dirinya dan para pelayan yang melihat.     **  “Apa yang ingin Anda lakukan dengan gaun mendiang sang Lady, My Lord?” tanya Colton saat mendapati Raven yang hendak memasuki kamar dengan membawa gaun putih tulang.  “Siapkan peti mati di kamarku berwarna merah. Dan pastikan pelayan yang ada di sini tidak membuka suara sampai makhluk immortal mengetahui dengan sendirinya!” titahnya.   Sangat disayangkan. Ia tidak bisa menekan segala ketamakan yang ada dalam diri Lula. Andai saja Lady Lula bisa bersabar, mungkin mereka akan diberikan takdir yang berbeda dan bukan dengan cara seperti ini.   Jika Raven adalah manusia biasa, mungkin bisa dipastikan saat ini ia sudah mengeluarkan air mata darah karena ditinggalkan seseorang yang paling berharga di dunia ini. Seseorang yang sudah lama menjadi belahan jiwanya. Menjadi kekasih sekaligus pelipur lara di saat ia sendirian.   “My Queen, keegoisan membuatmu sampai mati dan meninggalkan luka mendalam di hati seluruh makhluk immortal.” Raven memandangi lukisan di kamarnya. Lukisan besar tergambar mereka berdua. “Dan terimalah balasanmu nanti. Kau akan menjadi manusia paling menyedihkan jika terlahir kembali! Jangan pernah mengeluh karena di zaman terdahulu kau sudah menyakiti banyak orang. Membuat kecaman buruk bagi makhluk lainnya yang memegang teguh pada keyakinanmu!”  Raven memasukkan gaun putih ke dalam peti yang sudah disiapkan oleh Colton dan pelayan lain. Tak lupa ia juga memasukkan botol kaca yang masih menyisakan bubuk batu di sana. Biarkan kenangan sang Lady terkubur dalam peti sampai pada waktu yang sudah ditentukan.   Ia belum bisa berbuat banyak, terkecuali merenungi nasib yang sudah menimpa dirinya secara bertubi-tubi.     ***    “Sampai kapan Anda akan terus seperti ini, My Lord?” tanya Colton. Sudah berbulan-bulan tiba. Dan bahkan sudah banyak makhluk immortal yang datang seliweran di istana hanya untuk memastikan apa pun yang terjadi.   Biasanya, mereka berdua akan selalu terlihat di hutan dan berjalan-jalan di berbagai sudut hanya untuk melihat para kaum lain yang mungkin saja membutuhkan bantuan. Para rakyat di dekat istana khususnya kaum vampir bahkan sudah tidak bisa lagi merasakan eksistensi daripada sang raja dan juga  ratu.   “Mereka sudah mengetahui apa yang sudah terjadi dan mereka sering berdemo di depan istana untuk meminta kejelasan dan nasib mereka, My Lord. Banyak dari mereka yang sudah meragukan kemampuan Anda untuk menjadi sang penguasa kegelapan apalagi menyandang status Raja Immortal.” Colton bicara seadanya.   “Anda pasti tahu bahwa vampir dan werewolf pasti akan senang dengan berita ini dan mereka akan ada melakukan pertarungan besar-besaran jika Anda belum juga menampakkan diri. Anda masih memiliki satu batu, dan itu bisa membuat mereka semua bungkam. Mereka mengira bahwa semua batu keramat sudah menghilang karena sang Lady,” lanjut Colton.   Raven hanya menatap kosong hutan yang berada di balkon kamarnya. Dia membiarkan Colton berbicara apa pun, ia sangat tidak peduli lagi.   “Lady Lula sudah menjadi kecaman buruk bagi para makhluk, jangan sampai nama Anda juga tercoreng. Kami semua tahu bahwa ini berada di luar kendali Anda.” Colton mendekati sang raja dan memberikan gelas emas berisi cairan merah di atas meja. “Kelemahan Anda akan menjadi tombak emas bagi para werewolf dan tetua.”  Ya, Raven sangat tahu. Para makhluk immortal sudah sangat menyanjung batu yang diberikan Moongoddes melalui Raven dan juga Lula. Dan mereka sekarang mengecewakan semuanya.   “Biarkan saja apa yang diinginkan oleh mereka, aku tidak peduli. Moongoddes juga sudah menghukumku, Colton,” lirih Raven. Ia pun membuka cincin berwarna biru yang tersemat di jemarinya dan menaruhnya di atas meja.   “Moongoddes mengutukku agar tidak mendapatkan sang Lady. Dia tidak bisa lahir kembali, Colton.” Raven pergi dari hadapan Colton, ia tak peduli jika jubahnya membuat cairan merah itu tercecer di lantai.   “My Lord, tapi Anda bisa menyelesaikan semuanya, membuat para kaum percaya kembali pada Anda. Anda sang pemegang kendali, jangan buat dunia semakin hancur karena huru-hara keegoisan para pemimpin yang lain.” peringat Colton. Ia tak mau sang raja menyerah begitu saja, ada banyak beban yang harus diselesaikan.   Seharusnya Lord Raven menyelesaikan semua permasalahan yang dibuat oleh sang pengantin, malah bukan mencuci tangan dan bersikap seperti pengecut.   “Kau boleh memanggilku pengecut, Colton. Tapi ingat aku masih pimpinanmu dan ... masih ada satu urusan yang harus aku kerjakan!” peringat Raven sebelum terbang dan menembus gelapnya hutan lebat.     *  “Dasar kau pemimpin tak tahu malu! Kau seharusnya sudah ke alam baka bersama pengantinmu yang tidak memiliki hati bersih!”   “Kredibilitasmu sudah tidak ada lagi, Lord Raven!”  “Kau menghilang saja dari muka bumi ini karena tidak bisa menjaga keseimbangan dunia. Kau perusak, bukan pemimpin!”  “Kau sangat pecundang!”   “Jadilah penghuni neraka bersama Lady Lula. Jangan pernah menampakkan wajah menyedihkanmu di depan kami!”   “Kau sudah dikutuk, Vampir Sialan!”   Berbagai u*****n serta cercaan membuat gigi Raven bergemeletuk. Ia tadi tak sadar sudah berada di kawasan dekat dengan banyaknya penduduk. Padahal jika biasanya para kaum immortal setiap melihatnya pasti akan menurunkan pandangan dan memberikan hormat, tapi sekarang tidak. Ia seperti sudah tidak ada artinya lagi. Sang raja sudah menjadi pengecut.   “Jangan pernah mengataiku dan melakukan penghinaan terhadapku. Aku tahu bahwa sang Lady sudah salah karena melakukan hal yang tidak lazim dan membuat kalian semua khawatir. Aku tidak menampik hal itu,” ucap Raven lantang. “Dia menjadi abu dan terbang bersama angin karena sudah memakan batu keramat yang dititipkan oleh Moongoddes.”   Semua orang berbisik-bisik dan semakin mendengus saat Raven berbicara.   “Lalu apalagi maumu sekarang? Kau sudah bukan wakil dari Moongoddes, kami akan lebih percaya pada pimpinan kaum kami masing-masing. Dan Anda jangan pernah ikut campur masalah itu. Biarkan kami berada di jalan masing-masing dengan bangsa kami!”   Inilah yang Raven takutkan, mereka semua akan terpecah belah dan saling menyakiti satu sama lain nantinya.   “Jangan pernah melakukan hal itu!” teriaknya. Hal yang membuat pohon-pohon bergoyang dengan sangat kuatnya.   Diujung sana ada beberapa tetua dengan janggut panjang dan berbagai para pimpinan.   “Lord Raven.” Pria berjanggut tebal itu langsung mendekati Raven dan memeluknya. “Saya turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Anda beberapa bulan yang lalu.”   Raven terdiam dan masih memerhatikan sekelilingnya. Ada beberapa pimpinan pack dari werewolf, vampir, kurcaci bahkan ada penyihir hitam dan juga putih. “Ada apa Aragons?”   “Sebenarnya sangat tidak etis jika kami mengatakannya di sini. Tapi kami sudah mengunjungi Anda dan hasilnya nihil. Dan sekarang di depan para rakyat dan juga para pimpinan makhluk immortal. Kami semua sudah sepakat tidak lagi berada di bawah naunganmu. Kami akan membentuk wilayah kami sendiri dengan sistem yang ada.” Aragons berbicara dan langsung diangguki oleh yang lainnya.   “Kami telah kecewa dengan apa pun yang terjadi dan itu adalah pukulan telak untuk seluruh kaum  immortal. Biarkan kami menjalani kehidupan kami masing-masing, My Lord,” lanjutnya.   “Jangan. Tetaplah bersatu!” bantah Raven. “Kalian semua akan melakukan kerusakan di bumi bahkan bisa saja membunuh satu sama lain jika berpisah. Percaya dengan kata-kataku. Aku bahkan bisa membaca pikiran busukmu, Aragons!”   Aragons berhenti tersenyum dan menatap Raven dengan wajah yang muak. “Jangan pernah mengatakan hal itu padaku, Raven!”   “Kalian semua akan tahu siapa musuh yang sebenarnya. ” Raven menatap semua orang satu persatu. “Aku memang kehilangan sang Lady begitu juga kepercayaan kalian. Tapi aku ingatkan sekali lagi, tak akan pernah damai jika ada keburukan di hatimu untuk menguasai dunia ini! Moongoddes memang mengutukku sekarang, tapi ia juga yang mampu mengubah takdirku secepat kilat.”   “Dan dari sini, aku bisa melihat siapa yang paling setia bersamaku dan tak termakan bujuk rayu sang provokator!” Raven pergi meninggalkan mereka semua. Membuat semuanya semakin menggeram, mereka tahu bahwa Lord Raven bisa melihat masa depan dan mereka tak menampik akan hal itu. Dan pria itu sudah memberikan ultimatum di masa mendatang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN