Serigala hitam dengan taring yang panjang itu memasuki bangunan tua yang tidak pernah terpakai. Bangunan yang berada di tengah hutan rimbun di sudut kota Moskow. Ia tahu sudah ditunggu oleh seseorang di sana. Seseorang yang pasti akan memberikan sesuatu yang tidak sama sekali membuatnya terkejut.
“Apa yang kau inginkan?” ucapnya saat sudah mengubah diri menjadi pria tampan dengan tato liat. Dan jangan lupakan tato di d**a kanannya hingga pergelangan tangan.
Sedangkan kucing putih yang berada di hadapannya juga ikut mengubah diri menjadi wanita cantik dengan rambut yang berwarna cokelat tua.
“Aku? Apa aku tak salah dengar?” ucap perempuan itu.
“Sudahlah Peaches. Katakan saja apa maumu hingga mengundangku ke sini.” Pria itu melipat tangannya di d**a dan menyandarkan tubuhnya di tiang bangunan. Ia melihat perempuan yang memandanginya dengan mengejek dan merendahkan.
“Jauhi Lady Rula!” ucap Peaches telak.
Sedangkan pria itu malah tertawa terbahak-bahak. “Apa aku tidak salah dengar? Katanya sambil mengulangi perkataan perempuan itu tadi. “Kau menyuruhku menjauhi perempuan itu? Yang benar saja!”
“Kukatakan sekali lagi untuk jauhi Lady Rula, Dayton Lecter! Kau sudah melanggar peraturan yang ada!” Peaches yang berjalan dengan cepat ke arah Dayton langsung mencengkeram leher pria itu. “Kau tidak boleh menampakkan dirimu di hadapan sang Lady!”
“Bullshit! Dia bukan Lady Lula Viviane! Dia Rula Vivian. Kau seharusnya buka mata dengan sangat lebar, kalau perempuan itu berbeda dengan sang Lady yang tidak memiliki hati dan juga penuh dengan kedengkian. Lady terkutuk yang mampu membuat sengsara para makhluk immortal!” teriak Dayton.
Tentu saja hal itu membuat Peaches melayangkan tangannya ke pipi laki-laki itu. “Jaga ucapanmu! Dia adalah Lady yang telah lama kita nantikan. Kau tidak bisa mengelak!”
Dayton murka. Sekarang berbanding terbalik, ia malah mencengkeram leher perempuan itu dengan sekuat tenaga. Tak mengindahkan jika sang lawan bicara adalah seorang perempuan sekalipun. “Jangan pernah melakukan hal kasar padaku, Siluman! Aku bisa saja mematahkan tulangmu hingga kau tak bisa bergerak sedikit pun!”
Muka Dayton memerah. Memang banar, jika sudah menyangkut dengan keluarga istana akan sangat sulit seperti ini. “Aku tak tahu kapan kau tiba dan menemukan Rula. Tapi aku melihat dari sorot matamu pasti kau sudah mulai disuruh oleh seseorang untuk mencari keberadaannya, ya ‘kan?”
Peaches mencoba melepaskan pitingan Raven dari lehernya. “Bodoh! Lord Raven sudah bangun dari tidurnya, dan kau tidak bisa lagi leluasa untuk memata-matai, Werewolf!”
Hal yang membuat Dayton tercengang. Raven sudah bangkit dari tidurnya? Berarti tak lama lagi ia tidak akan seleluasa ini. Akankah ia harus melakukan hal gila agar Peaches tidak memberitahukan istana tentang keberadaan Rula?
“Kau dan ayahmu sudah berkhianat, Dayton! Kau harusnya dihukum karena ulahmu yang menyabotase keadaan sang Lady!” geram Peaches. “Apa kau pikir istana tak tahu bahwa kau telah mengetahui keadaan Lady saat ia masih belia? Dan kau sendiri yang membuatnya semakin jauh dari kawasan Lord Raven!”
Dayton menaikkan bibirnya ke atas. “Apa maksudmu, aku tidak mengerti.”
“Berhenti bersikap bodoh di hadapanku. Kau mengetahui sang Lady sejak lama sebelum kami semua mengetahui jika Lady sudah berinkarnasi. Kau menutupinya selama bertahun-tahun dan ayahmu juga menyetujuinya. Kita lihat saja bagaimana jika Lord Raven menghukum ayah dan juga kau, Dayton!” Peaches mendorong Dayton yang sedikit lengah.
“Hukum saja ayahku yang berada di alam baka, Peaches,” ejek Dayton. “Tapi aku tidak akan membiarkan Rula berada di tangan yang salah. Dan sebentar lagi aku akan membuangmu dari hadapannya. Dasar siluman kucing tidak tahu diri!”
Peaches murka, ia dengan segera mengucapkan mantra agar Dayton lumpuh seketika. Tapi Dayton yang tahu akan perbuatan Peaches langsung melempar batu yang berada di sampingnya ke arah perempuan itu. Membuat Peaches kehilangan konsentrasinya.
“Katakan pada pimpinanmu untuk teruslah bermimpi memiliki Rula. Dia bukan sang Lady, melainkan anak yang ditinggalkan di depan panti asuhan sejak kecil. Dan aku akan memperjuangkan Rula agar tidak berada dalam titik kesengsaraan yang kalian buat!” Dayton berubah menjadi serigala lagi. Meninggalkan Peaches yang terdiam dengan keterkejutannya.
Luar biasa memang. Awalnya ayah dari Dayton adalah salah satu pelayan yang ditugaskan oleh istana untuk memata-matai setiap bayi yang lahir di dunia ini pada bulan purnama merah. Tapi, tetap saja belum ada yang berhasil menemukan sang bayi yang dimaksud.
Sampai pada ketika sang pelayan bernama Marco tidak pernah lagi mengunjungi istana dan memberikan laporan. Hal yang membuat Lord Raven dan juga Colton semakin gelisah. Tapi, tak hanya itu, mereka akhirnya mengerahkan seluruh para pesuruh untuk mengecek kembali kelahiran para bayi di belahan dunia.
“Dayton Lecter, aku ingin lihat sampai mana kau bisa mengintimidasi seorang Lady. Meskipun dia adalah seorang yang berbeda, namun tetap saja ada sifat yang menjengkelkan di dalam diri Rula dan hanya Lord Raven yang mampu menanganinya. Semua makhluk immortal tahu bahwa Moongoddes sudah mengubah takdir seorang Raven Vilcentius. Memberi kesempatan padanya untuk bisa memperbaiki alam yang rusak karena keserakahan orang sepertimu!” Peaches bergumam dan kemudian menghilang untuk mengunjungi ke tempat yang seharusnya.
*
“Apa Anda ingin berjalan-jalan di sekitar istana, My Lord?” tanya Colton yang berada di belakang Raven.
Raven hanya memandangi alam sekitar, tidak terlalu banyak yang berubah. Hanya beberapa hutan yang semakin lama semakin rimbun saja.
“Aku ingin meminta pendapatmu Colton, bagaimana jika aku bertegur sapa dengan makhluk immortal lainnya. Aku ingin lihat mimik wajah mereka saat sudah bertemu denganku.”
Colton mengangguk. “Anda hanya perlu terdiam saat mendengar segelintir orang yang masih menaruh dendam pada Anda, My Lord. Tapi seiring bertambahnya waktu sudah banyak yang melupakan kejadian itu, dan mereka sendiri pun memulai kehidupannya masing-masing.”
“Apakah mereka akan mengusirku lagi?” tanya Raven sambil terkekeh.
“Tidak, Anda tidak akan diusir. Masih banyak makhluk yang menaruh harap padamu, dan mereka membenarkan ramalanmu beberapa puluh tahun yang lalu. Terlalu banyak huru-hara yang terjadi di bumi hingga membuat siapa pun saja muak melihatnya. Contohnya seperti mereka kemarin, mereka sangat antusias karena kebangkitanmu.”
Raven tersenyum datar. “Bagaimana dengan Peaches? Apakah sudah ada kabar darinya?”
Colton menggeleng. “Belum ada. Peaches seakan menghilang dari bumi. Tapi yang aku yakini, ia tak mau terlalu sering datang ke istana dan membeberkan semua kejadian yang akan terjadi. Ia juga menutup akses pikiran agar aku tidak bisa memantaunya. Bagaimanapun juga reinkarnasi Lady adalah hal yang sangat ditakuti para pimpinan sekarang. Mereka takut Anda yang akan mengambil alih dunia lagi dan mereka berada di bawahmu, My Lord.”
“Sudah memang seharusnya seperti itu, Colton. Dunia memang harus memiliki satu pemimpin utama, karena kalau tidak semua akan bersaing dengan tidak sehat dan saling menjatuhkan. Tapi untuk sekarang aku tidak mau terfokus pada masalah itu terlebih dahulu. Prioritasku adalah mendapatkan sang Lady dan meyakini kalau dia memang sudah benar-benar lahir.” Raven memainkan tongkatnya di tanah. Membuat rumput yang tadinya layu berubah menjadi segar kembali.
“Apa aku perlu juga mencari sang Lady yang berada di belahan dunia, My Lord?” tanya Colton.
“Tidak perlu. Tapi aku sudah merasakan kehadirannya dan semakin dekat.” Mata Raven mengawang-awang di langit yang berwarna putih. “Kemarin malam aku merasakan sesak di d**a, hingga membuatku nyaris tumbang. Aku seperti layangan putus yang tidak tentu arah. Pikiranku terbesit saat sang Lady sedang bersama dengan pria tampan. Tapi aku tidak tahu itu siapa.”
“Aku seperti melihat gambaran mereka berdua. Maka dari itu aku membuat alam menangis dan juga guntur bersahut-sahutan. Terasa janggal yang ada. Dia seperti dilindungi oleh sesuatu yang kuat, Colton.” Ia mencengkeram tongkatnya. “Aku tidak bisa begini terus. Aku yang harus menemukan sendiri sang Lady.”
“Tapi, Anda belum pulih betul, My Lord,” cemar Colton.
“Beberapa hari lagi tubuhku sudah kembali normal dan tidak menjijikkan lagi.”
“Tap—”
“Rusia, aku yakin jika sang Lady ada di sana.”
What? Sejauh itukah jaraknya? Colton menggeleng tak percaya. “Bukankah petunjuk Moongoddes, dia berada di sekitar Jerman?”
“Kau siapkan saja perlengkapanku, setidaknya aku akan sering bolak-balik untuk melihat Lady. Terutama saat aku akan beradapan dengan manusia lagi.”
Dan kali ini membuat Colton meringis. Lord Raven belum bisa mengendalikan aroma di sekitarnya semenjak tertidur cukup lama, pria itu saja masih terlalu bernafsu untuk meminum darah yang selalu ia sediakan.
“Apa Anda tidak bercanda, My Lord?”
“Kau meragukanku. Apa aku pernah mengatakan hal omong kosong, Colton?” Kalimat itu penuh sekali dengan penekanan. Dan Colton tahu, Raven akan menunjukkan taring bukan hanya pada makhluk immortal melainkan pada manusia juga.