"Apa kau pernah mendengar desas-desus sang raja kegelapan akan hadir? Banyak spekulasi mengatakan bahwa Raven telah bangkit dari tidurnya."
"Kau benar, aku juga sudah mendengar hal itu dari kalangan bangsa vampir. Tapi aku tak tahu bahwa rumor itu sudah menyebar sedemikian cepatnya. Aku rasa Lord Raven akan lebih susah untuk mendamaikan dunia ini."
Obrolan para wanita yang berada di sebuah pasar salah satu pack wilayah werewolf itu membuat pria berjanggut tebal muak. Ia sudah hampir setiap hari mendengar obrolan itu-itu saja. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Tak ada yang bisa menggantikanku sekarang, Raven! Aku wakil dari Moongoddes!
**
Raven sedari tadi terkesiap dan berusaha mengendalikan diri saat berada ditengah-tengah kumpulan para manusia. Pria dan wanita yang sedang saksama mendengarkan seorang pria baya yang melakukan presentasi di depan sana. Dibantu oleh alat yang ia sama sekali tak tahu apa namanya.
Ini adalah hari pertama. Hari pertama yang paling menggoda dirinya saat ia mencium berbagai aroma makanan. Manis, gurih dan menyegarkan dahaga. Bahkan ia juga bisa mendengarkan suara tarikan napas yang mereka keluarkan.
"Bagaimana Tuan Vilcentius? Apa kau semakin tertarik bergabung dengan kami?" ucap pria itu dan membuat semua orang yang berada di ruangan ini langsung melihat ke arahnya.
Raven tak menampilkan ekspresi apa pun terkecuali sedikit minat pada gambar diagram batang yang pria itu tampilkan di sana. "Kau mengatakan kita akan mendapatkan keuntungan hampir tiga puluh persen jika memenangkan proyek ini?"
Pria baya itu mendekati Raven dan menepuk bahunya. "Semakin banyak Anda berinvestasi semakin banyak pula laba yang Anda dapatkan, Tuan."
Kau pria muda, dan terlihat banyak uang. Mengapa tidak mencoba menolongku karena diambang kebangkrutan?
Suara itu langsung masuk dalam pikiran Raven dan membuat ia langsung menatap tajam sang pria baya. Ternyata ia dibohongi. Ia akan diperas dan juga di permainkan hingga sampai tak bisa menegakkan dagu lagi.
Dan sekarang ia harus menyalahkan Colton, karena pria berambut cokelat itu malah menjerumuskannya pada mafia beruang.
Aku akan memenggal lehermu, Colton!
Colton yang berada di samping Raven langsung terkejut saat sang raja memperingatinya. Ia langsung menoleh ke arah pria tua itu dan melemparkan kertas di hadapannya.
"Jangan pernah membohongi teman seprofesimu, Tuan Lincoln! Perolehan tiga puluh persen itu adalah hal tidak masuk akal karena perusahaanmu menjadi satu-satunya target utama para pemerintah pajak. Kau memiliki rekor yang buruk terhadap pemerintahan, dan kami tak ingin menanggung semuanya. Jujur saja kami tak berniat menerima penawaran omong kosongmu itu!" ucap Colton yang menjadi juru bicara.
Ruang berdinding biru muda itu langsung terasa panas saat lontaran yang diucapkan calon investor. Mereka semua berbisik-bisik karena terkejut dengan hal apa yang didengarnya.
"Arthem Holding sedang menjadi sasaran pemerintah untuk tahun ini? Aku tak percaya?"
"Apa kita batalkan saja kerja sama ini, Bos?"
"Tuan Raven hanya mengucapkan omong kosong?"
"TIDAK! Anda tidak perlu memfitnahku, Tuan Colton! Dari mana Anda tahu jika aku sedang menjadi target para pemerintahan? Mereka tidak mengirimkan surel atau apa pun terhadapku. Jadi Anda tidak usah mengada-ada!" Pria baya itu berteriak membuat semua orang kembali terdiam.
Raven memutar bola matanya. Ia juga bisa merasakan tatapan para calon investor itu semakin tak yakin dengan sang pria baya.
"Anda sudah mendapatkannya tapi langsung dimasukkan ke dalam kotak sampah," ucap Colton lagi. "Sebenarnya dari awal juga saya dan Tuan Raven tidak terlalu tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan Anda dan mungkin juga perusahaan lain akan berpikiran seperti itu. Semua harus realistis Tuan Lincoln. Jika Anda menawarkan keuntungan yang sebegitu besarnya mungkin hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama Anda seorang penipu dan yang kedua Anda hanya menginginkan para investor membantumu dari keterpurukan."
Lincoln menggeram dan membanting alat kecil yang sedari tadi dipegang. "Tutup mulutmu! Biarkan bosmu yang berbicara. Saya yakin dia memiliki pemikiran yang cerdas dan juga berwawasan luas, tidak sepertimu yang hanya berperan sebagai karyawan rendahan!" ejek Lincoln.
Raven berdiri secara tiba-tiba membuat kursi yang didudukinya langsung menjauh. Dan seketika tanpa bersuara ia merobek kertas dan pergi dari ruangan. Tak peduli lai ia mendengar suara ramai yang berada di ruangan itu.
Meskipun bukan ini inginnya. Prioritas utamanya sekarang adalah berbaur kembali dengan manusia dan melihat bagaimana perkembangan dunia dengan sangat pesat. Ia seolah menjadi manusia paling kuno yang berada di ruangan sedari tadi. Tindakan tadi hanyalah tindakan frontal saja agar pria itu tidak mengambil keuntungan dan mengkambing hitamkan seseorang.
Apakah Anda baru saja membaca pikiran jahatnya, Tuan?
Suara Colton kembali memenuhi pikirannya. Dan ia hanya mengangguk sedikit sebagai tanda jika ia lebih dari sekadar membaca pikiran.
Gerak-geriknya tak baik. Aku juga sedari tadi menatap pria baya itu melakukan hal yang tidak senonoh pada calon investor wanita. Kau seharusnya melihat para wanita yang sangat tidak nyaman dengan keberadaannya. Dan wanita yang berada di sampingnya tadi. Salah satu korban pelecehan seksual yang ia lakukan.
“b******k!”
Umpatan seketika yang Colton luncurkan membuat siapa saja yang mendengar itu sejenak berhenti. Mereka menatap Colton dengan pandangan aneh.
“Aku akan menghubungimu lagi!” Colton menekan tombol earphone yang ia pakai sedari tadi.
Berakting, huh?
Apa yang bisa aku perbuat selain itu, My Lord.
Colton menipiskan bibirnya. Kenapa sejak berada di ruangan rapat ia tak paham akan situasi dan malah mendengarkan omong kosong pria baya yang terlihat meyakinkan itu. Pria itu memang sangat terlihat manipulatif dan juga mengintimidasi semua orang hingga mungkin saja mampu membuat para calon investor menjadi terjebak.
Ia menjadi bangga terhadap kemampuan sang raja, yang bahkan baru melihat seseorang dan mampu membaca situasi yang ada.
My Lord, apa Anda sudah merasakan kehadiran sang Lady?
Belum
Colton membukakan pintu mobil untuk Raven.
“Sedari beberapa hari yang lalu kita sudah menjelajahi berbagai belahan Rusia. Tapi Anda belum juga merasakan kehadirannya.”
Raven memejamkan mata. “Sebenarnya ada satu daerah yang ingin aku kunjungi. Yaitu, hutan Aleshkinsky. Tapi aku tidak yakin akan pergi ke sana.”
“Demi Moongoddes, My Lord! Itu adalah tempat pertama kali Anda menemukan sang Lady saat akan mendapati pelecehan sang perampok. Ya, Anda benar. Mungkin saja sang Lady lahir kembali di tempat asalnya. Dan Moongoddes selalu memudahkan pencarian Anda sebenarnya selama ini.”
“Boleh aku memberitahukan sesuatu padamu, My Lord?” ucap Manuel sang sopir.
“Katakan saja.”
“Hutan Aleshkinsky sudah menjadi bagian daripada wilayah para werewolf. Tidak semua memang, tapi itu mencakup seluruhnya. Anda tidak bisa dengan mudah datang dan pergi.” Manuel memperingatkan. “Para werewolf sudah memegang teguh, tak akan pernah ada vampir yang menginjakkan kaki di sana. Terlarang bagi para vampir walau hanya sekadar melintas.”
“Ya, kau benar, Manuel.” Colton mengangguk. “Sulit bagi kita masuk ke dalam hutan itu.”
“Apakah sebegitunya? Padahal aku yang sering singgah di sana dan menjadikan itu tempat ternyaman kedua setelah Black Forest. Aku juga yang memberikan wewenang terhadap seseorang untuk selalu menjaga tempat itu dari orang-orang yang ingin berbuat keburukan. Ah, aku sampai lupa namanya.” Ia memijat pelipisnya. Ingatannya semakin buruk saja.
“Pria vampir yang bernama Mogonda. Dia yang Anda suruh untuk menjaga wilayah itu,” jawab Colton. “Tapi dia sudah tersingkirkan oleh para werewolf dan lebih memilih menjadi bartender di sudut kota Moscow. Tak jauh dari hutan tersebut sebenarnya.”
“Semenjak Anda tidak ada, para vampir tersingkirkan dan mereka mengutuk kaum kita, My Lord. Nama Anda juga sudah terhapus dari masa lalu dan dikubur dalam-dalam.” Manuel memarkirkan mobilnya saat mereka sudah sampai di tempat penginapan.
“Apa kalian ingin membantuku? Kita akan mengunjungi Mogonda malam ini. Kau tahu dia berada di mana ‘kan, Manuel?” Mata biru Raven menatap Manuel dari kaca spion. Ada kegelisahan yang pria itu tampilkan. Raven tahu.
“Tak perlu khawatir, mereka tak akan pernah bisa menyakiti kita. Bagaimana pun aku adalah pemimpin yang sah. Mereka yang seharusnya tunduk padaku, bukan malah sebaliknya!” tekad Raven.
Colton menganga tak percaya. Sang Raja akhirnya telah kembali. Setelah sekian lama ia menunggu, rasa kegelisahan, kekhawatiran dan juga putus asa yang Lord Raven rasakan akhirnya hilang juga. Pria itu sudah mau menerima lagi tugas yang Sang Dewi berikan.
**
Suara hingar-bingar dan lampu yang temaram mendominasi ruangan ini. Ada berbagai jenis manusia yang datang ke tempat hiburan yang dibuka pada saat malam saja. Ada yang berusia legal dan juga ilegal. Ada juga seorang baya yang masih sangat membutuhkan belaian seorang pasangan dan mereka menemukannya di sini.
Tak jarang juga ditemukan berbagai perkelahian para lelaki karena saling singgung dan mendapatkan wanita incaran yang sama.
Mereka saat ini berada di kelab malam. Bisa dikatakan tempat ini sangat sulit ditemukan dan dijaga ketat oleh aparat berseragam di pintu masuk. Ya, mereka adalah aparat pemerintah yang bertugas di kelab malam yang ilegal. Bagaimana pun juga, kelab malam ilegal ini tak akan pernah bisa di tutup, karena sang pemilik melakukan pembayaran pada oknum pemerintahan.
Ironis memang! Kelab yang sangat dilarang tapi dijaga ketat oleh suruhan sang petinggi.
“Kalian yakin dia bekerja di sini?” Raven melihat bangunan tua berlantai tiga. Dari depannya saja tidak memungkinkan jika ini adalah salah satu kelab malam terbesar di daerah ini. Tapi melihat ada beberapa orang berpakaian seragam itu mampu membuat pikirannya sedikit tergoyahkan.
“Ya, Mogonda ada di dalam. Dia bekerja dan tinggal di sana,” ucap Manuel dan mengambil sesuatu di saku celananya.
“Apa yang kau lakukan Manuel?” tanya Colton.
“Kita tak akan pernah bisa masuk sebelum salah satu dari kita mempunyai kartu anggota kelab. Mereka sangat ketat. Dan tidak mau kecolongan dan mendapatkan penggeledahan dari aparat hukum yang bertugas. Di dalam sana bukan hanya kelab malam biasa tapi ada transaksi besar-besaran yang dilakukan oleh mafia kelas kakap.”
“Tapi lihatlah, mereka adalah aparat hukum juga, ‘kan?” tanya Colton memindai kedua penjaga itu dari atas sampai bawah.
“Ya. Mereka salah satu dari bagiannya. Tapi pemimpin mereka bermuka dua semua, Colton.”
Raven tak mau berbasa-basi, ia melangkah meninggalkan kedua anak buahnya dan lebih memilih masuk ke dalam sana.
“Tunggu, My Lord!” bisik Manuel. “Anda harus berada di belakang saya, maksudnya harus saya dulu yang memberikan kartu identitas ini pada para penjaga agar kita bisa masuk ke dalam.”
“Kenapa begitu?”
Manuel dan Colton saling berpandangan. Jadi selama tadi mereka berbicara panjang lebar namun tak didengarkan olehnya?
“Jika tidak, Anda akan diusir oleh mereka. Saya harus memberikan kepastian dan alasan yang sangat masuk akal.” Manuel menoleh pada Colton untuk meminta bantuan berbicara.
“Ya, apa yang dikatakan Manuel sangat benar, My Lord. Kami hanya ingin yang terbaik untuk misi malam ini, dan biarkan Manuel yang mulai bekerja, kita harus bisa mengandalkan dia.”
Raven menatap para penjaga itu yang juga sudah menaruh curiga pada mereka bertiga. Penjaga botak plontos yang menampilkan wajah seram tapi sangat dibuat-buat menurutnya. “Tapi dia sudah curiga pada kita, Colton.”
“Selamat malam, ada yang ingin kami bantu?” Akhirnya, setelah sekian lama memberikan reaksi yang mencurigakan. Kedua penjaga itu menghampiri dirinya.
“Ah, tidak. Kami hanya ingin masuk.” Manuel memberikan kartu pada salah satu penjaga.
“Kau anggota VVIP?” tanya petugas itu.
“Ya, aku baru membuatnya tadi malam. Maka dari itu kau belum baik mengenalku ... Boas,” ucapnya sambil membaca nama di d**a petugas itu. “Dan ini teman-temanku, mereka juga datang karena ingin menjadi anggota kelab ini.”
Pria yang bernama Boas itu sekali lagi memindai kartu milik Manuel dan menyerahkannya. Ia kemudian melihat Raven dan juga Colton. “Angkat kedua tangan kalian.”
Otomatis, Colton dan juga Manuel mengangkat tangan. Tapi tidak untuk Raven.
My Lord, untuk kali ini kita percayakan pada Manuel, ucap Colton. Mau tak mau Raven akhirnya mengangkat kedua tangannya.
Dan kedua para penjaga itu menggeledah tubuh mereka bertiga.
“Sudah aku pastikan tidak mendapatkan benda tajam di tubuh mereka, Boas.”
“Aku juga.”
Boas dan rekannya mengembalikan kartu itu pada Manuel. “Kalian bisa masuk dan meminta para petugas yang berjaga untuk membuatkan kartu anggota, ini akan memudahkan kalian mendapatkan akses masuk.”
“Terima kasih Boas dan Pedro.” Manuel kembali memasukkan kartu itu di sakunya.
“Manuel,” panggil Boas. “Kau dan kedua temanmu sepertinya harus memastikan diri ke rumah sakit bahwa kalian baik-baik saja. Kalian terlihat pucat dan sepertinya membutuhkan beberapa kantung transfusi darah.”
Raven tak mendengarkan. Ia langsung melangkah ke dalam.
“Untung saja kau tadi memastikan Lord Raven untuk tidak membawa tongkat saktinya. Jika tidak, mungkin saja tongkat itu sudah berpindah alih,” ucap Colton.
Manuel hanya tertawa. “Yang aku takutkan adalah sang raja tak bisa mengendalikan diri.”
Ya, benar saja. Tempat ini sudah terlalu sempit karena banyaknya manusia. Belum lagi aroma alkohol yang menyengat membuat Raven bergidik.
Mata Raven menyusuri setiap sudut ruang. Dan akhirnya menemukan seseorang yang ia cari. Raven melesat dengan cepat, dan untung saja semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak memperhatikan dirinya.
“Mogonda.”
Pria yang berkucir kuda itu tak sengaja memecahkan gelas. Dan membuat orang yang mendengarnya langsung beralih perhatian walau hanya sekejap. Ini pada akhirnya, ia bertemu dengan seseorang yang paling ia hindari.
“M—my Lord!”