43

929 Kata

Dengan kedua mata terpejam, Rissa memijat dua sisi keningnya menggunakan ujung-ujung jari kedua tangannya. Pasal mereka yang bunuh diri, Rissa tidak tahu lagi harus bagaimana. Karena satu-satunya orang yang patut disalahkan dalam hal tersebut tidak ada lagi selain dirinya. “Udah, jangan terlalu dipikirin, Ris,” tutur Tita sambil mengusap lembut punggung Rissa. Tanpa sengaja mendapati sahabatnya yang terus-terusan melamun semenjak kejadian bunuh diri terakhir di kos-kosan itu, membuat Tita tidak bisa meninggalkannya di rumah sendirian sekarang. Atau setidaknya, dia harus menemani Rissa sampai Ara dan Rasa pulang. “Gimana kalau ternyata... yang dibilang Rasa benar?” Pada kalimat pertama yang diucapkannya kali ini, Rissa menatap Tita penuh kekhawatiran. Dahi Tita mengernyit. “Emangnya, Ra

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN