30

914 Kata

Dari kamarnya, Rasa turun untuk menyambangi Ara di dapur. “Kak Rissa belum balik, Ra?” “Belum. Kenapa emang?” sahut Ara yang sedang menata buah di kulkas. Sebelum tak lama ia bertanya, “Kak Rasa mau mangga atau apel?” “Mangga aja.” Rasa menjawab singkat. “Tapi adanya cuma apel.” “Ya terus ngapain kamu pake segala nanya!” “Nggak apa-apalah, nanya nggak haram kan?” tanya Ara tengil, membuat Rasa melirik sinis dan menyuingkan bibirnya. Karena ruang makan tidak bersekat dengan dapur, Rasa pun duduk di salah satu kursi meja makan selama menemani Ara. “Ra, mungkin nggak, sih, orang yang udah ‘nggak ada’ hidup lagi?” “Ya jelaslah. Kata guru agamaku, di padang mahsyar nanti semua yang mati bakal dihidupin lagi,” desis Ara, salah tangkap. Seketika Rasa berdecih, kesal. “Maksudnya nggak gitu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN