NAGITA
Derasnya hujan malam ini seolah menjadi backsound yang pas bagi suasana hatiku. Aku terjatuh ke atas ranjang, disatu sisi Ibu Rima. Lututku lemas, rasa mual memenuhi dadaku. Paru-paruku sesak dipenuhi keterkejutan.
"Panti kita akan ditutup...rumahku akan ditutup..lalu bagaimana dengan Ibu? anak-anak? aku?" tanyaku.
Suaraku serak. Mataku terasa panas, air mataku tumpah. Sedangkan Ibu Rima, si pengelola Panti sudah sejak tadi menangis tersedu disampingku.
Kupeluk erat bahu Ibu Rima, kepalanya bersandar pada dadaku. Bahkan dikondisi terpuruk sekalipun aku masih bisa menghibur orang lain. Tak terbayang kesedihan Ibu angkatku, itu saat ini. Dia telah mengabdikan separuh usianya demi yayasan ini, dan kini si penyandang dana terbesar sekaligus sekaligus pemilik Panti dengan seenak jidatnya mau menggusur kami semua, karena berniat mendirikan apartemen diatas tanah rumah ini. Orang tersebut berpikir, semua yang ada disini adalah lahannya jadi wajar saja kalau dia suatu saat memintanya lagi. Namun mengambil milik anak yatim piatu itu sama artinya dengan mencuri hak orang lain.
Kekejaman tak bisa kubiarkan!
"Tadi Ibu bilang mereka masih mau bernegosiasi?" tanyaku.
Ibu Rima mengangguk, masih terisak.
"Bagus, berikan aku alamatnya Bu. Aku bakal datang menemui langsung mereka dan menuntut keadilan bagi adik-adik serta saudaraku di sini" kataku mantab. Penuh keyakinan.
Ibu Rima menengadahkan kepalanya seketika." Kamu serius Gita?" tanyanya kaget." Tapi dia bukan orang biasa sayang, dia itu William Contramande. Pengusaha sukses yang terkenal berhati dan bertangan besi. Bagaimana kalau setelah bertemu dia kamu malah terluka?"
"Ibu sudah ya, tak usah pikirkan Gita, Gita sudah dewasa, bisa menjaga diri sendiri.Yang penting Ibu terima masalah ini beres. Serahin saja semua sama Gita" kutepuk dadaku sendiri penuh kebanggaan.
Ibu Rima menelan ludah, tangannya terjulur dan memelukku erat." Tuhan baik sekali sama Ibu memberikan anak sehebat kamu disisi Ibu. Ibu bangga sama kamu Nak, juga saudara-saudaramu"
Aku menangis terharu. Mungkin aku memang yatim piatu tapi Tuhan telah memberikanku Orang Tua pengganti seluar biasa Ibu Rima, dan para pengasuh Panti lainnya. Buatku sudah lebih dari cukup. Aku bahagia.
Melepaskan pelukan. Kuhapus air mata yang membasahi pipi Ibu angkatku perlahan." Gita sayang banget sama Ibu dan segenap penghuni panti ini. Ibu boleh minta tolong? Jangan bahas dulu masalah ini sama siapapun, terutama Danang. Ibu tahu sendiri anak itu sering lepas kontrol"
Ibu Rima mengangguk-angguk paham. "Baiklah Ibu berjanji"
Aku tersenyum, mencium pipi kanan Ibu Rima."Sekarang Ibu tidur ya sudah malam. Mulai sekarang masalah dengan yayasan menjadi urusan Gita. Yang penting Ibu jangan sampai sakit, kasihan anak-anak.Mereka masih butuh Ibu. Janji ya Bu"
Aku mengacungkan kelingkingku kedepan wajah Ibu Rima, beliau tertawa dan menyatukan kelingking kami.
"Janji" jawabnya.
Aku berdiri dari dudukku, berjalan meninggalkan kamar Ibu Rima seraya mengucapkan selamat malam dan menutup pintunya dari luar. Tapi setibanya diluar kamar, lututku gemetar hebat, aku nyaris terjatuh. Beruntung tanganku bisa menopang kuat badanku dengan berpegangan pada tembok. Ku usap air mataku memakai punggung tangan, ku ingatkan diri sendiri agar menjadi kuat. Demi panti yang sudah sangat berjasa dalam hidupku ini.