WILLIAM
Dia datang. Dia benar-benar datang!!
Wanita itu. Yang sudah mencuri seluruh jiwa dan hatiku disaat pertama kali aku melihatnya.
Wanita yang telah mengambil seluruh cintaku dan hanya menempatkan padanya.
Wanita yang membuatku berani mengambil langkah permainan ini, dengan hasil akhir adalah dia sebagai milikku paling berharga.
Nagita!
Sewaktu Budhe menelponku semalam dan berkata kalau rencana kami berhasil, bahkan Gita sendiri yang akan datang menemuiku. Gara-gara itu aku sampai tidak bisa tidur semalaman. Budhe juga berpesan padaku supaya tak membuat Gita mencapai ambang batas kesabarannya, sebab jika marah Gita lebih mengerikan dari Profesor Banner ketika berubah menjadi Hulk.
Aku melihat kedatangannya melalui kamera pengawas yang disebarkan diseluruh penjuru rumahku. Dia datang kemari memakai taksi, dan aku nyaris kehabisan nafas akibat lupa caranya menghirup oksigen saat melihatnya hari ini. Sackdress katun merah berlengan pendek tepat dibawah lutut yang dia kenakan membuatnya terlihat luar biasa seksi. Meski sejujurnya dia tak berdandan berlebihan.
Rambutnya terurai berwarna hitam seperti buah zaitun, memantul indah mirip berlian hitam dibawah pancaran terik mentari.
Gita mulai membayar dan aku memberikan instruksi kepada semua petugas keamanan rumah agar mempersiapkannya masuk sebelum Gita sempat bertanya-tanya lagi.
Awan, Asisten pribadi kepercayaanku, langsung turun tangan. Dia yang menjemput Gita didepan gerbang sewaktu gadis itu memasuki halaman depan rumah. Untuk sesaat kulihat ekspresi kagum tergambar diwajah juga matanya.
Mungkin dia sedang mengagumi keindahan arsitektur bangunan rumahku.Kolonial-modern, itu adalah penjelasan paling benar bagi mansion kecil yang sudah ada dan dibangun ulang oleh Kakekku dua generasi lalu.
Aku berdiri dari atas ranjangku, memakai kemeja lengan panjang berwarna ungu tua polos, celana kain hitam dan sepatu fantovel semi warna sama.
Pintu diketuk dari luar, aku menyuruhnya segera masuk dan tahu-tahu wajah sombong Bryan, adik sepupuku sudah muncul di ambang pintu.
" Well, well, coba lihat ini siapa yang bertingkah seperti ABG labil jatuh cinta. Aku tidak menyangka sepupu, ide gilamu bakal benar-benar berhasil. Dan sekarang aku tahu kenapa kamu begitu menggilai perempuan ini "
"Tutup mulutmu yang pintar itu!" geramku kesal dengan rahang terkatup. "Dan, jauhkan matamu darinya kalau kamu masih mau matamu tetap berada di tempatnya" ancamku serius.
Bryan bisa jadi seorang Contramande, dan hubungan kami sangat dekat. Tapi, untuk urusan wanita dia tak pernah pandang bulu.
"Wooo tenanglah sepupu, aku sadar diri oke. Meskipun lucu juga selama ini aku yang selalu menjadi tempat sampah bagi wanita-wanitamu" sindirnya. Lalu tertawa lebar.
Aku mengerang jengkel. Perempuan yang Bryan maksud hanyalah teman tidur satu malam belaka. "Mereka sudah tahu posisi mereka tapi tetap memaksakan kehendaknya padaku. Berpikir bisa mengubahku. Aku juga tak bakal mau bersama mereka jika tingkah nakalmu yang selalu menjebakku" kataku pedas sembari menggulung lengan kemeja hingga kesiku.
Bryan terkekeh lagi. Berjalan mendekatiku, dia menepuk bahu kiriku. " Aku hanya tak tega padamu sepupu. Menahan hasrat yang harusnya disalurkan demi menanti seorang perempuan selama bertahun-tahun" katanya.
"Trims juga sepupu. Tapi, aku tahu hal terbaik buatku"
"Apakah perempuan itu jawabannya?"
"Ya " jawabku tanpa berpikir dua kali." Nagita jawabannya"
Memutar tubuh, aku bersiap meninggalkan ruanganku saat Bryan memanggilku. Aku berhenti di ambang pintu, memandangnya dari balik bahuku.
"Good luck Cous..."
Mengernyitkan dahi, leherku kembali memandang depan, mataku memincing tajam dengan satu sudut bibir terangkat ke atas. "Pasti. Aku sudah menunggu terlalu lama untuk ini" kataku serupa bisikan angin.