*NAGITA*
Aku disambut baik oleh Asisten William Contramande setibanya di depan gerbang masuk rumah Contramande. Atau lebih bisa kupanggil Kastil karena lebih menyerupai itu daripada hunian biasa. Nama Asistennya Awan, pria muda yang tampaknya lebih tua beberapa tahun dariku, berwajah sangat manis dan bertubuh tinggi terbentuk. Rambut hitam pendeknya ditata klimis kebelakang. Dia tersenyum ramah padaku sejak mengenalkan dirinya, memberitahuku kalau tuan besarnya sudah menanti kedatanganku.
Jutaan pertanyaan muncul dibenakku. ' Bagaimana William Contramande bisa
mengetahui niat kedatanganku? Apa mungkin Ibu Rima sudah memberitahunya lebih dulu?'
Tapi hal itu bisa kutanyakan nanti setelah bertemu langsung dengan orangnya.
Awan membimbingku memasuki rumah. Tempat ini serupa kediaman mansion mewah
penggabungan kuno dan modern yang pernah kutonton di film Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijk. Indah serta memukau. Perpaduan gaya mediteranian dan victorian. Jenis rumah yang akan membuatmu dan siapapun kala melihatnya bakal terdiam sejenak untuk mengagguminya.
Halaman depannya berupa tumbuhan rimbun dipenuhi banyak jenis bunga beraneka warna. Kolam di tengah-tengah berbentuk lingkaran dengan hiasan es di sepanjang sisinya yang kutebak bakal bersinar terang dipenuhi cahaya lampu ketika malam.
Kami menaiki undakan tangga batu granit hitam berkilau. Deretan pelayan cantik dan
tampan berjejer rapi menyambut kami. Kulihat selalu ada pada setiap sisi rumah ini berdiri para pria bertubuh kekar memakai baju serba hitam,mereka pastinya Bodyguard William Contramande.
Aku sering menonton berita tentang keluarga Contramande, fakta jika William si putra
sulung dari dua bersaudara sekaligus pewaris tahta perusahaan Contramande Ragging
Intercom, perusahan pengelola, peneliti dan pembuatan senjata resmi di Indonesia.
Katanya mereka adalah keturunan dari keluarga mafia. Meski sekarang usahanya sudah berkembang di bidang perhotelan, kesehatan, asuransi, pendidikan, hingga pabrik produksi makanan serta minuman.
Ayah William dikabarkan keturunan asli Austria-Rusia, Nenek William masih berdarah
bangsawan sementara Kakeknya adalah pemimpin mafia yang berkuasa saat itu.
Sedangkan Ibu William, adalah seorang peranakan, dari putri darah biru, berasal dari keturunan Daerah Istimewa Yogjakarta, Indonesia dan Jerman.
Secara umum, kabar itulah yang beredar di kalangan masyarakat. Sampai Ibu Rima memberitahuku fakta mengejutkan lain tentang keluarga ini.
Tigabelas tahun lalu telah terjadi tragedi berdarah yang menewaskan seluruh anggota keluarga Contramande kecuali William, adik perempuannya Britania, serta sepupu mereka. Kejadian itu berlangsung dikediaman mereka di Rusia. Setelah insinden itu mereka semua bertolak ke Indonesia meminta perlindungan dari anggota keluarga pihak Ibu William.
Dia adalah Bibi William Contramande dan adiknya Britannia. Bibi William sendiri memiliki hubungan baik dengan Ibu Rima. Itulah alasan mengapa saat Bibi William mendirikan panti asuhan, dirinya langsung memasrahkan kepada Ibu Rima untuk mengurusnya.
Sayangnya, beberapa tahun kemudian Bibi para Contramande memilih bertolak ke
luar negeri setelah merasa kondisi cukup aman. Saat itu William muda menerima tambahan tanggung jawab dari Bibinya berupa kepengurusan panti.
Tadinya semua berjalan lancar ,hingga hari ini.
William terkenal bertangan dingin jika sudah berurusan dengan masalah bisnis serta
kepentingan pribadinya. Termasuk, menghancurkan rumah mungil yang menjadi harapan kami. Apa lelaki itu betul-betul tidak peduli dengan nasib anak-anak? Padahal dia sendiri seorang yatim piatu?
Apa karena dia kaya raya?
Sejujurnya ada beberapa hal yang semakin kupikir terasa ganjil sekarang.
Terlebih saat Ibu Rima sudah berusaha bernegosiasi tapi hasilnya nihil, Ibu Rima juga
mengalami kesulitan menghubungi Bibi William.
Itulah alasan kedatanganku kemari hari ini. Meminta hak atas panti kami serta menuntut
keadilan bagi anak-anak yatim piatu yang sudah William janjikan dulu. Atau setidaknya Bibinya.
Tanpa, kusadari aku sudah dibawa oleh Awan hingga ke depan ruangan pintu ganda
bergagang perak penuh hiasan mutiara. Awan berhenti didepanku, menoleh lalu tersenyum
simpul.
"Tidak usah cemas Nona, tuan William tidak akan menggigitmu. Jadi santailah"
Apa aku salah dengar, baru saja Awan mengajakku bercanda.
"Ini adalah ekspresiku saat serius" aku mencoba ketus tapi gagal. Entah kenapa setiap lelaki itu tersenyum, dia mengingatkanku pada aktor korea bernama Woo Do Hwan
Awan bergerak mundur dan mempersilahkanku untuk masuk.
Kakiku serasa terpaku ditempat, isi perutku seperti berputar-putar tak karuan di dalam sana. Tenggorokanku terasa begitu kering begitu juga bibirku,sampai harus menjilati bibir bawah berkali-kali. Telapak tanganku begitu basah, penuh keringat. Mengepalkan tangan erat disamping tubuh. Kupejamkan mata serapat mungkin seraya merapal doa agar diberi ketenangan. Begitu mataku kembali terbuka, tekadku sudah sekuat baja lagi.
Ya.aku bukan perempuan lemah. Aku takkan bisa di intimidasi. Dan aku telah bersumpah
takkan pulang dari tempat ini sebelum membawa kabar baik bagi keluargaku yang tengah
menunggu jawabanku di panti asuhan dengan sangat resah.
Ini adalah tanggung jawabku, beban itu pada pundakku karena ini merupakan pilihanku. Aku sendiri juga benci jika harus kalah. Oleh sebab itu apapun yang terjadi William Contramande harus menepati janjinya.