WILLIAM
*13 TAHUN LALU*
Air....
Di mana-mana
Sesak....
Memenuhi dada...
Aku ingin berteriak..
Aku ingin memberontak...
Segalanya gelap.Semua berat.
Aku terkukung dalam penjara air ini...
Maafkan aku Brittania karena tak bisa menjagamu...
Bryan tolong jangan,salahkan aku lagi atas semua ini...
Dan untukmu gadisku...semoga Tuhan besertamu
#######
Aku tidak mati. Belum.
Aku pingsan selama berhari-hari, nyaris mati karena hiportemia tapi aku selamat.
Masih terekam jelas dalam memoriku. Rumahku diledakkan tepat di hari ulang tahun
perayaan pernikahan Mami dan Papi. Tante Cindy, Om Herald, juga putri semata wayang
mereka si cantik Kania ada disana. Kemudian, teror itu datang.
Kediaman kami diserang, pertahanan kokoh Contramande dihancurkan. Orang-orang
bertopeng hitam membantai semua yang ada tanpa pandang bulu. Papi meninggal dengan
dua peluru menembus kepalanya. Mami pergi setelah mencoba melindungiku dari serangan
pedang tajam.
Kupikir itulah akhir hidupku. Hingga Om Herald, Tante Cindy serta pasukan mereka
datang membawa pertolongan.
Aku, Brittania adikku dan Bryan sepupuku berhasil dibawa kabur melalui jalan rahasia.
Mulanya kupikir semua berjalan lancar hingga salah satu orang Om Gerald berkhianat.
Menembak Om Gerald tepat di d**a.
Tante Cindy sangat tegar, dia membawa kami berempat termasuk putrinya dan
memasukkan kami ke dalam sekoci penyelamatan. Namun hanya masalah waktu hingga bom meledakkan kastilku. Sekociku beserta kami, isinya terlempar, terbawa hingga ke sungai. Tapi sekali lagi Malaikat maut tak bisa merenggut kami begitu saja.
Tante Cindy ternyata bertahan hidup, ia membawaku,adikku, putrinya, serta saudaraku ke Rumah Sakit. Kami berada dirumah sakit cukup lama, begitu kami semua sembuh dan dirasa lebih kuat ia membawa kami ke sebuah rumah peristirahatan.
Hanya selang beberapa waktu setelah kami mulai merasa nyaman dan tenang didalam rumah peristirahatan, kondisi mental adikku, sepupuku dan Kania juga sudah kembali membaik, tiba-tiba Tante Cindy melakukan sesuatu.
Ia mengemasi barang-barangnya dan membeli berbagai macam kebutuhan untuk kami lalu dimasukkan keransel lain. Sesudahnya dia menyuruh kami naik ke atas mobil sewaannya, berkendara semalaman melintasi dua kota dan mempertemukan kami dengan seorang lelaki bernama Alonso. Katanya, dia orang kepercayaan Papi yang akan membawa kami pulang ke Indonesia.
"Ibumu masih ada saudari disana, cari dan temui dia namanya Rima. Alonso, akan menjaga kalian semua" kata Tante Cindy pada kami.
"Tapi, tante hendak kemana?" tanya Bryan.
" Ada sesuatu yang harus kulakukan, memakan waktu cukup lama dan berbahaya. Kalian ttidak bisa ikut denganku, aku tak bisa membahayakan nyawa kalian maupun putriku"
Sambil menangis terisak Tante Cindy memberikan Kania yang amat mungil dan bertubuh
lemah kedalam gendonganku.
" Berjanjilah padaku Willy, jaga baik-baik putriku dan apapun yang terjadi kamu harus melindunginya. Buat dia hidup dan sehat. Bersumpahlah demi
hidupmu"
Aku saat itu hanyalah bocah berumur tigabelas tahun, yang jujur saja menerima terlalu banyak tragedi tapi percaya kehidupan berpihak padaku.
"Aku berjanji dengan darahku Tante Cindy. William Contramande akan menjaga Kania
Larasati Indrapura dengan nyawanya. Ini janji pria sejati" Sumpahku.
Dengan tubuh kaku serta tangan memeluk erat gadis mungil dan cantik yang sedang mendengkur lembut dalam pelukanku.
Tante Cindy mencium puncak kepalaku erat, kemudian mencium lama dahi putrinya
sambil menangis terisak. Wajah cantiknya banjir air mata.
" Aku mencintaimu..Kania putriku"
Lalu berpaling pada Alonso yang segera membungkuk hormat padanya.
Tante Cindy lalu bergegas masuk kedalam mobil, tanpa menoleh lagi kepada kami maupun anaknya dia mulai menyalakan mesin kendaraan dan melajukannya dengan sangat cepat.
Dibawah cahaya merah senja, masih kuingat jelas siluet mobil ford merah itu bergerak meninggalkan kami yang semakin menjauh.
Sekaligus meninggalkan takdir putrinya, Kania, kepadaku.
**********
*MASA KINI*
Pintu di ketuk keras dari luar.
"Masuk" perintahku seraya membalikkan badan, menatap tajam ke arah pintu ganda yang
dibuka dari luar.
Sosok wanita itu masih terekam jelas dalam memoriku kala dulu. Ia yang masih kecil menangis, tertawa, sakit, saat bersamaku dulu.
Dulu, kami melewatkan bersama pertarungan antara hidup dan mati. Perjalanan sangat panjang dari Rusia untuk kembali ke Indonesia.
Aku berhutang banyak pada wanita itu. Karena berusaha menyelamatkan keluargaku ia kehilangan seorang Ayah selamanya dan Ibu yang kini menyembunyikan identitasnya. Karena aku pula, ia harus melewati masa muda lebih berat dari kawan-kawan seumurannya.
Wajah cantiknya yang lembut.Tatapan sepasang mata besar hitamnya, rambut panjang
bergelombang sewarna buah zaitun. Akhirnya, dia berada disini lagi. Didekatku.
Kania Larasati Indrapura.
Atau sekarang lebih dikenal sebagai. Nagita Azmar.