Disebuah rumah besar yang berdiri ditengah-tengah kebun sawit nan luas duduk seorang perempuan berambut panjang tepat diatas balkon kamarnya dengan tangan yang anggun membalik-balikkan halaman novel romansa kesukaannya. Perempuan itu adalah Kirana, perempuan dengan paras cantik yang berhasil memukau hampir seluruh anak laki-laki di sekolah tempat Kirana menuntut ilmu.
Kirana tinggal hanya berdua dengan kakaknya, namun malam ini kakaknya sedang melaksanakan shift malamnya di rumah sakit sebagai seorang dokter, ya, jarak umur Kirana dan Shella cukuplah jauh yaitu 12 tahun.
Di usianya yang saat itu masih menginjak delapan tahun, Kirana terpaksa berpisah dari kedua orang tuanya yang meninggal akibat kecelakaan, dan sejak itu Kirana hanya tinggal bersama Shella.
Shella sangat menyayangi Kirana, sejujurnya ia pun tidak tega membiarkan Kirana tinggal sendirian di rumah saat malam hari, tapi apa yang harus ia perbuat, ia tidak mungkin meminta agar terus diberikan shift jaga dipagi hari. Bukan hanya dia yang tidak suka bekerja malam.
Kirana tersenyum tipis saat membaca chapter di novelnya yang menceritakan tokoh utama laki-laki berusaha keras untuk menahan rasa malunya demi meminta nomor telepon tokoh utama perempuan. Kirana kembali mengingat saat dimana Raja melakukan hal yang sama terhadapnya. Meskipun Kirana belum tau perasaan apa yang dirasakannya pada Raja, ia yakin Raja adalah orang yang baik, ya walaupun anak itu terkenal nakal sih di sekolah.
Perhatian Kirana teralih saat bel rumahnya berbunyi dari lantai bawah, Kirana lantas menutup novelnya dan mulai melangkah menuruni tangga menuju pintu utama. Seperti yang sering di ingatkan Shella, Kirana harus melihat ke layar yang akan menampilkan tamu didepan rumahnya sebelum membuka pintu.
Tangannya menekan tombol berwarna hitam di layar itu, Kirana menatap layar didepannya dengan perasaan bingung. Tidak ada orang disana. Kirana menunggu beberapa menit tapi masih tidak ada orang didepan pintu.
Perempuan itu kembali mematikan layar dan kembali naik ke kamarnya di lantai dua, tangannya mengambil novel yang ada di sofa gantung di balkon. Setelah menutup pintunya rapat-rapat, Kirana melompat ke atas tempat tidurnya untuk kembali membaca novel tersebut.
Tak sampai beberapa saat suara bel rumahnya kembali terdengar, Kirana terdiam diatas tempat tidurnya, perasaannya mulai tidak enak. Perempuan itu dapat merasakan ada hal yang tidak beres sedang terjadi padanya saat ini.
Kirana menatap ke arah jam dinding yang masih menunjukkan jam tujuh malam, tidak mungkin Shella pulang jam segini, biasanya dia akan pulang besok paginya jika sudah ditugaskan untuk berjaga malam di rumah sakit.
“Siapa?” tanya Kirana dengan suara pelan, perasaan takut Kirana bahkan menghalanginya untuk dapat mengeluarkan suara dengan lantang.
Setelah mengumpulkan seluruh keberanian, Kirana beranjak turun dari tempat tidurnya menuju lantai bawah, jarinya kembali menghidupkan layar disamping pintu rumahnya.
Lagi-lagi, tidak ada orang disana.
“Siapa sih! Jangan main-main lah!” sahut Kirana emosi melalu pengeras suara.
Dengan perasaan kesal Kirana kembali mematikan layar itu setelah memastikan lagi tidak ada orang yang terlihat dari layar tersebut.
Saat Kirana hendak menaiki tangga, suara bel itu kembali terdengar. Rasanya ingin sekali Kirana langsung membuka pintu rumahnya dan memaki siapa saja yang sudah bermain-main dengan bel rumah tersebut.
Namun lagi-lagi perkataan Shella terlintas di kepalanya, Kirana memutuskan untuk kembali menghidupkan layar disamping pintu rumah itu.
Kedua kakinya spontan melangkah mundur saat melihat seorang laki-laki berkulit pucat dengan rambut panjang sebahu menatap langsung ke arah layar tersebut sambil tersenyum lebar. Matanya terlihat benar-benar menyeramkan seolah sedang menatap langsung ke mata Kirana.
“Si-siapa?” ucap Kirana ketakutan.
Lelaki itu tidak bergerak sedikitpun, malah senyumannya terlihat semakin melebar seolah senyuman itu akan mengoyak bibirnya sebenatar lagi.
“Pergi sebelum aku telepon polisi!” sahut Kirana sambil menahan tangis.
“Aku tau kau sendirian di rumah ini,” ucap nya dengan suara amat berat.
“Aku sudah memantau mu dari dulu, kau akan menjadi persembahan yang sempurna bagi tuanku,” ucapnya lagi lalu tertawa melengking.
“PERGI!” jerit Kirana sambil mengeluarkan teleponnya. Bukannya menelepon polisi Kirana malah menelepon kontak Raja yang kebetulan berada di list paling atas.
Lelaki itu menunjukkan gergaji mesin ditangannya ke arah kamera lalu mulai menghidupkannya sambil berteriak.
“Halo Rin—“ ucap Raja dari seberang sana yang langsung Karina balas dengan jerit ketakutan.
“Aku akan mengambil jantungmu!” sahut lelaki aneh itu ketika dia berhasil menerobos masuk kedalam rumah Kirana.
“RAJA TOLONG AKU!!!” jerit Karina disaat yang sama pria aneh itu berhasil masuk dan menghantamnya dengan gergaji mesin.
***
“Kenapa kamu panik gitu sih Ray?” tanya Ucok yang sedang membawa mobil disamping Soraya.
“Hah? Iyalah panik! Gimana enggak panik coba, Raja gak pernah loh setakut itu Cok!”
“Iya iya, gak usah marah juga dong, aku kan cuma nanya,”
“Dia berhenti cok,” ujar Soraya sambil menunjukkan layar ponsel Ucok ditangannya.
“Ngapain sih dia ke daerah sawit sawit gi—“
“Ucok awas!” jerit Soraya tiba-tiba saat mereka hampir menabrak seorang pria berambut panjang yang berdiri di tengah-tengah jalan.
“Woi! Jangan berdiri di tengah jalan lah! Mau mati lo?” sahut Ucok emosi lalu menutup kaca mobilnya, samar-samar ia dapat mendengar suara cekikikan dari arah lelaki itu berdiri.
Mungkin orang gila batinnya.
***
“Apa yang harus kita lakukan kalau sudah begini?” ucap Soraya, matanya memandang ke arah mayat Kirana dengan sangat ketakutan.
“Aku akan menelepon polisi,” ujar Raja.
“Jangan!” sahut Ucok tiba-tiba.
“Kita telepon mamak bapak dulu,” ucap Ucok tiba-tiba.
“Kamu gila ya? Terus mayat ini mau kita apain cok?!”
“Aku juga gak tau, tapi kita bisa aja di jadiin tersangka pembunuhan,”
“Gak gak! Kita harus telepon polisi, kita gak akan bisa ngadapin ini sendirian Cok,” ucap Soraya tidak terima.
“Terus kalau dia malah dituduh sebagai tersangkanya gimana?”
“Apasih cok! Bacot lo! Udah Ja, telepon polisi sekarang,” titah Soraya penuh emosi.
Rasa takut menjalari setiap sudut di diri Soraya, ia tidak pernah melihat mayat se-menyeramkan ini. Kirana terbaring dilantai ruang tamunya dengan badan yang terbuka dan jantung yang menghilang dari tempatnya.
“Ray,” panggil Ucok yang berdiri di samping Soraya.
“Hei,” ucapnya lagi ketika menyadari tubuh Soraya yang bergetar ketakutan.
“Sini,” ucap Ucok lalu membawa Soraya kedalam dekapannya agar perempuan itu tidak lagi melihat ke arah mayat Kirana.
“It’s okay, ada aku disini,”
“Polisi akan datang sebentar lagi,” ujar Raja dengan wajah lemas. Bagaimana tidak, satu-satunya perempuan yang bisa membuatnya merasakan cinta sekarang sudah terbaring tak bernyawa dibawah sana.
“Kau ada megang mayat itu tadi?” tanya Ucok seraya mengelus rambut Soraya. Raja menggeleng lemas.
“Aku akan membunuh siapapun yang telah melakukan ini ke Kirana,” gumam Raja penuh emosi.
“Sudah telepon mama papa?” tanya Ucok lagi, Raja mengangguk.
Tak lama kemudian terdengar suara sirine mobil polisi yang semakin mendekat. Raja langsung menghampiri mobil polisi itu saat mereka sampai ke depan teras rumah Kirana. Beberapa orang turun dari dalam mobil tersebut untuk mengecek keadaan Kirana, mereka menunggu cukup lama sampai seorang pria bertubuh besar menghampiri mereka.
“Ini kasus kedua yang terjadi di daerah ini, sepertinya memang ada orang gila yang tinggal didekat sini,” ucap pria itu.
“Rumah ini akan segera ditutup untuk kepentingan penyelidikan, sebaiknya kalian tidak kemari beberapa waktu, kami akan menghubungi kalian jika ada kabar selanjutnya,” ucap sang polisi.
Berbeda dengan Soraya dan Raja yang langsung mengangguk patuh, Ucok malah merasa ada yang aneh dari perkataan polisi ini, ia merasa pria tersebut menanggapi masalah ini terlalu enteng.
Tapi karena melihat kondisi Soraya yang ketakutan, mau tidak mau Ucok pun ikut menganggukan kepala nya. “Ayo pulang,” ucap Ucok pada Soraya. Perempuan itu mengangguk dan ikut masuk ke dalam mobil Ucok.
“Kau mau kemana lagi ini?” tanya Ucok pada adik nya saat ia melihat Raja menaiki motor besar miliknya.
“Pergi,”
“Kemana?”
“Entah, kemana mana lah,”
“Gak ada itu, pulang kau pulang,” ujar Ucok di ikuti emosi. Ia tau kalau saat ini Raja sedang tidak stabil, akan berbahaya jika dia berada diluaran sana sendirian.
“Kau kira bisa aku tidur kalau udah kaya gini?” balas Raja tak kalah galaknya.
“Raja,” ucap Soraya pelan.
“Aku gak kemana mana kok kak, paling aku di rumah Panji aja nanti, aman.”
“Aku antar sampai sana,”
“Terus motorku kaya mana?”
“Ya udah bawa aja, aku ikutin dari belakang,”
“Terserah,” balas Raja lalu mulai menjalankan mobilnya.
“Masuk Ray,” ucap Ucok sambil membukakan pintu untuk sahabatnya.
Soraya mengangguk lalu masuk kedalam mobil, dengan kecepatan tinggi Ucok berusaha menyamai laju motor Raja, adiknya itu memang selalu mengendarai motornya dengan cepat, untung saja dia sudah sangat mahir dalam berkendara jadi Ucok tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan Ucok saat adiknya itu pergi jauh sendirian.
Kecuali saat dia sedang tidak stabil seperti sekarang.
Dengan kuat Ucok menekan klakson mobilnya, memberikan kode pada Raja agar mengurangi kecepatannya. Raja mendengus kesal dengan tetesan air mata yang membasahi pipi pemuda itu.
Raja memutuskan untuk mengurangi kecepatan motornya hingga mereka sampai ke rumah Panji. Ucok melihat ke arah jam di layar teleponnya, sudah pukul satu pagi dan Soraya masih saja melamun disampingnya.
“Kamu gak lapar?” tanya Ucok kehabisan bahan bicara.
Soraya menggeleng, mana mungkin dia memiliki selera makan setelah melihat kejadian tadi.
“Kita pulang aja ya Cok,”
“Ke rumah mu?” tanya Ucok, lagi lagi Soraya menggeleng.
“Ke rumah mu aja, aku takut ibu khawatir kalau ngeliat aku yang kaya gini,”
“Kamu masih takut?”
“Menurut lo?”
“Ya kan biasanya kamu lebih berani daripada aku,”
Setelah mengatakan itu tidak ada lagi balasan dari Soraya, perempuan itu pun akhirnya tertidur seraya Ucok mengendarai mobilnya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, dengan lembut Ucok mengangkat tubuh Soraya menuju kamarnya. Ia merasa kasihan melihat wajah Soraya yang sudah terlelap di atas tempat tidurnya. Seharusnya tadi dia saja yang pergi menemui Raja, Soraya pasti sangat terpukul melihat kejadian menyeramkan tadi.
“Maaf ya Ray,” ucap Ucok tiba-tiba yang dapat didengar oleh Soraya.
“Kenapa minta maaf?” tanya Soraya dengan mata yang masih terpejam.
“Lah masih bangun kau? Enak kali kau ya ku gendong sampe atas sini,”
“Hahaha, makasih ya Cok,”
“Kamu kenapa minta maaf? Emang kamu salah apa?”
“Gak kenapa-kenapa sih, ya udah aku tidur di kamar Raja ya, tidur lah kau, udah malam juga,” ujar Ucok sambil berjalan menuju pintu kamarnya.
“Cok,” panggil Soraya tepat sebelum Ucok membuka pintu tersebut.
“Aku takut, kamu tidur disini aja ya? Lagipula kita kan gak ngapa-ngapai, aku juga gak mau ngapa-ngapain sama kamu,” ucap Soraya gugup.
“Hahaha, aku tidur lasak Ray, ku tunjang-tunjang kau nanti,”
“Gak papa, yang penting aku gak tidur sendirian, boleh ya?”
“Ya udah,” ujar Ucok sambil mengangguk lalu naik kesamping Soraya di tempat tidur.
Mereka terdiam cukup lama, meskipun tidak ada sedikitpun pikiran kotor Ucok terhadap Soraya namun tetap saja seranjang dengan seorang perempuan membuatnya gelisah.
“Ray,” panggil Ucok namun diabaikan oleh Soraya.
“Yang udah tidurnya kau?” tanya Ucok lagi memastikan.
“Belum,” balas Soraya.
“Gak bisa tidur aku,” sambungnya
“Sama,” balas Ucok.
“Karena ketakutan?” tanya Soraya.
“Karena kau disampingku,”
“Dih,”
“Kau gak takut ku apa apain Ray?” tanya Ucok seraya membalikkan badannya menghadap Soraya.
“Enggak, aku percaya samamu Cok,”
“Kok bisa?”
“Karena kau kek gay ku tengok,”
“Hah?!”
“Iya, kau kan gak pernah tertarik sama perempuan, udah lah Cok, kalau memang gay jujur aja, aku gak akan ni—“
“Muncungmu itu ya Raya! Bagus kau tidur daripada berantam kita,”
“Hahaha, iya gimana, orang gak bisa tidur,”
“Pejamkan matamu,”
“Udah daritadi loh Ucok!” geram Soraya kesal.
Ucok mengangkat tangannya, spontan Soraya langsung menutup matanya karena takut di pukul.
“Apaan sih Ray? Kau kira aku betulan mau mukul kau ya?” tanya Ucok seraya mengelus rambut Soraya dengan lembut.
“Ngapain elus elus?” tanya Soraya kebingungan.
“Kan di sekolah kau sering minta aku ngelus rambutmu biar kau tidur. Tidur lah,” jawab Ucok sambil memejamkan matanya.
Soraya tersenyum tipis, memang cuma Ucok dan Ibu yang paling mengenal Soraya. Entah kenapa mau setakut apapun dirinya, Soraya akan selalu merasa tenang jika ada Ucok disampingnya.
Perempuan itu merasa sangat bersyukur karena memiliki sahabat sepengertian Ucok disampingnya.
“Tidur Raya, jangan senyum-senyum gitu, aku tau aku ganteng,”
“Kau belum tidur aja udah mimpi Cok,” balas Soraya kesal membuat Ucok terkekeh pelan.
“Enak ya kaya gini, udah kek suami istri,”
“JIJIK!”
“Ya udah aku keluar ya, mampus kau ketakutan lah kau sendiri disini,” ucap Ucok sambil menatap wajah Soraya.
Perempuan itu membuka matanya dan melihat ke arah Ucok dengan manik mata ketakutan.
“Iya iya, becanda loh Ray, ku temaninya kau disini sampai pagi pun gak tidur aku buat jagai kau!”
“Betul?”
“Betul!”
“Janji?”
“Janji! Banyak kali ceritamu Soraya, tidur lah kau,” Soraya mengangguk membalas perkataan Ucok dan tak lama kemudian pun ia akhirnya terlelap.
Sampai saat ini bagi Ucok, memang hanya Soraya lah perempuan (selain ibunya) yang sangat berarti di hidupnya. Apapun yang terjadi Ucok berjanji akan selalu menjaga Soraya sebaik mungkin agar tidak ada satupun hal yang menyakiti perempuan ini.