“Bu, ambilin tas sekolah Rena dong,” ucap Saleh sambil menyuapkan sesendok nasi untuk sarapan anak-anaknya sebelum berangkat ke sekolah.
“Bentar ya mas, siap pakein seragam Roni, Putih kesana,” sahut Putih dari dalam kamar.
“Iya sayang,”
“Ayah,” panggil Aliyah yang sedang mengunyah sarapannya di depan Saleh.
“Iya nak?”
“Aliyah mau diantar ayah ke sekolah,”
“Tapi kan ayah juga harus ke sekolah ayah, Aliyah gak apa ayah antar naik motor butut?”
“Gak apa ayah, yang penting ayah yang antar Aliyah ke sekolah,” ucap Aliyah tidak peduli.
Keluarganya memang memiliki harta kekayaan yang melimpah, bagaimana tidak, Saleh merupakan seorang pengusaha sukses yang berhasil membangun sebuah perusahaan mabel yang tersebar hampir ke seluruh Asia.
Saat ini ketiga anaknya sengaja Saleh sekolahkan disebuah sekolah elit dengan penjagaan ketat, mau bagaimana pun juga, Aliyah, Rena, dan Roni merupakan target empuk bagi musuh Saleh untuk bisa menghancurkan Saleh.
“Ayah kenapa sibuk kerja jadi tukang bersih bersih sekolah sih? Kan ayah udah punya kerjaan yang lebih baik, kenapa harus kerja yang sulit?”
“Ada yang sedang ingin ayah cari tau nak, kalau Aliyah sudah besar nanti akan ayah beritahu,”
“Aliyah sudah besar ayah, lagipula kan ayah pernah bilang sama Aliyah gak boleh nyembunyiin apapun dari ayah, ayah juga gak boleh dong main rahasiaan sama Aliyah,”
“Aliyah, kamu gak boleh marah-marahin ayah begitu,”
“Abis Aliyah kesel bu! Ayah gak adil, masa ayah boleh nyembunyiin rahasia sama Aliyah, tapi Aliyah gak boleh nyembunyiin rahasia sama ayah?”
“Ya sudah, pulang Aliyah sekolah ayah ceritain semuanya nanti ya,” ucap Saleh pasrah, anak perempuannya yang satu ini memang benar-benar mencerminkan dirinya sendiri.
Tak jarang mereka berdua berdebat seperti ini, bahkan di mata Putih, Aliyah adalah satu-satunya orang dirumah ini yang mampu melawan ataupun membantah Saleh. Putih sendiri pun tidak mampu menghadapi suami nya itu dikala keras kepalanya kambuh.
“Sudah siap? Ayo berangkat ke sekolah,”
“Ayah yang antar Aliyah kan ?”
“Iya sayang, ayok,”
“Terus Rena sama Roni diantar siapa yah?”
“Kalian ibu aja yang antar ya,” ucap Putih menjawab pertanyaan Rena.
“Oke ibu!”
Mereka pun akhirnya berangkat mengantar anak-anak menuju sekolah lalu pergi lagi menuju tujuan mereka masing-masing.
Seperti biasanya Saleh sampai di sekolah disaat bangunan tersebut masih sepi, belum banyak murid ataupun guru yang hadir disini. Sebenarnya Saleh datang sepagi ini bukan karena ia takut terlambat, tapi karena ada ritual wajib yang harus dia lakukan dalam satu tahun ini.
Saleh melangkahkan kakinya menunju gudang yang berada di ujung lorong, sambil mengucapkan doa, Saleh membuka pintu tersebut dan langsung disambut dengan hawa dingin yang seolah menusuk kulitnya.
“Punten kak Jasmine, aku Saleh, aku datang lagi hari ini mau bicara dengan kakak,” ucap Saleh mengakibatkan suasana didalam ruangan tersebut terasa semakin mencekam.
Saleh meletakkan sepiring sajen diatas sebuah meja dengan foto Jasmine yang terletak disana.
“Saleh harap kakak tidak berulah lagi seperti tahun lalu,” ucap Saleh lagi lalu keluar dari gudang tersebut.
Dari kejauhan Saleh melihat dua orang murid baru yang beberapa hari lalu hampir menjadi korban murka Jasmine.
“Pagi mang,” ucap Ucok dan Soraya bersamaan, ekspresi wajah mereka terlihat berbeda dibandingkan biasanya.
Meski sudah lewat tiga hari yang lalu, Soraya dan Ucok masih sering memimpikan jenazah Kirana yang terbaring mengenaskan di lantai rumahnya. Sampai saat ini pun masih belum ada kabar perkembangan dari kepolisian.
Jika dibandingkan dengan Raja, perasaan kacau yang dirasakan oleh Ucok dan Soraya bukan lah apa-apa. setiap malam Raja tidak pernah sekalipun berhenti memikirkan Kirana, seandainya dia datang lebih cepat lagi, pasti dia bisa menolong Kirana.
Saleh mengangguk dengan ekspresi datar, setelah mengunci pintu gudang, Saleh pun berlalu menuju taman sekolah untuk menyapu dedaunan kering disana.
“Gimana kabar Raja?” tanya Soraya pada Ucok.
“Masih murung, setelah pulang dari rumah Panji, dia gak pernah keluar dari kamarnya,”
“Mama papa mu udah pulang?”
“Mereka pulang malam ini kok, mungkin setelah berbicara dengan mama dia akan membaik,”
“Amin,”
“Kok bisa sih orang cacat kaya kau masuk ke sekolah ini?” terdengar suara dari kamar mandi perempuan yang terletak tak jauh dari tempat Ucok dan Soraya berdiri.
“Kamu denger kan Cok?” tanya Soraya, Ucok pun mengangguk.
“Udah lah Ray, bukan urusan kita. Gak usah ikut campur,” ucap Uco setelah mengetahui sikap over penasaran Soraya kumat lagi.
“Aku mau ngecek Cok, nih. Kamu bawain tas ku ke kelas ya,” dengan cepat Soraya memberikan tas sandangnya kepada Ucok lalu berjalan menuju kamar mandi perempuan tempat suara itu berasal.
“Raya!” tegur Ucok sambil menahan tangan Soraya agar tidak pergi.
“Kamu udah tau peraturan gaib di sekolah ini kan?”
“Apa?”
“Kalau kamu bantuin anak yang dibully di sekolah ini, kamu pasti jadi target bullyan selanjutnya,” geram Ucok, kenapa sih Soraya selalu saja mau tau dan mau ikut campur dengan urusan-urusan yang merepotkan seperti ini?
“Tapi Cok kalo—“
“Kita masih murid baru disini Soraya, aku juga gak punya kekuasaan apa-apa disekolah ini, kalau kamu sampai di apa-apain aku gak bakalan bisa ngelindungin kamu,”
“Yang mau kamu lindungin juga siapa sih Cok!” Soraya menghempaskan genggaman tangan Ucok lalu menatapnya tajam.
“Aku juga gak mau kau kenapa kenapa Raya!” bentak Ucok emosi, dirinya sudah cukup stres memikirkan permasalahan Raja, melihat tingkah Soraya yang sangat keras kepala ini membuat Ucok tidak mampu lagi menahan emosinya.
Pertengkaran mereka terhenti saat melihat tiga siswi dengan penampilan yang sangat cantik keluar dari kamar mandi tersebut.
Mereka menatap Soraya dan Ucok dengan tatapan sinis, detik itu juga Soraya sudah menandai wajah ketiga ratu SMA Negeri 2 itu didalam kepalanya. Ia akan terus mengingat wajah wajah itu sampai Soraya berhasil membalaskan kejahatan mereka.
“Aku mau masuk ke kamar mandi itu, aku mau ngecek keadaan dia,”
“Ya udah, mau aku temenin gak?”
“Kamu mau di amuk anak anak cewe karena masuk ke toilet cewe?”
“Hahaha enggak sih, aku tunggu di kelas aja ya?”
“Oke,” ujar Soraya sembari menganggukkan kepalanya. Kakinya mulai melangkah memasuki toilet perempuan dengan keadaan yang sudah berantakan dan sangat gelap disana.
Terdengar suara senggukan perempuan yang sedang menangis di bilik yang paling ujung. Tanpa Soraya sadar sesosok makhluk yang begitu tinggi sedang memandanginya didalam kegelapan.
“Halo, ada orang?” tanya Soraya sambil mencoba mencari saklar lampu toilet ini.
Untuk sekolah sekelas SMA Negeri 2 yang terkenal dengan kekayaan murid-murid didalamnya wajar saja sekolah ini memiliki toilet yang hampir mirip dengan toilet umum di bioskop.
“Anjrit lah! Dimana sih saklarnya,” Soraya lantas memutuskan untuk langsung mengecek kedalam setiap bilik untuk menemukan korban bullyan dari tiga perempuan tadi.
Perlahan Soraya membuka bilik pertama, entah kenapa perasaan nya terasa tidak enak, suasana ruanganpun terasa semakin dingin dan mencekam. Soraya dapat merasakan ada sesuatu atau seseorang yang sedang memandangi nya dari belakang.
Dia di bilik ujung
Sontak bulu kuduk Soraya merinding seluruhnya, entah suara siapa yang didengarnya barusan, namun suara itu terdengar sangat parau dan seperti penuh dengan kesedihan.
Bukannya kabur keluar, Soraya langsung beranjak menuju bilik yang paling ujung, dan benar saja ia bisa melihat kaki seorang perempuan yang sedang duduk diatas toilet kamar mandi, perlahan tangannya membuka pintu tersebut lalu melihat perempuan itu sedang berada didalam bilik sambil menatapnya dengan tatapan kosong.
“Kak, kakak gak papa?” tanya Soraya ketakutan.
Tiba-tiba saja perempuan itu tersenyum lebar dan mulai bangkit berdiri. Matanya terlihat menghitam dan benar-benar menyeramkan.
“Kak—“
“Kenapa kamu tidak mendatangi ku lagi Soraya? Aku membutuhkanmu untuk membalaskan dendamku,” ucapnya dengan suara yang sama seperti suara misterius yang barusan didengar Soraya tadi.
“Siapa kamu! Pergi!” seluruh tubuh Soraya bergetar dengan hebat, ia benar-benar merasa ketakutan saat ini.
Matanya mulai terbuka sedikit dan tepat disaat itu juga perempuan itu mendekati wajahnya tepat didepan wajah Soraya sambil berteriak dengan sangat kencang.
Seolah tidak mampu mengontrol tubuhnya, mulut Soraya bergerak dengan sendirinya kemudian makhluk menyeramkan itu mulai memasukkan tangannya kedalam mulut Soraya.
Sebisa mungkin Soraya berusaha untuk memberontak agar tangan itu tidak masuk kedalam tenggorokannya, namun sebelum Soraya berhasil bergerak, tiba-tiba ternggorokannya terasa panas, tak sampai disitu saja semakin perempuan itu tersenyum Soraya pun semakin menderita dengan tubuh yang seperti di bakar hidup hidup.
“Ray—“ samar-samar Soraya dapat mendengar suara Ucok yang memanggilnya entah dari mana.
UCOK BANTUIN AKU!!
***
Baru saja Ucok meletakkan tas milik Soraya tepat di sampingnya sesaat kemudian seorang perempuan dengan rambut dan seragam yang basah masuk ke dalam kelas sambil mengusap air matanya.
“Kenapa kau?” tanya Ucok dengan suara selembut mungkin namun tetap saja terdengar kasar di telinga perempuan itu.
“Umm.. engg—enggak aku gak kenapa-kenapa,” jawab Salsa semakin ketakutan.
“Aku gak marahin kau kok, memang gaya bicaraku yang kek gini kalau ngomong ke orang lain,”
“Oh, iya.”
“Kau pake seragam dulu ya baru mandi? Kok basah semua ku tengok bajumu ini?” tanya Ucok benar-benar penasaran.
“Eh? Enggak, anu—itu—“
“Anu, itu, anu, itu, kau kenapa? Kau darimana sampai bisa sebasah ini,”
“Aku terpeleset di kamar mandi,” ucapnya bohong.
“Masuk ke bak kau?” cibir Ucok menyadari kebohongan Salsa. Perempuan itu terdiam cukup lama lalu mengangguk pasrah.
“Iya,” balas Salsa membuat Ucok tertawa geli.
“Kau tadi di bully kan?”
“Eh? Kok?”
“Kok tau???” ujar Ucok dengan nada mengejek, matanya memandangi Salsa dari atas ke bawah dengan sinis.
“Kok mau kau di bully? Lawan lah! Ya kali kau harus nunggu orang buat bela kau kaya sekarang,”
“Bela aku?”
“Iya, Soraya mana? Tadi dia masuk ke dalam toilet buat jumpain kau kan?”
“Soraya siapa? Aku anak baru disini, baru pindah ke kota ini juga, aku gak kenal siapapun—“
“Tadi bukannya Soraya masuk ke dalam kamar mandi?” tanya Ucok bingung.
“Gak ada siapa-siapa di kamar mandi selain aku,”
Setelah mendengar pernyataan Salsa, Ucok langsung berlari kembali ke toilet perempuan tempat Salsa di bully sebelumnya.
Matanya membelalak saat dirinya menemukan Sorya terbaring di lantai dengan mulut menganga dan tubuh yang kejang-kejang tak karuan.
“Ray!” jerit Ucok lalu masuk ke dalam toilet tersebut.
“Astagfirullah!” sahut mang Saleh yang penasaran setelah mendengar keributan dari toilet tersebut.
“Jasmine hentikan,” gumam mang Saleh sambil menyentuh kepala Soraya dengan kedua tangannya.
Soraya berteriak dengan sangat kencang seperti tubuhnya sedang di siksa habis-habisan. Ucok dapat melihat urat-urat yang timbul dibalik kulit putih Soraya, matanya terus memandangi Soraya dengan rasa takut di dalam benaknya. Pemuda itu terus bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi pada sahabatnya ini.
“Pergi dari hadapan ku Saleh!” jerit Soraya dengan suara teramat berat dan sangat berbeda dengan suara asli Soraya.
Ucok melihat mang Saleh yang masih terus menggumamkan doa dari mulutnya, kedua tangannya tetap menyentuh kepala Soraya, berharap besar agar Jasmine tidak mengambil jiwa perempuan malang ini.
“PERGI!!” jeritnya Soraya semakin kencang, kemudian terdengar suara tangisan yang keluar dari mulut Soraya.
“Ray—“ sahut Ucok terpotong karena mang Saleh tiba-tiba menatap Ucok dengan tajam.
“Jangan berbicara dengannya,”
“Ucok!” sahut Soraya dengan wajah ketakutan, sejujurnya ingin sekali Ucok membalas panggilan itu, namun lagi-lagi mang Saleh menatap Ucok dengan tajam.
“SALEH!” jerit Soraya dengan suara yang berbeda.
“Keluar dari tubuh anak ini! Jangan ganggu dia Jasmine!”
“Aku tidak peduli! Aku menginginkan anak ini untuk bisa membuatku hidup kembali!”
Mang Saleh terus menerus menekan kepala Soraya sambil membacakan doa, sampai akhirnya Soraya berteriak sekuat tenaga lalu kehilangan kesadaran. Mang Saleh terduudk ditempatnya sambil menhirup nafas panjang.
“Ray,” panggil Ucok dengan suara yang bergetar ketakutan.
“Raya bangun,”
“Ayo bawa dia ke UKS,” ucap Mang Saleh seraya menyelipkan tangannya di lutut dan pangkal leher Soraya, bermaksud untuk menggendong siswi baru sekolah ini.
“Biar saya aja yang gendong mang,” ucap Ucok berusaha untuk tetap sopan, padahal sebenarnya ia tidak mau Soraya merasa kesakitan lagi karena bersentuhan dengan Mang Saleh.
“Bisa?” tanya Mang Saleh, Ucok mengangguk.
“Ya sudah bawa lah,” ujar Mang Saleh lalu berjalan mendahului Ucok.
Dalam benaknya Mang Saleh terus menerus memikirkan seribu alasan kenapa Jasmine sangat menyukai anak perempuan ini, kalau Jasmine benar-benar menginginkan jiwanya, dia pasti sudah membawa Soraya ke alam baka sebelum Saleh berhasil datang melihat keadaan Soraya.
“Apa yang kau rencanakan Min?” gumam Saleh tanpa didengar oleh siapapun.
Ucok membaringkan Soraya ke atas tempat tidur, matanya terus menatap Saleh dengan penuh kecurigaan, lelaki itu menyadari ada yang tidak beres dengan petugas kebersihan di sekolahnya yang ini.
Selama ini Ucok kerap memperhatikan gerak-gerik Saleh, ia juga sering mendapati Saleh masuk ke dalam gudang sendirian sambil membawa sesuatu.
“Apa yang bapak lakukan pada Soraya?” tanya Ucok dengan nada dingin.
“Kenapa marah begitu? Bukan aku yang membuatnya kesakitan, justru aku menyelamatkannya,”
“Apa maksud bapak? Dia masih tenang-tenang saja sebelum bapak menyentuhnya,”
“Hah.” Saleh menghela nafasnya, akan memakan waktu yang banyak jika dia menceritakan segala hal tentang Jasmine dan sekolah ini.
“Bel sudah berbunyi, sana masuk ke kelasmu,” ucap Mang Saleh mengabaikan raut wajah penuh rasa penasaran milik Ucok.
“Aku akan menemani Soraya disini,” balas Ucok khawatir Soraya akan kesurupan lagi.
Saleh melihat ke arah pergelangan tangannya, terdapat gelang kain pemberian Putih disana. Setelah cukup lama berpikir, Saleh melepaskan gelang itu lalu memberikannya ke Ucok.
“Kalau dia sudah bangun dan ketakutan, langsung pakaikan gelang itu ditangannya,”
“Jangan tanya apa yang dia lihat selama kalian di sekolah ini,” ucap Mang Saleh lagi lalu beranjak pergi sambil bergumam suatu kalimat yang tidak dapat didengar oleh Ucok.
“Teman mu itu benar-benar dalam bahaya.”