Ucok melihat ke arah jam dinding, sudah jam lima sore tapi Soraya masih belum juga sadar dari tidurnya, pikiran untuk membawa Soraya ke rumah sakit kerap berputar-putar di kepalanya, namun saat melihat wajah Soraya yang terlihat begitu tenang, Ucok enggan untuk menganggu tidur perempuan itu.
Karena merasa bosan, Ucok pun mengambil ponselnya untuk menanyakan kondisi Raja saat ini. Beberapa hari ini adiknya itu terlihat berbeda dari biasanya. Raja terlihat lebih dingin dan serius dibanding dulu. Tidak henti-hentinya adiknya itu mencari tau siapa sebenarnya orang yang membunuh Kirana.
Sebelumnya Ucok memang tidak peduli dengan identitas asli sang pembunuh itu, namun setelah tau adiknya memiliki hubungan lebih dari sekedar teman dengan perempuan bernama Kirana itu, membuat Ucok jadi berpikir bagaimana jika suatu saat dia akan mengalami hal yang sama seperti Raja.
Bagaimana jika mayat yang tergeletak di lantai kemaren bukan lah mayat Kirana, melainkan mayat Soraya.
Tubuh Ucok dikejutkan ketika melihat Soraya yang sudah terbangun dengan mata yang terbuka lebar seperti ingin keluar menatap ke arahnya.
“RAYA!” teriak Ucok ketakutan.
“Heh! Kau kenapa?!” sahut Ucok lagi saat Soraya tak henti melotot kearahnya
Seketika tatapan menyeramkan itu berubah menjadi tatapan yang biasa Ucok lihat dimata Soraya.
“Ucok, aku dimana?” tanya Soraya sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
Ucok menarik nafasnya panjang, berusaha menghilangkan rasa takutnya sebelum menjawab pertanyaan Soraya.
“UKS,” jawabnya singkat.
“Kenapa disini? COK!” teriak Soraya tiba-tiba saat melihat seseorang dengan wajah yang membusuk berdiri di belakang Ucok.
“Kenapa Ray?” tanya Ucok ikutan panik.
“Itu,” ujar Soraya sambil menunjuk ke arah makhluk halus didepannya.
“Apa itu? Gak ada apa apa loh Soraya,”
“Aku gak mau disini, aku mau pulang,” ucap Soraya sambil menangis ketakutan,
Sontak Ucok kembali mengingat gelang kain pemberian Mang Saleh tadi pagi, tangan Ucok dengan tergesa-gesa merogoh saku celananya, setelah berhasil mendapatkan gelang itu, Ucok langsung memakaikannya ke pergelangan tangan kanan Soraya.
“Apa ini Cok?” ucap Soraya dengan mata yang masih terpejam, ia tidak mau membuka matanya karena takut.
“Coba buka matamu,”
“Gak mau! Nanti aku ngeliat hantu itu lagi,”
“Dia udah pergi,” ujar Ucok.
“Beneran?”
“Iya, percaya lah sama ku,”
“Hmm, awas ya kalau kamu bohong,”
“Iya, kau bisa tunjangi aku kalau aku memang bohong,” ucap Ucok lagi meyakinkan Sorya.
Sebenarnya dirinya sendiri pun tidak tau apa fungsi dari gelang itu, tapi saat mengingat pesan Mang Saleh untuk memakaikannya ke tangan Soraya saat dia ketakutan membuat Ucok yakin, gelang ini memiliki fungsi antara dua hal. Menjaga Soraya, atau menutup mata batinnya.
Soraya membuka matanya, dan benar saya, makhluk menyeramkan tadi sudah tidak ada lagi di depan mereka.
“Makasih ya Ucok, tapi kok gelang yang kamu kasih butek gini sih? Gak ada yang lebih bagus apa?”
“Udah kau pake aja, sangan sampe dilepas kapan pun dan dimanapun,”
“Terus kalau aku mau mandi?”
“Pake terus,”
“Dih gak mau aku!”
“Jangan melawan Soraya, kalau aku bilang pakai, ya pakai aja,” ujar Ucok emosi melihat tingkah keras kepala Soraya.
Sepertinya sahabatnya itu tidak mengingat kejadian di kamar mandi yang sebelumnya dia alami. Ucok memutuskan untuk tidak mengingatkan Soraya tentang kejadian itu, pasti dia akan sangat ketakutan jika kembali mengingat saat dimana ia hampir mati karena kekuatan makhluk halus.
“Iya iya, aku pake terus deh, kok kamu jadi galak gini sih Cok? Takut aku,”
“Aku gak mau kamu kenapa kenapa,”
Sekali lagi Ucok kembali melihat gelang kain itu, kenapa Mang Saleh memiliki gelang seperti ini, dan kenapa dia memakainya ke sekolah? Pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan tentang sekolah ini. Terkhususnya tentang hantu yang tadi pagi merasuki Soraya.
Ucok harus segera mencari tau tentang hal itu. Ia tidak mau nyawa Soraya terancam apalagi sampai kehilangan Soraya seperti Raja kehilangan Karina.
“Kenapa masih disekolah? Pulang sana,” ujar Mang Saleh yang tiba-tiba berdiri di depan pintu.
“Mang,” tegur Soraya sopan, Ucok ikut tersenyum lalu mengangguk. Tangannya denga lembut membawa Soraya turun dari tempat tidur menuju parkiran.
Ucok semakin tidak nyaman karena Mang Saleh terus saja mengikuti mereka menuju parkiran di luar sekolah tanpa bersuara sedikitpun. Padahal masih banyak anak-anak yang mengikuti ekstrakulikuler disini, kenapa hanya Ucok dan Soraya yang disuruh pulang.
“Pulang Mang,” ucap Ucok lalu menjalankan motornya, seharusnya dia dimarahi karena ketahuan membawa kendaraan, tapi Mang Saleh bersikap seolah tidak peduli dan membiarkan Ucok dan Soraya pulang dengan aman.
***
“Woi Raja!” sahut Panji dari teras rumah besar milik Raja, matanya menatap kearah balkon kamar Raja melihat kearah sahabatnya yang sedang merokok disana.
“JAK! Kau merokok?!” jerit Panji dari bawah sana, ia tau Raja adalah anak bandel dan suka nongkrong kesana kemari, tapi tidak pernah Panji melihat Raja se-depresi ini dan menghabiskan waktunya dengan menghisap puntung rokok itu.
“Raja!”
“Apasih! Berisik kali kau!” bentak Raja penuh emosi.
Saat ini pikiran Raja benar-benar kacau, mendengar suara Panji yang terus menerus memanggilnya tentu membuat Raja semakin emosi.
“Aku mau naik! Bukakan pintu,” balas Panji tidak merasa takut sedikitpun, ia tau bagaimana keadaan Raja saat ini, dibentak seperti itu pun masih sebagian kecil dari luapan emosi Raja.
“Buka sendiri, gak di kunci itu,”
“Oh iya?”
Panji langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Raja dan naik ke lantai dua menuju kamar temannya itu.
“Anjir,” ucapnya spontan setelah melihat kondisi kamar Raja yang penuh dengan kertas-kertas koran dan puntung rokok.
“Ini kamar atau tempat sampah?” ucap Panji seraya bergerak untuk membereskan koran-koran yang terletak di atas tempat tidur Raja.
“Jangan sentuh koran-koran itu!” sahut Raja sontak menghentikan kegiatan Panji.
“Kenapa?”
“Itu semua kasus yang sama dengan kasus Kirana,”
“Sebanyak ini?!”
“Ya, semua orang itu hilang tanpa ada jejak,”
“Lah jadi kok sama kau bilang? Kirana kan dibunuh,”
“Tanpa sepengetahuan aku, pihak kepolisian memasukkan kasus Kirana kedalam kasus orang hilang, terus mama dan papa juga tidak mau menyelidiki kasus ini,”
“Kenapa gitu?”
“Aku juga gak tau, tapi aku yakin orang yang ada dibalik kasus ini bukanlah orang sembarangan,”
“Pejabat gitu?”
“Entahlah aku juga gak tau,”
“Ja, kita masih anak SMP, gak mungkin kita bisa ngelawan kasus ini, udah kau ikhlasin aja kematian Kirana, bukan urusan—“
“DIAM!!” jerit Raja sambil memukul dinding sangat keras hingga tangannya berdarah.
“Aku tau kau sayang kali sama Kirana Ja, tapi kasus ini memang terlalu besar untuk kita. Bahkan orang tuamu juga angkat tangan kan sama kasus ini?”
“Aku gak mau Kirana mati gitu aja Pan,”
“Aku tau, pasti sakit banget liat perempuan yang kau sayang tewas mengenaskan kaya gitu, tapi mau gimana lagi Ja, kita gak bisa berbuat apa-apa, kita masih SMP, siapa yang mau percaya sama bualan anak SMP,”
“Aku gak akan berhenti Pan, kalau hukum di negara ini gak bisa ngatasin pelaku yang membunuh Kirana, aku sendiri yang akan menghukum orang itu,”
“Mau kau apain? Mau kau bunuh?” tanya Panji sambil menatap wajah Raja lekat lekat.
Raja hanya terdiam disana, ia memutuskan untuk tidak mengucapkan niatnya di depan Panji, namun Panji sudah sangat mengenal sifat Raja, dia sadar kalau raut wajah yang ditampilkan Raja adalah raut wajah yang penuh dengan hasrat membunuh.
“Raja, sadar, kau gak bisa pertaruhin masa depan kau hanya demi seorang perempuan,”
“Kau liat sendiri lah Pan! Bukan cuma Kirana yang jadi korban kasus ini!” sahut Raja emosi.
“Ya udah lah Ja! Bukan tanggung jawab kau buat nyelidikin semua kasus ini,”
“Gimana kalau adekmu jadi korban selanjutnya? Gimana kalau pulang-pulang dari rumah kau malah ngeliat adekmu udah mati tergeletak di lantai?”
Panji terdiam cukup lama, sejenak ia merasa takut karena kalimat yang terlontar dari mulut Raja. Tapi tetap saja, apa yang bisa dia lakukan? Tidak ada yang bisa dilakukan oleh anak-anak SMP seperti mereka.
Bagi Panji, mereka hanyalah anak-anak kecil yang sudah bergaul terlalu jauh.
“Udah, sekarang kau buang rokokmu ini, terus mandi. Siap itu kita pergi ke rumah Kirana, jumpain kakaknya,”
“Ke rumah Kirana? Aku masih gak berani kesana,”
“Katanya mau nyari tau soal pembunuh Kirana. Aku tau kita masih anak-anak, apapun yang kita lakuin pasti tidak akan membuahkan hasil apa-apa,”
“Tapi sebagai sahabat yang peduli sama kau, aku bakalan bantu kau buat ngebongkar kejanggalan kasus kematian Kirana,” ujar Panji sambil tersenyum.
Untuk pertama kalinya Raja merasa sedikit tenang karena ada Panji yang bersedia untuk menemaninya mencari tau tentang kasus kematian Kirana, sejujurnya selama ini Raja selalu berharap agar papa, mama, dan abang abangnya mau membantunya dalam memecahkan kasus ini.
Tapi yang ia dapatkan hanyalah penolakan dari mama dan papanya, serta sifat acuh tak acuh dari abang-abangnya, terutama abangnya yang pertama. Togar terlalu sibuk untuk mengurus ladang sawit keluarga mereka, sedangkan Ucok terlalu sibuk mengurus Soraya.
Raja pun sebenarnya tidak mengerti dengan Ucok, abangnya itu selalu mengatakan kalau dia tidak suka dengan Soraya, tapi bahkan disaat seperti ini pun Ucok tetap mengutamakan Soraya dibandingkan dengan dirinya.
“Abang anjing!” sahut Raja tiba-tiba dari dalam kamar mandi.
“Woi Jak!” balas Panji sambil tertawa.
Tangannya dengan telaten membereskan koran-koran di tempat tidur Raja lalu menyapu lantai kamarnya yang penuh dengan rokok, seharusnya Ucok sudah pulang dari sejam yang lalu tapi entah kenapa sampai sekarang laki-laki itu belum terlihat batang hidungnya.
“Kok kau bereskan?! Kan dah ku bilang gak usah bereskan tadi,”
“Gak penting koran-koranmu ini, bentar lagi bang Ucok pulang, kalau tau dia kau merokok sebanyak ini, mati lah kau,”
“Udah gak peduli lagi aku sama si Ucok b*****t itu,”
“Gak peduli gak peduli, takut juga nya kau sama dia,”
“Mati anjing lah dia sana, suruh aja dia ngurus istrinya itu terus,” ujar Raja emosi sambil memakai kausnya.
“Siapa yang mati anjing?” tanya Ucok yang tiba-tiba membuka pintu kamar Raja.
“Kau,” balas Raja dengan suara lantang.
“Kok gak ada sopanmu lagi ku tengok?”
“Kenapa aku harus sopan samamu? Kan kau sendiri yang gak peduli sama ku lagi,”
“Gak peduli gimana?”
“Kenapa kau gak peduli sama kasus kematian Kirana? Setiap hari kau selalu memikirkan kondisi kak Soraya. Gak cuma dia yang trauma karena ngeliat mayat Kirana! Aku ngerasain pukulan yang lebih sakit dibanding kalian! Tapi kalian sama sekali gak ada yang peduli sama ku,”
“Mama dan papa juga entah kenapa angkat tangan sama kasus ini, bang Togar gak peduli sama kita semua, yang dia peduliin cuma ladang sawit. Satu satunya orang yang paling ku harapkan buat ada disampingku ngedukung aku itu cuma kau bang. Tapi kau sendiri juga gak peduli sama ku,”
“Buat apa kau gali lagi kasus ini?” ujar Ucok santai, dia sendiri pun bingung dengan tingkah gak sabaran adiknya ini. Sedangkan kedua orang tua mereka saja tidak mau mengambil kasus ini. Bagaimana bisa mereka memecahkan kasus ini.
“Kau yang gak tau infonya kan! Kirana masuk ke daftar orang hilang! Bukan masuk ke daftar korban pembunuhan. Jelas jelas malam itu jenazah Kirana ada di rumahnya, gimana pula jadi kasus orang hilang!”
“Hilang?” tanya Ucok baru tau.
“Iya,”
“Kenapa bisa masuk ke kasus orang hilang?” gumam Ucok mulai kecewa.
Sebenarnya ia pun sempat heran kenapa kedua orang tua mereka tidak mau ikut campur dengan kasus ini. Biasanya mereka selalu bersemangat untuk menegakkan keadilan terutama untuk kasus pembunuhan, sebisa mungkin dia akan membantu agar tersangka dapat dihukum seberat-beratnya, namun kenapa mereka mundur saat kasus Kirana mencuat ke permukaan.
Padahal Raja sendiri yang memohon agar mereka dapat membantu. Seharusnya mereka akan dengan senang hati membantu anaknya, tapi pada kenyataan nya mereka malah menolak.
Ucok dapat mencium sesuatu yang tidak beres disini. Apakah dia harus membantu Raja untuk menguak kasus ini?
Tapi bagaimana dengan Soraya, Ucok dapat merasakan kalau ada sesuatu yang buruk yang akan menimpa sahabatnya itu, apakah menyelidiki kasus perempuan lain yang tidak ia kenal pantas menggantikan tanggung jawabnya untuk melindungi Soraya?
“Bang,” panggil Raja.
“Apa?”
“Cuma abang yang bisa aku harapin buat ngebantu aku bang, dari semuanya, cuma abang yang paling peduli samaku,” ucap raja dengan tatapan sendu dimatanya.
“Bang, aku lebih dekat loh sama kau dibanding kak Soraya,”
“Iya tapi Karinanya kan enggak,” balas Ucok lagi sarkas.
“Serius lah kau bang, dah gak kaya manusia kau ku tengok,”
“Hm, ya udah aku bantuin, sekarang apa rencanamu?”
Raja tersenyum lebar setelah mendengar jawaban yang paling ia tunggu tunggu keluar dari mulut abangnya, akhirnya dia tidak sendirian lagi, dengan adanya Ucok mendampinginya, Raja yakin semuanya pasti akan berjalan dengan lancar.
Sebenarnya Ucok pun tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk menguak kebusukan polisi terhadap kasus kematian Kirana, namun dirinya menjadi tidak tega untuk menolak setelah melihat adik laki-lakinya itu menepuk sekali tangannya dengan semangat lalu mulai menceritakan rencana yang selama ini ada di kepalanya.
“Oke jadi gini..”