Putih
Online
Kak, ini Rena
Aliyah
Online
Rena? Kok hp ibu bisa
sama adek?
Putih
Online
Iya kak, Rena sembunyiin
handphone ibu, mau main game
“Adek, gak boleh nyuri handphone ibu,”
Rena tersenyum saat mendengar suara kakaknya yang berasal dari depan pintu kamar. Setelah meletakkan handphone milik putih di atas tempat tidurnya, perlahan gadis kecil itu menurunkan kakinya dari tempat tidur dan beranjak menuju pintu kamar.
Aliyah
Online
Adek, jangan dibuka pintunya!
P
P
P
P
Itu bukan kakak!
Rena membukakan pintu untuk sang kakak, ekspresi wajahnya berubah 180o menjadi sangat ketakutan.
Dengan tubuh yang bergetar hebat Rena menatap wajah Putih lekat-lekat. Padahal sebelumnya yang ia dengar adalah suara Aliyah, kenapa sekarang yang ada di depannya adalah Putih? Tau gini lebih baik dia berpura-pura tidur saja di kamar.
Sama dengan Rena, Putih menatap mata anaknya itu dengan raut wajah yang ketakutan, kalau saja ia telat datang, kejadian yang sama seperti yang menimpa Aliyah dulu pasti akan terjadi lagi.
Spontan Putih langsung memeluk putri kecilnya, tak jarang juga ia menciumi pipi Rena secara bertubi-tubi.
“Untung saja ada ibu,” ucap Aliyah yang berdiri dibelakang mereka.
“Kamu hari ini temanin Rena bobo ya kak,” ujar Putih dan dibalas Aliyah dengan anggukan patuh. Tangan Aliyah menggenggam tangan mungil milik Rena lalu masuk ke dalam kamar adik kembarnya, disana ia dapat melihat Roni masih terlelap diatas tempat tidurnya.
“Untung ponsel ibu Rena letakkan di atas tempat tidur kak, kalau gak pasti ibu udah marahin Rena tadi,”
“Ponselnya biar kak Aliyah aja ya yang pegang, Rena harus tidur, sekarang sudah jam dua belas malam loh,”
“Tapi kan Rena mau push rank malam ini kak,”
“Push rank apaan sih Ren, kamu udah kaya Roni deh,”
“Dih Roni mainannya alay kak, Rena mah ngga,”
“Udah, kamu tidur aja ya, besok pagi aja push ranknya lagi pula besok kan libur,”
“Tapi ibu gak suka kalau Rena main game,”
“Bukan gak suka Rena, kamunya aja yang kalau udah main game, gak tau waktu,”
“Hm, mulai deh kakak cerewet kaya ayah,”
“Tidur Rena,” ucap Aliyah. Matanya terus menatap ke arah pintu lemari kamar yang sedikit terbuka, rasanya seperti ada sesuatu yang memantau mereka dari dalam sana.
“Kakak jangan liatin lemari,” gumam Roni.
“Kamu belum tidur Ron?”
“Aku sedang berusaha,” terdengar suara Roni yang bergetar ketakutan.
“Aku terus memejamkan mataku, kalau tidak aku akan melihat mereka semua,”
“Apa maksudnya Roni?”
“Mereka semua mengincar Rena kak,”
“Mengincar Rena untuk apa?”
“Tumbal untuk kakek,”
“Kakek? Kamu bicara apa sih Ron?” ucap Aliyah mulai ketakutan.
Tumbal apa yang Roni maksud, terus siapa kakek mereka? Setau Aliyah, mereka sudah tidak memiliki keluarga lain selain ibu dan ayah mereka, bahkan sepupu saja mereka pun tidak punya.
Yang Aliyah ingat dari cerita Putih, kakek mereka sudah meninggal bahkan sebelum ibunya itu lahir ke dunia ini.
“Kakak jangan banyak tanya, udah kakak tidur aja, aku akan semakin di tekan kalau mereka tau aku masih bangun,”
“Kamu ditekan gimana Roni? Kakak panggilin ibu ya?”
“Gak usah kak, Roni bisa ngadapin ini sendirian, kalian tidur aja,”
“Mereka bisikin apa Ron?” tanya Rena seolah paham dengan apa yang sedang Roni rasakan.
“Mereka bilang mereka ingin membawamu pergi dari kita Ren,” ucap Roni sambil menahan tangis.
“Ssstt kalian ngomongin apasih, gak akan ada yang bisa ambil adik-adik kakak selama kak Aliyah ada disamping kalian,”
Rena dan Roni mengangguk sambil tersenyum, walaupun sebenarnya Roni tidak yakin kalau Aliyah bisa melawan mereka semua sendirian demi melindungi Rena dan Roni.
Putih berjalan memasuki ruangan yang selama ini selalu ia kunci dari anak-anaknya, tempat itu adalah tempat dimana Putih dan Saleh melakukan ritual untuk melindungi anak-anak mereka, terkhususnya Aliyah.
Sambil meletakkan sebuah nampan yang berisi ayam hitam legam beserta buah-buahan, Putih menunduk sopan seolah didepannya ada seseorang yang sangat ia hormati.
“Malam yang mulia,” ucap Putih sambil tersenyum tipis.
***
“Good morning every body!!!” sahut Soraya begitu semangat sambil menggebrak pintu kelasnya.
Tak terasa sudah dua bulan Soraya bersekolah di sekolah angker ini, entah kenapa sejak saat dirinya kerasukan di kamar mandi kemaren tidak ada lagi kejadian mistis yang terjadi di sekolah ini.
Dan hal itu tentu membuat Soraya merasa bosan.
“Apa cerita?” tanya Soraya pada Ucok yang sedang duduk bersama teman-teman mereka yang lainnya.
“Ada cerita seru nih dari si Fitri,”
“Apaan? Cowok mu selingkuh?” tanya Soraya kurang ajar.
“Eh mulut!”
“Gue ada cerita horor nih soal tetangga gue, mau denger gak?” ucap Fitri dengan logat khas Jakartanya.
“Apaan?” tanya Soraya antusias, perempuan itu selalu saja tertarik jika membahas hal-hal yang berbau mistis.
“Jadi di deket rumah gue itu ada gedung yang udah gak kepake gitu,”
“Katanya dulu, sebelum perumahan gue di bangun, gedung itu bekas rumah sakit anak-anak belanda, terus disana ada suster gila yang ngebakar semua ruangan di rumah sakit itu karena anaknya gak selamat waktu di operasi,”
“Serius?”
“Iya sumpah, terus, entah kenapa gedung itu gak bisa di hancurin, setiap mau ngancurin gedung itu pasti mesin mesin yang di pake langsung rusak,”
“Terus terus?” tanya Soraya penasaran.
“Ya santai aja mulut kau Ray, sampai nganga gitu bah!”
“Seru nih Cok! Kamu diam dulu,”
“Lanjut Fit,” ujar Ucok pada Fitri.
“Terus kan guys, jadi ada satu rumah yang gak pernah laku karena jendela rumahnya berhadapan sama jendela gedung itu. Pernah sih ada yang beli rumah itu karena memang rumah itu murah,” lanjut Fitri.
“Tapi pemiliknya pergi terus ngejual rumah itu lagi, padahal dia baru tinggal disitu selama seminggu,”
“Kenapa?” tanya salah satu teman Soraya yang bergabung disana,”
“Katanya dia selalu di ganggu setiap malam, terus dia sering liat perempuan cantik lalu lalang di gedung itu,”
“Lah enak dong tetanggaan sama cewek cantik, lumayan, indahnya pemandangan!” celetuk Ucok yang langsung di hadiahkan tinjuan panas dari Soraya.
“Diam Cok!
“Kasar banget sih kau Ray! Astaga sakit kali ah,”
“Terus terakhir kali dia di rumah itu, dia ngeliat perempuan itu lagi berdiri di depan jendelanya sambil senyum terus kek ada api gitu di tangannya, kaya lagi megang mancis gitu terus di hidupin,”
“HIH! Merinding aku Fit!” sahut Soraya sambil memeluk-meluk tubuhnya.
Ucok melihat ke arah gelang kain yang masih dipakai oleh Soraya, perasaan lega menyelimuti hatinya ketika menyadari bahwa Soraya masih mau menuruti permintaan Ucok.
“Kesitu yok Cok!” ujar Soraya semangat.
“Apa kau bilang? Udah gila kau ya? Gak ada ya Ray! Aku gak mau liat kau kesurupan kaya waktu itu,” ucap Ucok menolak.
“Ayolah Cok, lagi pula kan kejadian itu udah lama. Ya kan Fitri?” ujar Soraya meminta dukungan.
“Iya udah kaya urban legendnya perumahan gitu Ray, gue juga baru tau pas baru pindah kesini,”
“Udah berapa lama?” tanya Soraya
“Um... enam belas tahun yang lalu deh kayanya, itu kejadian bapak bapak yang pindah dari rumah itu ya, kalau kejadian kebakaran itu gue gak tau kapan, pokoknya jauh sebelum perumahan gue di bangun,”
“Tuh kan Cok! Ayolah, udah lama nih kita gak jurit malam, aku sekalian mau coba coba buat konten horor di youtube,”
“Mau jadi vlogger kau?” tanya Ucok, Soraya mengangguk semangat.
“Aduh Soraya, bisa gak kau tuh normal sekali aja, jangan kepoan kaya gini, kalau kau kenapa kenapa, aku juga yang repot nanti,”
“Gak repot loh Cok, kamu tinggal gendong aku kalau aku pingsan terus bawa aku pulang,”
“Bukan gitu loh Ray, aku gak takut kalau kau pingsan, kalau kau sampe mati kesurupan aku mau bilang apa sama ibu?”
“Eleh, bilang aja kamu takut ke gedung itu kan?”
“Enggak lah! Ngapain juga takut sama makhluk halus, derajat kita itu lebih tinggi dibandingkan mereka,” ujar Ucok percaya diri.
“Ya udah ayok, ya kali engga,” ucap Soraya lagi.
“Ray kalo aku sih ayo ayo aja, tapikan,”
“Diam Cok! Pokoknya kita harus kesana dan kamu harus nemani aku,”
Ucok kembali menatap ke arah gelang yang dipakai oleh Soraya, sepertinya gelang tersebut mengandung sesuatu yang dapat melindungi Soraya dari serangan mistis. Setelah Mang Saleh memberikannya Soraya jadi terlihat lebih aman dari sebelumnya tidak ada lagi yang mengganggunya, bahkan Soraya tidak pernah lagi bercerita kalau dia ketindihan, padahal biasanya Soraya selalu ketindihan setiap minggu.
“Ya udah iy—“
“Eh eh! Apaan nih? Gue gak ada bilang kalian bisa ke sana sembarangan!” sahut Fitri memotong pembicaraan Ucok dan Soraya
“Kenapa?” tanya Soraya dengan raut kecewa di wajahnya.
“Katanya ada orang gila yang tinggal di gedung itu,”
“Orang gila? Ya udah emangnya kenapa?”
“Ih orang gila nya tuh kaya mau nyerang orang gitu, kalo ada dia nanti lo di pukulin mau?” tanya Fitri pada Soraya.
“Ya elah, kan ada Ucok sih, kamu gak tau aja kalo Ucok udah berantem gimana seremnya,”
“Ih, tapi kan kalo lawannya orang gila serem juga,”
“Udah, kita pergi bareng aja nanti kalau memang ada orang gilanya ya udah puter balik,”
“Bolos aja yuk? Mumpung masih pagi buta nih, belum ada pak Munir,”
“Udah gila kau Ray, tapi ayokla, aku belum buat PR fisika,”
“Heh! Gila kalian berdua,” sahut Fitri emosi.
“Tapi gas lah!” sambungnya sambil tertawa.
Dua teman mereka yang lain hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran, mereka tidak habis pikir dengan keberanian tiga orang ini melawan pak Munir sang guru BK yang sangat di takuti semua murid di sekolah ini.
“Kalian berdua jangan bilang siapa siapa ya kalau kami cabut,”
“Hm,” balas kedua teman Soraya itu bersamaan.
“Naik mobil aku aja,”
“Kamu bawa mobil?” tanya Soraya.
“Iya motor di bengkel, kemaren mogok waktu dipake Raja nongkrong,” jawab Ucok.
Soraya hanya ber oh ria sambil mengikuti Ucok menuju parkiran di luar sekolah bersama dengan Fitri.
“Lo orang kaya ya Cok?”
“Gara gara kau Ray, semua orang jadi manggil aku Ucok, namaku Hans loh!”
“Hahaha, tapi emang lo cocok di panggil Ucok loh,” balas Fitri.
“Ah udah lah, sukak kelen aja,” ujar Ucok seraya menyetir mobilnya.
“Jawab pertanyaan gue dulu Cok! Gue tau mobil lo ini gak mobil murah,”
“Gak aku yang kaya Fitri, bapak mamakku yang kaya,”
“Ya sama aja sih itu,”
“Emangnya mobil kaleng gini mahal ya?” tanya Soraya.
“Rubicon ini Ray! Lo gak tau? Ngasih Rubicon ke anak kelas 1 SMA udah nandain orang tua si Ucok tajir melintir nih,”
“Dia b**o kalo soal otomotif Fit,”
“Hm, iya iya yang pinter!” balas Soraya dengan tatapan yang mematikan.
“Nanti gue duduk di depan dong Cok, gue penasaran,”
“Bo—“
“GAK BOLEH!” sahut Soraya dengan tegas.
“Tempat ini adalah tahta ku dan mamanya Ucok!”
“Galak banget lo Ray! Kaya pacar lo aja si Ucok, udah ah gue mau di depan nanti!”
“Kasih lah Ray, ah kek anak anak kau ku tengok,”
“Oh jadi sekarang kamu udah move on ke Fitri?”
“Ha kan muncungnya ini, ngeri kali lah,”
“Gak usah kau ngomong! Gak mau aku dengar suaramu,”
“Itu di pertigaan belok kiri Cok,” ucap Fitri dari kursi belakang.
“Siap buk bos!” balas Ucok sengaja menggoda Fitri dan ternyata berhasil membuat Soraya menatapnya sinis.
Tak beberapa lama kemudian mereka berhenti didepan sebuah gedung tua yang terlihat tak terurus dan begitu menyeramkan.
“Masuk nih?” tanya Ucok,
“Gak usah,” ucap Soraya jutek.
“Dih, marah kau?”
“Bukan, gak seru kalau masuk ke tempat kaya gini malam malam,”
“Jangan kumat gila mu Soraya, gak mau aku ngawani kau masuk kesini malam malam,”
“Ayok kita ke rumah Fitri sambil nunggu malam!” sahut Soraya tak memperdulikan perkataan Ucok.
“GAS!!” sahut Fitri semangat.
“Aku duduk depan!” sahutnya lagi lalu berlari masuk ke dalam mobil Ucok mendahului Soraya.
“SUKAKMU LAH!” amuk Soraya dengan logat medan khas Ucok.
Tanpa mereka sadari sesosok perempuan menatap mereka dari dalam gedung tersebut sambil tersenyum lebar.
Dia orang yang tepat untuk ku lepas dari jeratan gedung ini