Tangan Soraya menarik Fitri menuju kelas tepat setelah bel masuk pelajaran pertama berbunyi, mata nya menatap Fitri dengan tajam, ia tidak suka melihat Fitri menyalah kan diri nya sendiri karena permasalahan yang mereka lakukan beberapa waktu yang lalu.
Semua itu murni karena mereka hanya ingin bersenang senang sambil memuas kan rasa penasaran di dalam diri mereka masing masing, tidak ada niatan untuk melukai satu dengan yang lain nya seperti sekarang.
Bahkan Soraya sendiri pun tidak tau hal buruk apa yang sedang di alami nya saat ini, yang ia sadari sekarang adalah perubahan sikap Ucok yang cenderung lebih tegas dan keras pada Soraya, padahal selama ini Ucok tidak pernah berlaku seperti itu terhadap Soraya,
“Kamu gak boleh nyalahin diri kamu sendiri, ini semua bukan salah kamu, lagi pula aku juga tidak kenapa kenapa kok, Ucok nya aja yang heboh tiba tiba jadi protektif begitu,”
Fitri mengangguk kan kepala nya sebentar lalu tersenyum bahagia, perasaan bersalah yang semula nya menyesak kan hati Fitri kini lenyap seketika, akhir nya Fitri bisa memaaf kan dirinya sendiri terhadap segala permasalahan yang terjadi.
“Makasih ya Ray, Cok. Gue seneng banget bisa punya temen se baik kalian,”
“Ya, ya, ya, jangan banyak kali drama kau, ayo masuk itu bu Dewi dah di ujung lorong,” ujar Ucok dengan wajah datar.
Ucok memang belum mencerita kan tentang apapun yang terjadi pada mereka sejak hari itu kepada Soraya. Ia tidak ingin perempuan itu merasa takut atau pun tidak nyaman. Tapi Ucok sendiri pun tidak tau apa yang harus di lakukan nya demi menyelamat kan jiwa Soraya. Pemuda itu tentu tidak akan mungkin membunuh kedua orang tua nya hanya demi membalas kan dendam Annelise.
Pasti akan ada cara lain agar Soraya dapat terlepas dari Annelise tanpa Ucok harus membunuh Ibu dan Ayah nya. Walaupun sejak hari dimana Ucok tau Geri adalah seseorang yang mengabdikan diri nya dalam sebuah sekte sesat untuk menyembah entah siapa pun itu, Ucok masih sangat menyayangi Elisa dan Geri, biar bagaimana pun ia terlahir dan dapat bertumbuh hingga sekarang karena pengorbanan dan kasih sayang yang mereka berikan pada Ucok selama ini.
“Ya udah ayo masuk,” ujar Soraya sambil tersenyum kepada Fitri.
Mata Ucok kembali melihat ke arah tangan Soraya, melihat ke arah gelang yang menggantung di tangan perempuan itu. Selagi gelang tersebut masih ada di tangan nya, Ucok dapat tenang membiar kan Soraya berada jauh di dekat nya.
Soraya menghabis kan waktu nya selama di dalam kelas dengan mencatat tulisan yang terdapat di papan tulis yang ada di depan.
“Udah siap?” tanya Ucok dari kursi belakang Soraya.
“Belum, jangan ganggu,”
“Rajin kali sih kau, gak mau nulis catatan ku sekalian?”
“Gak mau, enak aja kau,”
“Udah lah gak usah nanti ngerepotin kau jadi nya.”
“Terus kenapa minta tadi?”
“Gak bisa lagi?”
“Ngeganggu tau Cok,”
“Gak bisa lagi?”
“Udah lah Ucok!” geram Soraya kesal
Ucok tertawa pelan melihat Soraya yang marah dengan diri nya, rasa nya sudah lama ia tidak mengganggu Soraya seperti ini.
“Kok aku tiba tiba pusing banget ya Cok?”
“Kenapa gitu?”
“Aku juga gak tau, kepala ku juga berat banget,”
“Sini ku urut,” ucap Ucok lalu mulai menekan leher dan pundak Soraya perlahan,
“Ah! Sakit Cok!”
“Aku pelan aja loh,”
“Panas!” ujar Soraya lalu pergi meninggal kan meja nya.
“Mau kemana Ray!”
“Kamar mandi bentar,” jawab Soraya.
“Jangan lepas gelang mu ya!”
Soraya hanya berdeham kencang untuk menjawab perkataan Ucok. Sambil menahan rasa sakit di leher nya, benak nya terus bertanya tanya kenapa Ucok tidak mengizin kan diri nya untuk melepas gelang ini terus menerus.
“Emang nya kenapa kalau ku lepas gelang ini?” gumam Soraya kesal, tangan nya dengan kasar memutus gelang kain tersebut lalu menatap ke arah cermin kamar mandi yang ada di depan nya.
Betapa terkejut nya Soraya saat melihat seragam nya berubah menjadi sebuah gaun putih dengan beberapa noda abu di bagian lengan nya.
Langkah kaki Soraya mundur ke belakang saat melihat pantulan wajah nya tersenyum sendiri pada nya, spontan bayangan itu pun ikut melangkah mundur seperti Soraya. Mata nya menatap ke arah seragam yang masih terpakai rapi membalut tubuh nya.
Matanya kembali menatap ke arah cermin, sudah tidak ada lagi sosok yang mirip seperti nya dengan baju gaun putih tadi.
“Apa itu?” gumam Soraya dengan tubuh yang bergetar ketakutan.
“Soraya,” panggil sesuatu yang tidak kasat mata di belakang nya.
“Cok,” gumam Soraya tidak sadar, perempuan itu memang selalu memanggil nama Ucok ketika diri nya sedang ketakutan seperti saat ini.
“SORAYA!!!”
Tiba tiba saja sesosok perempuan dengan rupa yang menyeram kan muncul tepat di depan wajah Soraya, tubuh Soraya membatu seketika lalu terjatuh ke lantai dan tiba tiba semuanya gelap.
Tanpa Soraya sadari tubuh nya sudah di kuasai lagi oleh Annelise, perempuan itu berjalan menuju sebuah tempat yang memanggil diri nya sedari tadi.
Baru saja tangan nya hendak membuka pintu gudang tersebut Ucok langsung menarik tangan Soraya agar menjauh dari tempat terkutuk itu.
“Mau ngapain kau?” ujar Ucok dengan tatapan tajam, ia sudah tau betul kalau saat ini yang menguasai tubuh Soraya bukan lah diri nya sendiri melain kan Annelise.
“Apa lagi yang kau mau?”
Annelise hanya menatap Ucok sambil tersenyum.
“Aku ingin bertemu dengan seorang perempuan di dalam ruangan ini, apa boleh?”
“Aku tidak mau Soraya kenapa kenapa, kau sudah berjanji untuk tidak melukai Soraya sebelum aku berhasil membunuh kedua orang tua ku,”
“Aku tidak akan melukai nya,”
“Aku tidak peduli, kau harus menepati janji mu Annelise,”
Soraya menghembus kan nafas nya pasrah, dan merelakan jiwa Soraya untuk dapat kembali menguasai diri nya.
“Ray? Bangun Ray,” ujar Ucok spontan menopang tubuh Soraya yang hampir terjatuh.
Melihat tubuh Soraya yang tidak merespon, Ucok pun dengan sigap langsung membawa tubuh Soraya untuk di baring kan ke UKS, mata nya menatap ke arah pergelangan tangan Soraya, sudah tidak ada lagi gelang tersebut disana.
Kenapa sih kau bandal kali sih Ray?
“Kenapa dia?” tanya mang Saleh yang tiba tiba berada di depan pintu UKS, Ucok menatap mang Saleh dengan tatapan penuh harap.
Sejak awal satu satu nya orang yang bisa membantu Ucok adalah mang Saleh, mungkin jika dia meminta tolong pada mang Saleh ia akan bisa menemu kan cara lain untuk menolong Soraya.